Jumat, 05 April 2013

Tentang lima analogi

Kopi panas yang manis.
Jika dibiarkan, kopi panas yang manis semakin lama suhunya akan berdifusi dengan suhu ruangan. Kopi panas pun semakin lama akan menjadi hangat hingga pada akhirnya dingin, menyamai suhu sekitarnya. Begitu juga emosi. Hanya butuh sesaat untuk reda dan kembali seperti semula. Tentu saja rasanya tidak akan berubah, tetap manis sebagaimana adanya. (Iren)

Pohon.
Satu-satunya makhluk hidup autotrof, yang dapat menyediakan makanan untuk dirinya sendiri. Pohon sangat tidak ingin merepotkan orang lain. Semakin lama semakin bertumbuh. Kokoh. Berusaha tidak goyah walau dihempas angin badai sekalipun. Berusaha untuk tetap di tempat. Dan nanti akan tiba saatnya dedaunan yang rindang itu mampu membawa kesejukan untuk makhluk yang lain. (Tri)

Alun-alun.
Menjadi saksi sukacita orang lain. Bahagia rasanya menjadi tempat di mana para keluarga dapat berkumpul bersama, bermain bersama. Yang sendirian tidak akan merasa sepi. Yang patah hati untuk sementara dapat menyingkirkan rasa sedihnya. Lapangan terbuka terkadang bisa menjadi teman yang baik. (Hap)

Sesuatu yang namanya tidak terdefenisi.
Apa ya? Sangat susah untuk menemukan sebutannya. Tapi terkadang tidak perlu untuk mengetahui kenyataannya seperti apa. Cukup meresapi makna kehadirannya. Untuk hal yang demikian kamu menyebutnya sebagai apa? Susah, kan, mengatakannya. (Ela)

Serigala.
Indra pendengaran yang duapuluh kali lipat dari manusia. Indra penciuman yang seratus kali lebih tajam. Rahang yang sangat kuat. Penglihatan yang juga sangat tajam. Binatang sosial. Hidup berkelompok. Berpasangan seumur hidup hingga salah satunya mati. Sangat setia. (Kamu, yang tidak ingin meninggalkan orang yang kamu sayangi, yang tidak ingin dilampaui oleh siapapun yang kamu benci)

Terimakasih untuk analogi tentang kalian yang boleh kudengar hari ini,
aku,
yang sangat ingin menerangi dunia dengan sinar yang terbatas,
yang akan meleleh dan habis pada masanya,
lilinkecil.

Tidak ada komentar: