Senin, 06 Mei 2013

Tentang percakapan pasangan bodoh

Aku lupa bagaimana mulanya kita bisa terjebak pada percakapan bodoh seperti kemarin. Yang masih terlintas dalam ingatanku hanyalah ketika aku dengan sangat serunya mengganggumu yang sedang serius membaca komik kesukaanmu. Perlukah untuk mengetahui awalnya? Jika ya, tolong bantu aku.

A: Aku cinta kamu. Aku senang hari ini bisa bareng. Kamu sayang samaku ngga?
W: Engga.
Lalu kamu tersenyum. Selalu seperti itu refleks dari mulutku. Walaupun aku tidak pernah menanggapinya dengan serius, tapi kamu tau sendiri kan jawabannya seperti apa? Ya, aku mengasihimu. Jawaban ini serius.

A: Kamu mau ngga jadi pacarku?
W: Tergantung.
A: Maksudnya?
W: Kalo ada Ninja sama Lamborghini aku mau.
A: Dasar cewe matre.
W: Loh, cewe jaman sekarang memang harus seperti itu.
Lalu kita tertawa. Memang harus seperti itu persyaratan yang harus dipenuhi oleh orang yang berkeinginan jadi pacarku. Tapi kamu tahu sendiri kan, aku tidak pernah mencari sosok yang mereka namakan 'pacar'. Aku hanya mencari calon pasangan hidup dan itu kamu. Aku tidak peduli apa yang 'kamu' punya. Aku hanya peduli dengan apa yang 'kita' punya: masa depan.

A: Mereka bodoh.
W: Kenapa emangnya?
A: Iyalah. Ngapain coba pake 'rela mati' demi pasangan. Konyol, kan. Kalo 'rela berkorban' sih, iya.
W: Mungkin mereka punya alasan lain.
A: Kalo kalo kamu gimana, say. Kamu rela, ngga, mati demi aku?
W: Tergantung.
A: Maksudnya?
W: Ya kalo aku disuruh terjun ke jurang ya ngga mau lah. Bodoh itu namanya.
Sebenarnya sih aku juga belum nemu alasan yang tepat untuk 'rela mati' itu. Konyol ngga sih seperti itu.

A: Kamu coba tanya aku deh.
W: Tanya apa?
A: Pertanyaan yang tadi.
W: Oke. Rela mati ngga buatku?
A: Engga dong!
W: Loh, kenapa?
A: Aku akan terus berjuang buat kamu, cinta. Kalo aku mati, kasian dong kamunya sendirian.
W: Dasar! Bilang aja pengen pamer karena punya jawaban yang lebih bagus.

Dan bagaimanapun itu, kita akan sama-sama berjuang menjalani hidup. Sebisa mungkin tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan. Sebisa mungkin. Kita lihat bagaimana takdir akan membawa kita.

Tidak ada komentar: