Hai, perempuan!
Selamat buat perempuan yang baru saja merayakan perhelatan hari khusus perempuan beberapa hari yang lalu. Bagaimana mereka menyebutnya? Perayaan Hari Kartini? Haha. Ya, saya ucapkan selamat 'memperingati hari emansipasi perempuan' buat kalian yang memperingatinya. Berbanggalah karena pemerintah memberi kalian satu hari khusus dan berkesempatan untuk berdandan 'ala perempuan' dengan kebaya atau pakaian nusantara yang dipadu dengan rambut yang disasak menjulang tinggi ke angkasa. Begitu bukan?
Ah, Kartini. Sehebat apa sih dia sehingga hari kelahirannya diperingati oleh perempuan seantero Indonesia Raya? Katanya dia telah ditetapkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964. Tapi sedikitpun saya tidak pernah membaca riwayat hidupnya yang sedang berperang angkat senjata demi mengusir penjajah. Apa yang telah dilakukannya? Mendirikan sekolah untuk kaumnya? Bukankan hal serupa juga pernah dilakukan oleh Dewi Sartika? Yang saya herankan bagaimana mungkin seorang pengeluh yang menuliskan curhatan-curhatannya lewat surat untuk teman Belanda-nya bisa diangkat menjadi pahlawan nasional dan hari lahirnya diabadikan dan dikenang sepanjang jaman? Ya, ironis.
Dalam hal ini saya tidak ingin menghakimi Sang Pelopor Pergerakan Perempuan. Bukan. Kita semua tahu bahwa beliau adalah pribadi yang baik, yang sangat taat kepada orangtuanya bahkan di saat beliau harus dijadikan istri keempat Bupati Rembang saat itu. Beliau tidak berontak ketika harus dipingit di rumah. Beliau juga tidak mempermasalahkan ketika beasiswa bersekolah di Belanda yang sudah ia raih harus dibuang begitu saja karena ia telah menikah. Beliau tidak berjuang membuat perempuan dan laki-laki menjadi sama. Hanya saja perempuan juga berhak atas pendidikan yang layak. Begitu bukan, Ibu Kartini? Ya, tidak ada yang salah dengan Kartini. Beliau orang baik-baik.
Tapi, apapun ceritanya, saya pribadi tidak terlalu antusias untuk mengagung-agungkan Kartini sebagai pendekar kaum perempuan. Nyawanya tidak melayang dan raganya bercucuran darah untuk membela kaum perempuan. Namun, sekeras apapun untuk menolak, saya tidak berhak untuk menggugat beliau atas gelar pahlawan yang disematkan untuknya. Saya hanya bisa berharap semoga perempuan-perempuan penerus Kartini benar-benar sadar akan nilai yang mereka emban sebagai generasi yang harus mampu membawa perubahan yang lebih baik untuk dirinya dan juga bangsanya.
Perempuan (luar) biasa,
Winda.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar