Jumat, 02 September 2016

Saya selalu ingat

Saya tidak begitu bersahabat dengan mata pelajaran sejarah. Mempelajari sesuatu yang terjadi di masa lampau, bahkan jaman sebelum nenek buyut saya lahir, terlalu nonsense bagi saya. Saya belum menemukan tendensi mengapa saya harus melakukannya, dan apa manfaatnya bagi saya.

Kebodohan saya mempelajari sejarah antah-berantah, berbanding terbalik dengan ingatan saya yg terlalu kuat untuk masa lalu saya sendiri. Saya merasa hebat dalam mengingat masa kecil saya yang rasanya kurang menyenangkan. Ingatan tentang saya yang diajak Bapak ke studio foto 19 tahun lalu juga masih begitu melekat. Waktu itu saya sedang persiapan masuk taman kanak-mamak, Bapak menemani saya untuk pengambilan gambar pas-photo. Serasa baru kemarin, dan entah mengapa saya sangat ingat.

Dan sekarang, ketika saya menulis ini, saya sedang duduk di gerbong enam Bogowonto, menunggu keberangkatan ke Jogjakarta. Saya masih sangat-sangat ingat, setahun yang lalu, tepatnya setahun kurang dua hari, saya melakukan kegiatan yang sama dengan saat ini. Duduk di peron stasiun Pasar Senen, menunggu Jogjakarta. Tentu saja dengan keadaan yang berbeda.

Setahun yang lalu, saya menunggu keberangkatan kereta dengan kondisi yang sangat tidak baik. Muka saya diperban untuk menutupi beberapa luka jahitan yang masih segar. Luka-luka baretan menghiasi hidung dan pelipis. Kesulitan bicara. Sakit kepala yang luar biasa. Dan mental yang begitu rapuh.

Waktu itu tanggal empat September. Saya kecelakaan dan harus segera balik ke Jogjakarta dengan kondisi seperti itu. Sendirian pula. Mengenaskan.

Sekarang tanggal dua September. Saya sudah pulih dan merasa kembali ke Jogjakarta untuk satu-dua alasan. Masih sendirian. (Trust me, harusnya sih ngga sendirian, kemaren beli tiketnya bareng temen kok.)

Menyusuri peron yang sama membuat saya mengingat kembali suasana yang sama, perasaan yang sama, dan kenangan yang sama. Bahkan saya bisa merasakan apa yang saya rasakan waktu itu. Pergumulan batin, pencobaan yang tidak habis-habis. Terlebih betapa saya tersiksa karena tidak bisa berbagi cerita pahit tersebut dengan orang yang saya kasihi. Namun akhirnya saya ceritakan beberapa bulan kemudian, ketika semuanya telah pulih dan baik-baik.

Saya sebenarnya benci mengapa otak saya dengan mudahnya memutar balik ingatan tentang kejadian yang tidak menyenangkan. Rasanya merepotkan, sekaligus melelahkan. Kenapa tidak hal yang baik saja yang harus dikenang kembali? Apakah memang tidak ada hal yang baik?

Selintas, saya punya perbandingan.

Perbandingan antara yang baik dan yang tidak baik.

Saya seharusnya belajar banyak dari sejarah hidup saya. Banyak hal yang tidak menyenangkan yang saya alami. Mengingat itu semuanya membuat saya menjadi bersyukur karena mampu melewatinya. Karena saya tetap kuat sampai garis finish semua permasalahan yang ada. Bukankah itu hebat? Bukankah saya harusnya berbangga?

Sejarah hidup saya yang dipenuhi banyak rasa, menjadi PR tersendiri bagi saya untuk memaknai itu semua. Untuk belajar hal baik dari itu semua. Untuk melupakan hal tidak baik dari itu semua.

Lantas, bagaimana dengan sejarah-sejarah lain yang ada di semesta. Haruskah untuk saya pelajari? Pentingkah untuk saya kuasai?

Jakarta, 2 September 2016
Winda
Kedinginan, tidak pakai jaket, dan baju setipis kulit ari buah salak.

Tidak ada komentar: