Jumat, 10 Mei 2013

Tentang sepotong melonkolis

Kamu ingat melonkolis?
Aku masih ingat bagaimana aku membiarkan es krim rasa stroberinya meleleh meninggalkan jejak di kulit melon yang cukup ranum itu.

Kita bercerita, mengunggah kata demi kata yang sejak awal memang kita rencanakan untuk diperbincangkan. Hingga pada akhirnya kita menemukan saat yang tepat dan waktu yang sengaja kita sisihkan untuk ini. Betapa penting sekali.

Kuliah kerja nyata itu permasalahanku. Serangkaian prosesi kelulusan itu permasalahanmu.

Kamu tahu dari dulu aku ingin sekali berkuliah kerja nyata di daerah yang agak jauh dari Pulau Jawa yang sangat padat penduduknya ini. Dan dibanding kampus lain, universitas tempatku menuntut ilmu memungkinkan untuk berkuliah kerja nyata dari ujung barat hingga ke ujung timur Indonesia. Itu kesempatan. Memang esensinya bukan hanya sekedar berwisata ria. Tidak! Tapi ini kesempatan untuk memilih dan memanfaatkan. 

Dan aku tahu dari dulu kamu ingin sekali menjadikanku sebagai pendamping wisudamu, menemanimu menjalani berbagai prosesi kelulusanmu mulai dari prom night, pengambilan sumpah, hingga pemindahan tali topi togamu dari sebelah kiri ke sebelah kanan oleh Bapak Rektor. Melihatmu mengenakan jubah hitam kebesaranmu berselempangkan cumlaude dengan senyum kebanggaan.

Tapi, yang sama-sama kita tidak tahu dari awal, waktunya bersamaan. Bagaimana aku bisa menghadiri wisudamu jika pada saat yang sama aku ada di belahan Indonesia bagian yang tidak terjangkau dalam waktu yang singkat?

Aku bilang, sebenarnya kalau aku mau aku bisa saja menjalaninya tahun depan. Tapi kamu melarangku. Lalu kamu bilang, sebenarnya kalau kamu mau bisa saja kamu menjalaninya sendirian. Tapi tentu saja rasanya akan berbeda. Proses penambahan gelar di belakang nama itu hanya sekali seumur hidup.

Lantas kamu bercerita mulai dari tentang proses wisuda yang pernah kamu jalani sebelumnya hingga pengharapan akan prosesi yang jauh lebih baik dari itu. Sadar atau tidak, ada sesuatu di balik ceritamu yang telah membuatku merasa 'ah andai saja aku ada di situ waktu itu' hingga pada akhirnya mataku tidak mampu lagi membendung butiran airnya. Aku tidak cengeng. Aku hanya tak kuasa membantu airmataku melawan gravitasi bumi.

Lalu ia menetes. Sama seperti topping es krim rasa stroberi yang meleleh meninggalkan jejak di kulit melon yang cukup ranum itu. Sepotong melonkolis cukup mengisyaratkan rasa.

Andai saja aku bisa seperti ninja, berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan,
aku pasti datang,
Windapedia.

n.b: lain kali jika kita ke restoran itu lagi, aku pastikan melonkolisnya aku nikmati sebelum eskrimnya mencair.Aku mengasihimu.

Tidak ada komentar: