Hal pertama.
Aku tidak suka ketika mendapati ada sebungkus rokok yang teronggok di dekat meja belajarku pagi ini. Ya, itu rokok kesayanganmu yang kuambil dari rumahmu beberapa hari yang lalu, sebelum kamu kembali ke kotamu. Aku tahu kamu adalah lelaki yang sangat jantan, yang tidak akan membiarkan wanitamu 'sesak nafas' karena menghirup asap mengerikan itu. Hanya saja terkadang, ya kamu tau sendiri, sifat usilku muncul begitu saja. Itu alasan yang cukup logis daripada aku harus berkata, "Aku peduli sama kamu, Sayang!" atau "Merokok kan lalala lilili lululu." Aku kurang kerjaan kalau harus menjelaskan bahaya merokok itu sama kamu. Kamu jelas jauh lebih tahu tentang itu. Tapi kumohon, bantu aku untuk tidak mengambil bungkus rokokmu dan mengoleksinya di kamarku. Aku tidak suka melihatnya berdiam di istanaku. :)
Hal kedua.
Aku tidak suka ketika aku dikagetkan dengan besar biaya yang harus kubayar untuk ngeprint empat lembar HVS ukuran A4 sejumlah tujuh ribu rupiah. Kamu bisa bayangkan itu? Cuma empat lembar saja semahal itu!? Harusnya tadi aku bisa bersifat sedikit kurang ajar. Harusnya tadi ketika bertanya, "Totalnya berapa, Mba?" dan kemudian dia menjawab, "Tujuh ribu," dengan nada polos aku langsung bilang saja, "Oh, ya sudah, Mba. Mahal." dan kabur meninggalkan tempat itu. Harusnya seperti itu Tapi tidak bisa kulakukan. Aku tidak suka dengan biaya ngeprint di SIC yang begitu mahal.
Hal ketiga.
Aku tidak suka ketika aku terbiasa dilayani oleh orang yang biasanya melayani pembeli di outlet Jus Q-ta harus diganti dengan orang yang baru dan pelayanannya tidak sebaiknya yang biasanya. Mba yang lama tau seleraku bagaimana, buah kesukaanku apa, pakai susu atau tidak, gulanya seberapa banyak. Dia tau. Dia juga cekatan. Mungkin mba yang baru belum terbiasa bekerja di situ. Tapi tetap saja aku tidak suka ketika penjualnya harus ganti. Aku tidak suka ketika aku harus beradaptasi dengan yang baru lagi.
Maafkan ketidaksukaanku,
Winda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar