Minggu, 06 Maret 2016

Begadang jangan begadang

Terlalu malam untuk disebut malam. Terlalu pagi untuk dipanggil pagi.
Waktu menunjukkan pukul tiga lebih delapan belas menit. 
Di Indonesia belahan timur sana, matahari sedang bergegas merekah dan menyapa fajar.

Dan lihat apa yang saya lakukan di sini?
Berkutat dengan tuts keyboard, berusaha mencari ide untuk menulis sesuatu, menikmati guliran waktu.

Yang saya rasakan saat ini adalah: lapar teramat sangat. Hahaha. Itulah kenapa saya tidak sabaran menunggu pagi datang, supaya saya bisa sarapan lebih cepat. Saya tidak tahu sebutan untuk makan pukul tiga pagi. Sahur? Hha mungkin, namun terlalu dini. Melakukan sesuatu yang saya-bahkan-tidak-tahu-menyebutnya-apa adalah hal yang agak aneh buat saya. Jadi sebaiknya jangan dilakukan. Hihi.

Saya butuh dua gelas kopi instant untuk menjaga kesadaran saya dari rasa kantuk. Saya sengaja melakukan ini, sengaja tidak tidur, hanya untuk sekedar menikmati hari saya yang lebih panjang. Balas dendam untuk bangun siang karena sepanjang Senin-Jumat saya dituntut untuk bangun pagi terus.

Banyak hal random yang saya coba lakukan.

Yoga.
Kaki saya kurang lentur.

Senam aerobik.
Capek.

Nonton High School Musical 1-3.
Halo, Zac Efron!

Youtube-an.

Bolak-balik ke kamar mandi karena kebelet pipis melulu.

Dan ketika menulis ini, saya sedang merasakan sesuatu yang cukup menggelikan buat saya.

Saya rindu akan suatu masa di mana (saya bersumpah) masa itu dulunya adalah masa yang saya benci. Masa-masa kuliah! Masa-masa berkutat dengan tugas dan laporan praktikum yang membuat saya tidak tidur hingga subuh. Saya rindu bersekutu dengan kalkulus, listrik & magnet, dan kawan-kawannya yang bahkan hingga lulus pun saya masih belum bisa memahami mereka dengan baik. 

Oh, tidak!

Ini menyebalkan.

Saya harus mengakui bahwa: di sepanjang fase hidup yang telah saya jalani, saya sangat merindukan fase menjadi mahasiswa. Itu adalah fase terbaik dalam hidup saya, bahkan di bandingkan ketika saya masih kanak-kanak yang hidup bebas tanpa tanggungan apa-apa. Bebas bangun pagi jam berapa saja. Kalau merasa malas dan penat, tidak masalah jika bolos kuliah. Punya waktu yang cukup banyak untuk mengeksplore hobi atau sekedar melakukan hal yang saya ingin. 

Dibandingkan masa sekarang, Senin-Jumat harus bangun jam enam pagi, atau tidak presensi saya akan berwarna merah. Tidak punya banyak waktu untuk melakukan hobi atau jalan-jalan mengunjungi tempat baru. Saya tidak bisa seenak-jidat untuk tidak berangkat ke kantor dengan alasan malas. Terlebih tanggung jawab saya akan diri sendiri dan keluarga sangat besar dalam fase ini.

Lantas, apakah saya bahagia?
Apakah saya telah menjalani sisa hidup saya dengan benar?
Saya tidak tahu.

Mungkin saya harus segera menemukan jawabannya.

Sesegera mungkin.

❤Winda

(menulis dalam kondisi setengah sadar ternyata membuat tulisan menjadi sedikit tidak sinkron. maafkan. xoxo)

Tidak ada komentar: