Jadi misalkan saja seperti ini:
Kamu punya teman. Lalu kemudian ia bercerita tentang seseorang yang mungkin tidak ia suka karena suatu hal. Ia pun menuturkan beberapa pandangannya mengenai seseorang tersebut -namakan saja si Anu-. Menurut temanmu si Anu itu begini-begini-begini dengan runtutan sifat, kepribadian, pesona, sikap, dan karakter yang tidak baik menurutnya.
Di lain sisi kamu kenal si Anu. Kenal hanya sekedar kenal, tahu hanya sekedar tahu. Sekedar kenal wajah, sekedar tahu nama, dengan frekuensi bertemu yang tidak terlalu sering. Kamu tidak pernah duduk berdua dengan si Anu untuk sekedar bertukar pikiran, bercerita, atau membahas tentang cuaca. Singkatnya, belum ada alasan bagimu untuk mengenal si Anu lebih dekat.
Kemudian, semakin lama semakin seringlah kamu mendengar curhatan si teman. Semakin lama semakin terbentuk pula pandangan negatif kamu terhadap si Anu. Kamu akhirnya tahu kalau si Anu itu bla-bla-bla-begini-begini-begini-begitu-begitu-begitu. Temanmu bercerita tidak dengan berapi-api. Biasa saja, mungkin hampir sama dengan ketika dia mengeluh tentang hari yang sangat panas. Mengeluh dan bercerocos sesukanya. Tapi, entah bagaimana bisa, kamu menanamkan di otakmu bahwa itu benar. Temanmu tidak mungkin berbohong.
Pada akhirnya, kamu sadari atau tidak, cara kamu memandang si Anu sudah berbeda. Ketika kamu bertemu dengan si Anu, pikiran dan otakmu secara tidak sadar menyuruhmu untuk menjauh. Dia tidak baik, tidak untuk didekati, tidak untuk dijadikan sebagai teman bercerita. Kamu kemudian mulai menyama-nyamakan perkataan temanmu dengan penglihatanmu. Lalu kamu bergumam, "Oh, benar juga, ya!"
Lama-kelamaan kamu seperti "jijik" melihat si Anu. Pantaskah kamu untuk itu?
Di lain sisi, si Anu sama sekali tidak seperti yang temanmu ceritakan selama ini. Pantaskah si Anu mendapatkan kejijikanmu?
Lama-kelamaan kamu seperti "jijik" melihat si Anu. Pantaskah kamu untuk itu?
Di lain sisi, si Anu sama sekali tidak seperti yang temanmu ceritakan selama ini. Pantaskah si Anu mendapatkan kejijikanmu?
Baiklah, kamu punya hak prerogatif untuk mengatur bagaimana cara pandangmu terhadap orang lain. Itu urusanmu. Tapi, bukankah kamu akan menjadi-terlihat-alangkah-sangat-bodoh ketika kamu membenci dengan alasan sesepele itu?
Cobalah sesekali untuk melihat si Anu dari sisi berbeda. Mungkin (sedikit) susah karena pikiranmu telah dipengaruhi dan dibentuk. Tapi bukan berarti tidak ada cara. Misalnya, meluangkan waktu untuk sedikit mengobrol, bertukar pikiran mengenai suatu hal, memperdebatkan kenapa lapisan ozon bisa menipis, dan lain sebagainya. Sebenarnya, kalau kamu sedikit cerdas, kamu akan bisa menilai dengan bijak bagaimana si Anu sebenarnya.
Sebenarnya tidak perlu merasa kasihan dengan si Anu.
Kasihanlah dengan dirimu sendiri.
Cobalah sesekali untuk melihat si Anu dari sisi berbeda. Mungkin (sedikit) susah karena pikiranmu telah dipengaruhi dan dibentuk. Tapi bukan berarti tidak ada cara. Misalnya, meluangkan waktu untuk sedikit mengobrol, bertukar pikiran mengenai suatu hal, memperdebatkan kenapa lapisan ozon bisa menipis, dan lain sebagainya. Sebenarnya, kalau kamu sedikit cerdas, kamu akan bisa menilai dengan bijak bagaimana si Anu sebenarnya.
Sebenarnya tidak perlu merasa kasihan dengan si Anu.
Kasihanlah dengan dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar