Seorang kakek tua yang hidup sendirian melihat anak kecil yang terdampar sakit di jalan, lalu menolong serta membawa pulang anak tersebut ke rumahnya. Anak itu lalu dibesarkan layaknya anaknya sendiri. Sebagai ucapan terimakasih dan rasa syukurnya terhadap si kakek tua, anak kecil itu rela melakukan apa saja demi si kakek. Hingga pada akhirnya, setelah beberapa lama, si kakek itu menderita penyakit yang sangat parah dan langka, yang obatnya hanya ada di tempat yang sangat jauh. Si anak berkata kepada kakek bahwa dia ingin sekali pergi ke sana untuk mengambil tumbuhan yang dapat dijadikan obat itu, karena memang hanya itu satu-satunya cara untuk menolong si kakek. Tapi si kakek berkata sebaliknya bahwa sebaiknya dia di sini, menemani dan menjaga si kakek, karena si kakek memang ngga punya siapa-siapa lagi yang dapat menemaninya. Tapi anak itu tetap bersikukuh ingin menyembuhkan si kakek. Hingga pada akhirnya si kakek harus membiarkan si anak pergi. Lalu setelah agak lama si anak berhasil mendapatkan tumbuhan tersebut. Ia pun pulang dan menyajikan obat tersebut kepada si kakek yang semakin parah kondisinya karena ditinggal beberapa saat lamanya. Namun si kakek mendapati sesuatu yang ganjil. Ternyata si anak salah mendapati tumbuhan obat tersebut. Yang ia bawa pulang justru adalah tumbuhan yang sangat beracun. si anak tidak menyadari kekeliruannya sedangkan si kakek sungguh tidak tega jika harus membuat pengorbanan anak itu menjadi sia-sia. Hingga pada akhirnya si kakek tetap meminum obat tersebut.Dan bisa dipastikan endingnya seperti apa.
Lalu pelajaran apa yang kamu dapat dari cerita di atas?
Hari ini aku diberi pelajaran bahwa terkadang sesuatu yang kita anggap 'kebaikan' itu justru sebenarnya malah membawa petaka bagi orang lain. Bukan karena cara kita yang salah, bukan karena memang disengaja, dan bukan karena kebaikan itu pada dasarnya tidak baik. Mungkin saja karena kita menganggap pemikiran kita selalu benar dan kebaikan itu akan membawa sesuatu yang kita anggap baik untuk orang lain. Tanpa kita sadari bahwa pemikiran kita juga bisa salah.
Untuk yang terjadi hari ini, aku sungguh tidak mengganggap apa yang telah aku lakukan 'itu' adalah sebuah kebaikan. Aku tidak sedang ingin menjadi malaikat penyelamat di situ, yang dengan 'jujurnya' (atau bodohnya) aku telah mengatakan hal yang sebenarnya yang menurutku akan membawa sesuatu yang baik. Tidak begitu. Itu hanya bentuk 'self-defense' ku karena sungguh aku juga tidak bisa berbohong berkata sedang bersama si A padahal sebenarnya bersama si B, dengan kondisi yang seperti itu. Aku terlalu payah bersandiwara. Aku terlalu takut ketahuan bahwa apa yang akan kukatakan pada kenyataannya tidak benar. Baik untukku, tapi ternyata tidak baik untuknya.
Harusnya aku berani mengangkat telepon dan berkata seperti apa yang dia perintahkan. Tapi aku justru melawan, karena hal itu begitu konyol. Kenapa tidak jujur saja, pikirku. Lalu aku diberi dua opsi: angkat dan katakan sesuai yang dia perintahkan atau tidak diangkat sama sekali. Yang terakhir sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai pilihan karena itu bukan jawaban. Hanya akan menambah masalah baru.
Dan aku memilih opsi kedua.
Lalu sama seperti anak kecil di atas, yang pada akhirnya dia tahu bahwa dia memberi obat yang salah yang menyebabkan si kakek meninggal, demikian juga aku yang memilih pilihan yang salah yang menyebabkan aku harus kehilangan............... Ah, lupakan. Penyesalan memang selalu datang belakangan.
Si anak nangis sejadi-jadinya. Aku hanya nangis se 'kalem-kalem'nya.
Aku bingung. Ultimatum yang keluar dari mulutnya benar-benar keluar di saat yang tidak tepat, di saat di mana orang-orang sedunia sedang merayakan apa yang mereka sebut hari kebohongan atau 'April Mop'. Tapi aku sungguh sadar bahwa dia mengucapkan itu dengan sangat serius, dan aku tetap mensugesti diriku bahwa aku sedang dikerjain oleh trik murahan yang biasa orang lain lakukan di momen ini.
Andainya dia tau, aku sangat ingin memperbaiki semuanya. Tapi aku bingung dengan cara seperti apa. Aku sungguh sangat tidak kuasa untuk memutar waktu kembali seperti sedia kala.
Aku janji setelah semuanya selesai aku tidak akan membuat kacau lagi,
Winda Asnita :')

Tidak ada komentar:
Posting Komentar