Halo!
Hal-hal yang terjadi beberapa hari belakangan ini memang amazing banget.
Yang pertama, hari Senin tanggal 23. Hari itu ada jadwal ujian sebenarnya. Hujan-hujan saya tempuh demi mengikuti ujian. Eh, ternyata, di perjalanan Tuhan mengizinkan saya untuk mengalami suatu 'celaka' di Jalan Kaliurang, 500 meter dari kampus. Sakit, dan kaget. Dan yang bikin sedih, ternyata kebanyakan orang-orang yang melintas hanya sekedar menikmati pemandangan seakan-akan saya ada di situ untuk mengadakan pertunjukan drama. Apa susahnya, sih, untuk menolong?
Rasanya ingin marah. Tapi tak tega karena wajah si Bapak juga terlihat sangat buru-buru. Belum lagi si Ibu sedang menggendong bayi di pangkuannya. Dalam hati sedikit bersyukur karena yang jatuh adalah saya, bukan si Bapak. Ya, walaupun begitu bukan berarti sepenuhnya salah saya.
Celana robek dan basah karena hujan, mata sembab, kaki sakit, tapi untungnya tidak terlalu kenapa-kenapa. Cuma dalam kondisi seperti itu saya sudah tidak kuat untuk mengikuti ujian. Saya memutuskan untuk segera pulang. Di perjalanan pulang saya menangis, entah apa yang ditangisi. Ujian? Rasa sakit? Rasa malu? Entah, pokoknya nangis. Dan menangis dibarengi hujan deras rasanya romantis sekali. Haha.
Sampai di rumah langsung mengadu. Untungnya tidak dimarahi, hanya sekedar dinasehati. Tapi, gara-gara kejadian itu, motornya mau diganti dengan motor matik biasa. Sedih :( Kan saya jatuh bukan karena motornya pakai kopling. Tapi karena bapaknya mau belok, asal belok tanpa melihat kanan-kiri. Kemunculan bapaknya yang tiba-tiba sama sekali tidak memberi jeda waktu untuk menghindar dan tertabraklah sudah. Sama-sama salah.
Di rumah nangis sesenggukan sampai mata membengkak. Nangis karena tidak bisa ikut ujian dan membayangkan akan ada nilai E yang menghiasi transkrip nilai (semoga saja tidak). Dan dua jam kemudian baru bisa diam karena capek.
Siangnya, mau tidak mau harus berangkat lagi ke kampus demi sebuah urusan. Penting. Padahal motor sudah oleng dan belum sempat dibawa ke bengkel. Saya tidak peduli. Yang penting harus ke kampus, dan semua urusan harus beres sebelum saya berangkat ke Bandung malamnya. Tapi, ya, lagi-lagi memang harus merasakan sesuatu yang pahit.
Ketika hampir dua jam saya menunggu hal-yang-menjemukan di kampus, tiba-tiba saya dapat pesan singkat dari ibu saya. Mami mengabarkan suatu hal yang menyakiti hati saya, lalu karena pada dasarnya saya adalah perempuan cengeng dan rapuh, saya pun menangis sesenggukan di selasar akademik. Orang-orang di sebelah saya melihat dan memperbincangkan dengan temannya, tapi saya tidak peduli. Sialnya, waktu itu sinyal di kampus susahnya minta ampun, dan terjadilah miskomunikasi antara saya, mami, dan mungkin juga abang.
Sedih, kecewa, lalu saya pulang. Dan akhirnya saya membatalkan keberangkatan saya ke Bandung malam itu. Saya tidak memiliki waktu untuk packing karena terlalu asyik menunggu di kampus. Dan di sisi lain, Mami setengah-setengah memberi ijin. Rasanya sedih sekali membayangkan natalan yang suram di Jogja sendirian. Tapi, ya, hal ini harus terjadi.
Malamnya, tidak tahu kenapa, ngobrol dengan mami malah bikin nangis lagi.
Capek rasanya seharian jadi orang yang lemah. Ingin hari yang buruk itu segera berakhir.
Ya, keesokannya memang berakhir.
Kemudian saya mengawali hari dengan menangis lagi. Kali ini berbeda, karena tangisan ini dipenuhi dengan sukacita yang berlimpah. Hore! Bagaimana tidak bahagia kalau pagi-pagi dikasih kabar kalau si partner lolos tes dan mulai awal tahun depan sudah bisa kerja di salah satu rumah sakit di nun jauh di sana. Tidak masalah kalau terpisah pulau dan samudra, karena akan ada saatnya kita akan 'selalu bersama'. Congrats, Dear!
Oh ya, di awal Desember saya mendapat 'an early christmas gift' berupa sepasang sepatu dan sesuatu-yang-dirahasiakan-. Saya menyimpannya berhari-hari karena bingung dan heran: kenapa harus sepasang sepatu yang bahkan tidak bisa dipakai? Lalu, ketika saya sedang merenungi makna natal di kamar sendirian, tiba-tiba saya menemukan jawabannya. Untuk beberapa hal yang terjadi yang tidak mengenakkan, ketika saya jatuh, sendirian, lemah, merasa tidak sanggup, saya harus tetap kuat. Saya harus tetap bangkit dan berlari sebisanya. Pijakan yang kuat akan membuat langkah kaki menjadi semakin cepat, kan? Sepasang sepatu akan menemani saya menjalani hari baru dengen semangat yang baru. (Kemudian saya sadar bahwa secara tidak sengaja saya juga menghadiahi sepasang sepatu baru untuk hadiah natal saya sendiri). Oh, sepatu.
![]() |
| http://9gag.com/gag/aEwMv2x?ref=fbp |
Bersukacitalah senantiasa,
Winda Asnita Siahaan
Winda Asnita Siahaan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar