Kamis, 16 Mei 2013

Ketika teman setia pergi

"Astaga, aku, meninggalkannya!" aku terkesiap begitu sadar akan hal bodoh yang kulakukan. Aku yang baru sembuh dari sakitku sebenarnya belum kuat jika harus duduk berlama-lama di ruang baca itu. Badan yang kembali terasa demam, pusing yang mendadak menghujam, belum lagi ditambah perut yang cukup berisik dan berhasil membuatku malu karena orang sebelahku ternyata mendengar 'kukuruyuk' yang meminta agar segera diisi. Aku sangat lapar, namun nafsu makanku menghilang. Ada banyak alasan sebenarnya kenapa aku harus kembali ke kost dan berbaring sebebasnya.

Lalu aku bergegas membereskan buku-buku yang ingin kulanjutkan dibaca di kost. Setelah mendaftarkan buku-buku yang akan kubawa pulang, aku mengambil tas dari tempat penitipan. Tidak lama. Hingga akhirnya aku melangkahkan kakiku ke pintu keluar, tanpa merasa ada yang ganjil. Aku tidak sadar bahwa aku memasuki perpustakaan kota itu tidak sendirian. Harusnya demikian juga jika aku pulang.

Aku meninggalkannya. Dia sendirian di sana.

***

"Kak, temani aku balik ke sana," kataku pada Ray ketika sadar kondisi itu. Aku memanggilnya 'kak' tentu saja karena aku menghargainya yang secara usia lebih tua dariku. Tapi sebenarnya sikap dan sifat kami (mungkin saja) tidak jauh berbeda. Aku tidak peduli antara aku yang menularinya sifat dan sikap kekanakanku atau memang dia yang berusaha mengimbangiku. Masa bodoh. Yang penting dia baik.

"Ke mana?"

"Perpustakaan kota."

"Ngapain?" 

Lalu aku bercerita tentang kebodohanku dengan nada yang penuh dengan rasa penyesalan.

"Ih, buat apa?" dia seolah-olah tak peduli. Aku mengerti itu. "Biarkan saja."

Ray tidak mengerti betapa besar rasa bersalahku.Yang dia mau hanya supaya aku menghabiskan sisa hari ini bersamanya. Aku tidak bisa bilang itu egois atau tidak.

***

Akhirnya aku ke perpustakaan kota. Aku tidak melihat dia berada di tempat kami bersama tadi. Menghilang atau pergi bersama yang lain?

Lalu aku bertanya kepada bapak petugas di meja pendaftaran. Tentu saja bapak itu tidak bisa menjawab. Ada banyak orang yang telah duduk di situ. Dan tidak semuanya juga beliau perhatikan.

Aku hampir menangis ketika keluar dari tempat itu. Dan Ray pun berusaha sekuat tenaga menenangkanku ketika di parkiran.

"Ya, sudahlah," katanya.

"Kakak nggak bakal ngerti rasanya." Perasaan bersalahku belum bisa hilang.

"Apa sih pentingnya, nanti aku carikan yang lain."

"Nggak mau."

"Cuma pulpen gitu juga."

"Kakak nggak ngerti betapa berharganya pulpen itu buatku. Aku nggak akan pernah jadi penulis dan mahasiswa tanpa adanya sebuah pulpen."

"Kan yang lain masih banyak. Pulpen cuma seribuan gitu dibiarin aja lah. Nanti aku carikan yang lain."

Ah, Ray tidak tahu. Pulpenku tidak semurah itu. Harganya empat belas ribu. Tapi bukan masalah harga yang menyebabkan aku uring-uringan di sepanjang perjalanan pulang. Karena selain pulpen yang aku tidak yakin masih ada dijual di toko ATK, sebenarnya, tanpa disadari, banyak kenangan bersama pulpen yang begitu berharga. Khusunya pulpen itu. Pulpen adalah saksi sejarah akan perjuanganku sebagai mahasiswa dan seorang penulis buku harian yang setia.

Maafkan aku, pulpenku.
Winda.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

- pada bagian cerita si tokoh kembali ke perpustakaan, disebutkan bahwa "aku kembali....", pembaca akan berasumsi dia sendirian, tapi di paragraf selanjutnya ada tokoh Ray yang menenangkan.
- rasanya berlebihan jika sebuah pulpen bisa membuat si tokoh sedih seperti itu hanya karena sudah menemani perjalanannya sebagai penulis. Si Tokoh masih menggunakan pulpen untuk menulis? Ini setting cerita tahun berapa?
Plus...seberapa lama sebuah pulpen bisa 'bertahan' digunakan? Bukankan isinya akan habis? Kecuali ini adalah pulpen isi ulang.

Segitu aja deh komentarku. Tetap menulis yah.. :)

windapedia~ mengatakan...

iya mba, aku lupa edit. "maksudnya aku kembali ke tempat itu bersama Ray..."

nah, di endingnya tertulis, alasan kenapa pulpen itu sangat berharga. pulpen menjadi saksi perjuangan seorang mahasiswa. anggap saja waktu ulangan dapat nilai bagus dengan pulpen itu. dan pulpen adalah teman seorang penulis buku harian yang setia.

dan, sebenarnya ini adalah kisahku sendiri mbaaa :D aku masih suka menulis buku harian. dan ada alasan pribadi kenapa aku sampe nangis ketika kehilangan pulpen itu.

makasi buat komentarnya mba :)

Diah Kusumastuti mengatakan...

ini aku banget... hehhe... aku emang kadang suka "aneh", suka nyimpen barang-barang "ga penting" tapi emang bagiku punya cerita tersendiri (meski kadang akhirnya dibuang juga).

menurutku, cerita ini masuk akal kok, tiap orang punya keunikan sendiri-sendiri :)

windapedia~ mengatakan...

iya mba, teman-temanku juga bilang: "ah, cuma pulpen doang" tapi yaaaa, hehe, gitu deh. sedih aja pas ilang.
makasih mba komentarnya :)