Jumat, 24 Februari 2012

Untuk matahari

Aku bingung mengawali tulisanku dari bagian mana.

Pertemuan kita yang sangat singkat beberapa hari yang lalu benar-benar membuatku kesal. Cukup singkat, dan aku belum sempat mengutarakan semua hal yang ingin kuceritakan dari dulu. Kita hanya diam, akupun menangis. Aku tau apa yang akan terjadi.

Kamu tau matahari, sejak kepergianmu, hidupku ngga pernah sama lagi. Sejak kamu memutuskan untuk meredupkan cahayamu, aku tak mampu melihat duniaku. Gelap. Hitam kelabu. Bagaimana mungkin aku mampu menjalani hari tanpa sinarmu? Ah, kamu ngga akan pernah ngerti.

Kita terlalu dikotak-kotakkan oleh duniawi. Apa ada yang salah dengan hubungan kita? Apa ada yang salah dengan perbedaan kita? Bukankah kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang harusnya menghargai keberagaman bangsa, bukan malah memilah-milah budaya itu sendiri. Apa ada yang salah dengan kebersamaan kita menjalani hari? Tidak ada yang salah seharusnya. Kecuali sudut pandang mereka sendiri.

Matahari, aku takut gelap
Jangan berhenti berpijar

Tidak ada komentar: