Dulu kami, lebih tepatnya aku dan dia, pernah jadi teman yang baik. Bahkan aku menganggapnya sahabat yang baik. Aku dan dia sering menghabiskan waktu bersama, mengukir berbagai cerita dan kenangan lalu melekatkannya dalam ingatan masing-masing. Yang sebagian dari kenangan itu kami patri dan tanamkan di satu sudut hati kami yang tidak akan bisa diganggu gugat oleh siapapun. Karena ingatan bisa saja hilang, namun hati tetap mengerti ke mana pun ia harus berlalu, dan dia akan selalu berada bersama kami. Hmm, maaf, maksudnya aku dan dia, bukan kami. Karena memang tidak ada lagi kata kami di antara aku dan dia. Rasanya kata 'kami' sudah agak canggung disematkan di dalam kalimat yang menyatakan kebersamaan antara aku dengan dia.
Banyak hal yang dapat dikambing-hitamkan ketika kata 'kami' itu bertransformasi menjadi masing-masing individu sebagai orang pertama dan orang ketiga. Dan tidak satupun di antara alasan yang tidak masuk akal itu yang dapat kuterima. Mereka yang tidak menginginkan persahabatan kami lebih dia utamakan untuk disenangkan hatinya daripada aku yang telah banyak menghabiskan waktu berdua dengannya. Dia bisa saja menganggapku egois karena telah menyabotasenya dari kesehariannya. Dan aku mungkin saja telah menstigma otakku bahwa dialah yang kekanakan. Harusnya jangan seperti itu keputusan yang dia ambil. Tapi, tetap saja, persahabatan aneh kami harus berujung dengan permusuhan dan pembentukan kata 'aku dan dia' yang tidak akan pernah lagi menjadi sebuah 'aku dan kamu'. Sangat rindu untuk menjadikannya sebagai 'kita'.
Untuk beberapa saat ke depannya aku mengadaptasikan diriku dengan sepinya keadaan. Berharap hari -hari yang kujalani semakin cepat berganti dan kembali seperti semula. Aku selalu percaya bahwa kehidupan adalah sebuah siklus. Kemarin kami bersahabat, sekarang kami bermusuhan, dan besok bisa jadi kami bersahabat lagi. Harusnya seperti itu. Tapi lamanya kumenunggu 'hari besok kami bersahabat' yang tak kunjung datang membuatku mengambil keputusan untuk menerima kenyataan.
Aku harus bisa berjalan sendirian.
Aku (terpaksa) belajar berjalan sendirian.
Aku tersandung.
Aku menangis.
Aku diam.
Kemudian aku bangkit.
Aku merasa aku menjadi lebih kuat.
Lalu bertemu dengan teman baru.
Hingga pada akhirnya aku sadar. Inilah siklus yang sebenarnya sejak awal kutunggu. Ini hari besok yang kumaksud. Ada waktu ketika aku merasa sendirian. Ada waktu ketika aku merasa punya teman. Walaupun bukan dengan orang yang sama, setidaknya bukan dengan orang yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Cerita antara aku dan dia selesai. Aku menerima kekalahanku tanpa ada dendam sedikitpun.
Namun, setelah beberapa tahun lamanya dia datang kembali. Bukan mengusik cerita yang sedang kujalani sekarang. Bukan. Dia melintas di jalanku lagi hanya untuk meluruskan suatu hal. Dia kembali untuk mengungkap lagi satu masalah yang telah berhasil kukubur dalam-dalam. Kisah yang aku tidak ingin memikirkannya di kemudian hari, tapi mau tak mau harus kusegarkan kembali di ingatanku.
"Kamu belum bisa maafin aku?" tanyanya. Bukan pertanyaannya yang membuatku heran. Tapi tujuannya menanyakan itu jelas sedikit membuatku penasaran. Kenapa harus menanyakan itu?
Lalu dia menanyakan lagi beberapa pertanyaan yang kurang lebih senada. Apakah aku menaruh dendam padanya, apakah aku berharap dia menderita seperti apa yang kurasakan sebelumnya, apakah aku tidak rela melihat dia bahagia, apakah aku telah terbiasa dengan keadaan 'aku dan dia' yang sekarang, dan seterusnya, dan selanjutnya, dan lain sebagainya.
Awalnya aku tertawa. Miris. Waktu telah berhasil membuat stigma negatif tentang aku di pikirannya. Tapi begitu tahu alasannya kenapa, aku berhenti tertawa. Berhenti menertawakan hal yang tidak seharusnya aku tertawakan. Mimik wajahku kembali serius. Mestinya dia menanyakan ini, dulu.
Lalu aku berkata, "Ya memang seperti itu. Seperti ada perasaan yang mengganjal kalau melangkah tanpa membereskan masalah masa lalu."
Lalu aku kembali menceritakan semua yang, lagi, selama ini kuusahakan untuk tidak mengingatnya. Kujawab pertanyaannya.
Aku memang sempat kesal, tapi aku tidak dendam.
Aku sudah belajar memaafkan, dan aku telah memaafkan.
Aku telah melupakan.
Aku telah merelakan.
Aku memang tidak bahagia melihat dia bahagia. Itu urusan dia sepenuhnya. Tapi aku tidak pernah berkeinginan untuk merusak kebahagiaan orang lain. Siapapun itu, termasuk dia.
Aku sudah menganggap semua masalah masa lalu itu menjadi biasa. Mendengar namanya sekarang adalah sesuatu hal yang biasa. Maksudnya, tidak ada perasaan sedih, tiba-tiba deg-degan, marah, atau ingin balik kanan dan menghindar. Dulu pernah seperti itu. Satu-satunya hal yang belum bisa kulakukan adalah menyapanya pertama kali ketika berpapasan di suatu tempat. Aku terlalu takut.
Aku memang bersikap dingin kalau berselisih jarak yang kecil dengannya. Tapi, lagi, aku tidak dendam.
Hingga aku menceritakan hal yang dari dulu sangat ingin kuberitahu, tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk itu. Dia akhirnya tahu dan semakin merasa bersalah. Padahal aku tidak bermaksud begitu. Aku cuma ingin benar-benar tidak ada lagi yang mengganjal, dan tujuan kenapa dia harus singgah di jalanku lagi benar-benar tercapai. Biar tidak sia-sia. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Namun, tetap saja aku tidak bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik. Dia yang berkuasa penuh untuk itu. Aku hanya bisa membantu lewat kata-kata dan ceritaku.
"Kalau misalnya aku belum rela, lantas bagaimana?" tanyaku.
"Aku ingin kamu rela," jawabnya.
Dan aku benar-benar telah merelakan semuanya. (Aku pernah menulis ini dalam buku harianku. Aku juga pernah menawarkan untuk mengembalikan buku harianku padanya. Tapi dia menolak. Kesalahannya kalau dia mengetahui ini baru sekarang) :D
Dan dia, apa pun yang dilakukannya dan bagaimana pun keadaannya, aku tetap berharap dia baik-baik saja. Semoga dia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga dia belajar untuk lebih peka dan menghargai pasangan atau sahabat (baru)nya. (Walaupun dia bilang dia belum mendapatkannya setelah melepasku).
Belajarlah dari masa lalu. Belajar untuk menjadi kuat. Lalu berjalan dengan senang hati.
Aku senang dia datang untuk menanyakan. Semoga tidak akan ada lagi beban di masa mendatang. Terimakasih, Mbul (atau siapapun namanya sekarang).
Yang bersyukur pernah bersahabat dengannya,
Winda.
n.b. aku baru sempat mem-publish tulisan ini sekarang. Ini langsung kutulis sejak beberapa hari kemarin ketika dia.... ya, seperti cerita di atas.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar