Sabtu, 20 Februari 2016

HUJAN

Beberapa hari yang lalu mendadak saya menderita Abibliphobia, penyakit lama yang ternyata kambuh lagi. Ketakutan akan kehabisan bahan bacaan. Haha. Di kosan baru, saya hanya punya satu bacaan saja, yang jika saya baca maka habislah sudah. Sebenarnya saya punya banyak cadangan bacaan elekronik alias ebook. Tapi, memikirkan akan menatap layar komputer setelah beraktivitas di kantor seharian, rasanya melelahkan mata.

Buku saya yang kata orang-orang seperti perpustakaan, semuanya tertinggal di Jogja. Semua-muanya. Dan sialnya, saya tidak pernah cukup beruntung mendapatkan selembar tiket perjalanan kereta api ke Jogja untuk menjemput mereka. Cukup memakan waktu di perjalanan apabila menggunakan bis. Dan cukup menguras kantong apabila menggunakan pesawat.

Di kota baru, di kota yang asing bagi saya, saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah toko buku. Sayangnya, saya tidak menemukan toko buku favorit saya di pusat perbelanjaan terdekat. Saya juga tidak memiliki mood yang bagus untuk mengunjungi dan berkelana ke tempat baru menggunakan angkutan umum sendirian. Jadilah saya pergi ke Kota Sebelah, mengunjungi toko buku yang jaraknya sekitar 40km dari kosan saya. Ryan menawarkan diri untuk menemani.

Di toko buku, saya ditakdirkan untuk bertemu dan membawa pulang beberapa buku. Salah satunya dengan HUJAN. Ditulis oleh pengarang yang buku-bukunya tidak satupun yang tidak saya punya. (Kalaupun tidak punya, pasti sudah pernah saya baca atau pinjam dari perpusatakaan Kota Jogja) :D Menurut saya Hujan terlalu klise. Saya sedikit begah dengan metafora hujan yang sedemikian menjamur belakangan ini. Dan juga kata hujan menurut saya terlalu memble. Sudah kebayang duluan ceritanya sebelum membaca isinya. Semacam drama antara hujan dengan kenangan. Ah!

Tapi, ketika saya sudah ditakdirkan untuk membaca buku ini, lantas apa yang bisa saya perbuat? :D

Saya tetap membeli buku ini dengan dalih membeli 'penulis', bukan membeli 'judul'. Walaupun si penulis sudah membuat saya illfeel dengan status sosial media-nya yang kebanyakan nyinyir, saya tidak peduli. Saya meyakinkan diri saya bahwa beliau adalah penulis yang saya kagumi karena karyanya. Dan masalah status nyinyiran, yaaa namanya juga manusia. Anggap saja sedang terpleset. (Tuh kan, saya juga ketularan jadi suka nyinyirin orang lain. Saya terpleset juga).


Judul : HUJAN
Penulis : Tere Liye
320 halaman; 20cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan ke-2 Januari 2016
ISBN 978-602-03-2478-4
Harga : Rp 68.000 (tapi pas beli dikasih diskon muehehe)
Sinopsis : Tentang persahabatan. Tentang cinta. Tentang perpisahan. Tentang melupakan. Tentang Hujan.

Sinopsisnya cukup singkat, 10 kata. Bacanya saja sudah bikin galau. Sudah kebayang ini ceritanya pasti akan seperti cerita-melow-ala-anak-abegeh-yang-cinta-cintaan-di-bawah-hujan-terus-berpisah-dan-akhirnya-galau-setiap-hujan-turun. Tapi saya percaya, Tere Liye tidak akan sesederhana itu. Tema cerita yang sederhana biasanya disuguhkan dengan ide cerita yang luar biasa dan tidak pernah disangka-sangka. Menurut saya beliau adalah sosok yang seperti itu kalau menulis.

Dan kali ini saya benar.

Tapi, ekspektasi saya melenceng terlalu jauh.

Hujan adalah novel yang lebih rumit dibanding sinopsisnya yang sangat sederhana, Bahkan di lima halaman pertama saya membaca novel ini, saya kebingungan. Kelimpungan. Ini apa sih? Belalai robot, bando pemindai, sumpah saya pusing. Saya sedikit shock karena ternyata Hujan memiliki setting waktu tahun 2050. Iya, masa depan! Saya sungguh sangat skeptis dengan cerita berbau-bau sci-fi, apalagi tentang masa depan. Alasan pribadi sebenarnya. Saya tidak ingin punya imajinasi tentang teknologi di masa depan.

Seperti karya Tere Liye sebelumnya, Hujan pun memiliki ciri khas tersendiri. Terutama mengenai nama tokoh: Esok dan Lail. Nama yang unik dan tidak familiar Tere Liye memang jagonya. Namun, membaca Hujan membuat saya teringat akan Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Entah kenapa penulis menggunakan alur yang sama dengan RTW. Alur maju mundur. Masa depan – masa lalu si tokoh. Sama-sama berada di rumah sakit. Hanya saja Hujan menggunakan sosok perawat/fasilitator, sedangkan RTW menggunakan sosok malaikat. Memang sih, ceritanya beda. Tapi tetap saja alurnya sama. :D

Hujan…. entahlah. Saya bingung menggambarkannya bagaimana. Tapi menurut saya, buku ini tidak sebagus RTW. Hingga membaca setengah buku, saya merasa buku ini tidak menarik. Tidak ada gregetnya. Tidak ada sesuatu yang membuat saya ‘tidak sabaran’ untuk segera membacanya setelah selesai beraktivitas. Saya merasa penggambaran teknologinya terlalu modern di awal saja, semakin ke tengah semakin konvensional. Bioskop, sepeda, toko kue. (Di Jakarta saja saat ini saya jarang melihat orang-orang naik sepeda di jalanan. Kecuali lagi CFD-an di GBK. Apalagi di masa depan.)

Penggambaran akan hujan itu sendiri juga tidak mendetail di buku ini, membuat saya merasa kalau judul buku ini diganti jadi yang lain sepertinya tidak akan membawa dampak apa-apa ke cerita. Dan lagi, entah kenapa saya tidak menemukan kata-kata bijak yang bagus untuk dijadikan kutipan. Ya pokoknya entah kenapa saya kesal sendiri jadinya. Belum semakin ke tengah sosok Esok semakin tenggelam dan jarang menjadi sudut pandang si penulis.

Hingga akhirnya, titik baliknya ada di scene ketika Esok wisuda dan seluruh keluarga angkatnya datang, dan Claudia duduk bersebelahan dengan Esok. Akhirnya, ada juga sesuatu yang bikin geregetan membacanya. Di situ digambarkan Lail cemburu dan memilih untuk pulang. Tapi, menurut saya ceritanya akan menjadi lebih hidup jika ditampilkan dialog antara Esok-Claudia, tidak hanya sekedar penggambaran saja. Biar ceritanya seperti sinetron Indonesia, menguras emosi.

Kekecewaan saya juga terobati setelah mendekati lembar-lembar terakhir dari buku ini. Ternyata banyak kejutan di bagian akhir cerita. Saya mendapati banyak jawaban atas rasa bosan di awal cerita ketika saya berada di penghujung buku. Toko kue manual, kursi roda, sosok Esok yang mendadak hidup ketika menyusul Lail ke rumah sakit/terapi.

Sungguh saya BAPER!

Sama sekali tidak menyangka kalau ceritanya akan menjadi seperti ini. Apalagi ketika adegan Lail akhirnya memutuskan untuk menghapus ingatannya yang tidak menyenangkan. Saya geregetan di bagian itu. Dan penulis sungguh luar biasa mempermainkan emosi saya di akhir cerita.

Ya begitulah sedikit cerita tentang Hujan yang tidak bercerita tentang hujan. Buku ini lebih mengajarkan tentang menerima sesuatu dalam hidup dan melupakan.

Terimakasih untuk tokoh Maryam yang telah menggantikan tokoh Esok dan membuat cerita lebih hidup.

Dan, terakhir, maafkan saya yang terlalu banyak mengkritik padahal saya bukan orang yang expert di bidangnya. Mengkritik tapi tidak pernah menulis dan melahirkan suatu karya, sungguh saya orang yang sangat hina huhu. Saya hanya berusaha mengutarakan semua kekecewaan saja hehe.

Omong-omong saya sedang menanti-nantikan Matahari, kelanjutan serial Bumi-Bulan. Oh can’t wait!

Teruslah berkarya, Tere Liye!

Love,
Winda

2 komentar:

Ayu mengatakan...

lama gak baca novelnya tere liye, masih yang rindu aj amasih plastikan hehe..
tapi saya selalu suka dengan cara berceritanya, enak aja gitu, jadi penasaran yang hujan ini :)

Unknown mengatakan...

Punya saya yang rindu malah cuma dijadiin properti foto hha.