Aku lagi nangis hebat waktu nulis ini.
Kupikir tidak terlalu banyak orang yang tahu kalau aku punya blog pribadi tempat aku biasa curhat. Aku sama sekali ngga nemuin teman yang bener-bener nyata untuk denger keluhanku saat ini. Mungkin blog bisa jadi sarana yang tepat.
Sedih. Sedikit marah. Rasanya ingin mengobrak-abrik seisi ruangan. Dan aku benar-benar kehabisan cara untuk meluapkan amarah yang kupendam. Aku marah dengan keadaan. Aku benci jadi orang bodoh. Aku capek jadi orang gila yang seharian cuma bisa ngobrol searah dengan dinding kamar. Aku muak dengan kesendirian.
Terkadang aku cuma ingin jadi orang yang dianggap. Bukan karena iba, bukan karena kasihan. Tapi memang karena aku diperlukan. Dan mungkin seorang pun tidak ada yang membutuhkanku.
Semakin lama aku menjalani hari-hari dengan rasa pesimis. Aku sudah kehilangan rasa percaya diriku. Bahkan untuk sekedar mengeluh tentang hari-hariku yang buruk aku sama sekali tidak punya gambaran kepada siapa aku harus bercerita.
Curhat sama mami tentang kondisi yang kualami sekarang tidak akan membantu, malah yang ada masalah akan semakin runyam. Aku pasti akan selalu dikuatirkan, akan selalu ditanyakan, atau mungkin mami akan menangis seperti waktu itu. Seperti waktu pertama kali aku merasa tidak betah berada di tempat yang asing dan merengek meminta pulang. Aku membawa kebiasaanku yang salah ke tempat yang sama sekali tidak kuinginkan untukku berada.
Curhat sama abang rasanya juga sedikit mustahil. Kami hanya selisih setahun dan kupikir dia tidak akan pernah menganggap aku sebagai adik yang harus diayomi. Dia tidak pernah merangkul dan memelukku untuk sekedar bilang jangan sedih dan tetaplah kuat. Dia pasti menganggap aku udah cukup dewasa untuk menghadapi duniaku sendiri. Di samping dia laki-laki, yang tak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi perempuan, dia juga sudah punya dunianya yang harus dia urusi. Dia tidak akan pernah merepotkan dirinya untuk sekedar ingin tahu bagaimana keadaanku dan bagaimana perasaanku.
Dan aku juga tidak punya alasan untuk bercerita dengan sembarangan orang yang tidak terlalu mengenalku. Aku punya beberapa kenalan. Tapi rasanya agak mustahil untuk bercerita karena waktu mereka hanya cukup untuk dihabiskan bersama keluarga mereka, kekasih mereka, teman-teman mereka, dan kesibukan-kesibukan mereka. Tidak ada yang menjadikanku sebagai prioritas.
Hidup bak dikucilkan itu rasanya memang ngga nyaman. Bukan karena tidak punya teman. Tapi karena belum menemukan orang yang sejalan, dan orang yang benar-benar rela melepaskan topengnya demi sebuah pertemanan. Mami sangat mengerti kalau di rumah aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar sendirian, melupakan waktu makan malam, melupakan orang-orang sekitar. Tapi, se-cupu apapun aku, aku sama sekali tidak berkepribadian jahat. Aku tidak pernah berusaha mencari-cari perhatian hanya untuk sekedar mendapatlan pengakuan. Aku tidak suka menusuk dari belakang. Sebisa mungkin aku tidak membicarakan kejelekan seseorang di depan orang lain.
Aku sangat tidak suka dengan seseorang yang datang padaku, lantas mengeluh, sungguh-betapa dia tidak suka dengan temannya karena begini-begini-begini. Aku cuma bisa mendengarkan, dan besoknya aku melihat mereka bergandengan mesra. Bukankah itu munafik, kawan? Maksudku, bukankah sungguh terlalu orang yang dibelakang hanya bisa mengeluh dan menggerutu sedangkan di depan sangat manis menawan?
Aku tidak menyukai itu. Dan aku sendirian.
Aku tidak menyukai itu. Dan aku sendirian.
Aku benci sendirian.
Aku benci ditinggalkan.
Aku benci memendam kepahitan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar