Suatu petang di bulan Ramadhan.
"dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;" - Matius 6:12
❤Winda
notes:
kemaren iseng cover lagu Sorry-nya Justin Bieber.
Maafin ya kalau suaranya tidak seindah penyanyi aslinya
Pernah nggak sih kalian merasa tiba-tiba merasa bersalah atas suatu sikap yang pernah kalian lakukan di masa lalu? Sesuatu yang sebenarnya ngga 'salah-salah' amat. Sesuatu yang bahkan orang tidak pernah mengingat dan mengungkitnya. Namun sesuatu yang sungguh-sungguh berhasil mengganjal hati dan pikiran.
Saya pernah kedatangan beberapa 'teman lama yang menghilang' yang tiba-tiba muncul kembali hanya untuk sekedar meminta maaf. Mereka berkata mereka sangat merasa bersalah. Mereka berkata mereka tidak dapat melanjutkan hidup dengan damai. Seakan-akan perasaan bersalah itu selalu menghantui hari-hari mereka.
Kenyataannya, apa yang mereka perbuat itu, sebenarnya ngga 'dosa-dosa' amat. Saya bahkan sudah berdamai dengan diri sendiri, memaafkan dan melupakan. Memang, sih, pada awalnya saya sempat mengutuki mereka dan menghakimi bahwa mereka adalah jenis homo sapiens paling jahat sedunia. Tapi seiring saya belajar untuk melepaskan beban tersebut, saya sadar akan suatu hal. Bisa jadi ketika saya ada di posisi mereka saya kan berbuat hal yang sama. Bisa jadi apa yang mereka lakukan saat itu adalah langkah untuk menuju kebaikan banyak pihak. Saya harusnya tidak punya alasan untuk jadi manusia super egois.
Mereka datang mengakui kesalahan dan meminta maaf. Lalu saya katakan: sudahlah, saya sudah mengampuni dan bahkan telah melupakan.
Lalu mereka katakan lagi: mereka tidak tenang menjalani hari. Dan saya jawab: sekarang sudah tidak ada yang dikuatirkan lagi.
Mereka terkesan: apakah semudah itu memaafkan? Saya hanya bisa memberi emoji senyum. Waktu adalah penyembuh terbaik.
Dan sekarang, ketika saya menulis ini, keadaannya terbalik.
Saya tiba-tiba teringat suatu kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lalu. Kembali ke pernyataan saya sejak awal: kesalahan yang sebenarnya 'ngga salah-salah amat'. Hehe no offense, ya! Sebenarnya saya tidak sedang merasa menyesal. Tidak ada drama 'penyesalan datang terlambat' dalam hidup saya. Saya sudah menyesal bahkan sebelum saya melakukannya. Karena saya tahu, saya tidak punya pilihan lain. Dan saya tidak memiliki anugrah untuk mampu menyenangkan hati semua orang.
Saya merasa pilihan saya tersebut menyakiti perasaan beberapa pihak. Keluarga, sahabat, siapapun itu. Sesuatu yang saya patahkan dan hancurkan berkeping, dan yang tidak akan pernah kembali sempurna seperti semula.
Terjerat oleh perasaan bersalah ternyata tidak menyenangkan. Dan di sinilah saya akhirnya menyadari kenapa beberapa orang rela melangkah mundur sejenak untuk menyelesaikan perasaan bersalah mereka. Meminta maaf dengan tulus terkadang membuat perasaan sedikit menjadi damai. Sayangnya, di planet bumi belum ada yang namanya mesin waktu. Kalau ada, dan kalau boleh dipinjamkan, tentu banyak hal yang ingin saya perbaiki di waktu lampau.
Saya terkadang suka egois. Saya terkadang sangat mudah menghakimi orang lain. Terkadang juga melukai perasaan. Banyak hal yang tidak baik. Saya manusia.
Dan sekali, saya pernah melakukan hal yang tidak menyenangkan bagi beberapa orang, namun saya harus melakukannya. Demi kebaikan saya dan orang-orang sekitar saya. Saya hanya berharap agar kalian dapat mengerti. Sama seperti yang saya lakukan terhadap orang-orang saya ampuni.
Mungkin dengan meminta maaf membuat saya terlihat lemah.
Mungkin juga rasa-rasanya ini hal sia-sia.
Mungkin sedikit terlambat.
But, hey, better late than never :)
"dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;" - Matius 6:12
❤Winda
notes:
kemaren iseng cover lagu Sorry-nya Justin Bieber.
Maafin ya kalau suaranya tidak seindah penyanyi aslinya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar