Sabtu, 03 Oktober 2015

Kangen sama Bapak

Hari itu Jumat, 3 Oktober 2014.
Saya hampir frustasi gara-gara mengurus jadwal sidang tugas akhir. Itu sudah yang ketiga kalinya mundur dari jadwal seharusnya. Dosen pembimbing merangkap Kepala Jurusan mendadak harus mengurus akreditasi dan terpaksa diundur. Ruangan sidang yang penuh. Dosen penguji tidak bisa menyesuaikan jadwal yang baru. Ada banyak alasan sidang tugas akhir yang dijadwalkan awal September mendadak mundur sejauh ini. Dan dari serangkaian proses menuju gelar S.Si, hari itulah hari tersibuk saya.

Saya masih ingat, ketika duduk sendirian di Kantin Klaster MIPA sambil menikmati sarapan yang dirapel dengan makan siang, saya hampir menangis memikirkan masa depan saya. (Fyi, pada dasarnya saya memang agak -sedikit- cengeng.) Dosen pembimbing akhirnya menetapkan jadwal sidang Rabu, 8 Oktober. Sedangkan hari itu, 3 Oktober, saya belum mendapatkan keputusan final siapa dosen yang akan menjadi penguji saya. Beberapa list dosen yang direkomendasikan tidak dapat menolong. Katanya jadwal bentrok dengan mengajar dan beberapa urusan lainnya.

Yang paling rewel soal masalah ini adalah Bapak saya. Hampir setiap kali saya menelepon orang rumah, selalu ditanyakan jadwal sidang. Masalahnya, saya pernah menjanjikan saya akan sidang tanggal sekian namun mendadak batal karena masalah yang sudah saya uraikan sebelumnya. Saya terkesan mengecewakan keluarga. Padahal draft udah di-acc dari bulan Juli tapi kok ngga lanjut-lanjut. Begitu mungkin pikir mereka.

Bapak sebelumnya pernah memohon. "Nanti kalau sidangnya sudah beres pulang ya?" Saya, dengan bodohnya, langsung berkata tidak bisa. Alasannya, masih ada ujian tengah semester menanti selepas sidang. Awal tahun mungkin waktu yang tepat untuk pulang mengingat ada liburan panjang sebelum wisuda menjelang. Tawaran dari Mami pun untuk pulang ke rumah di saat natal dan tahun baru saya tolak karena ada UAS. Iya, di semester sembilan pun saya masih mengambil mata kuliah.

Siang itu rasanya panas sekali. Kantin yang ramai. Hati dan pikiran yang juga penuh sesak. Dan tidak tahu kenapa, ketika saya memutuskan untuk pulang ke kost dan menangis bombai di kamar sendirian, tiba-tiba saya mendapat sms balasan dari calon dosen penguji sidang saya. Mereka berdua seketika setuju menguji sidang saya tanpa saya harus bertemu langsung/bertatap muka hari itu juga, dan draft bisa disetor hari Senin. Puji Tuhan saya tidak perlu balik ke kampus lagi. Sungguh kabar baik yang akan sampaikan kepada keluarga saya dengan penuh sukacita.

Hari itu Sabtu, 4 Oktober 2014.
Pagi hari yang cerah dan menyenangkan. Pagi itu saya buru-buru memutuskan sambungan telepon dengan Ray karena melihat ada acara tv yang menarik. Hari Sabtu Ray libur dan saya memintanya untuk beberes sehingga saya bisa menyaksikan artis idola saya di tv tanpa ada gangguan dan membuat Ray cemburu haha. (Iya, sumpah, dia ga cemburuan banget kalo saya ngefans sama 'doi').

Selagi asyik menonton tv, abang saya menelepon. Agak heran juga sih sebenarnya. Tumben abang saya menelepon. Apalagi malam sebelumnya saya sudah memberitahu ttg sidang. Dan seketika, lewat berita yang dia sampaikan, saya langsung menangis-tak-percaya dengan kabar yang dia sampaikan. Butuh waktu untuk mencerna baik-baik isi berita tersebut. Dari yang kaget-tak-percaya hingga akhirnya menangis-sejadi-jadinya di tengah tawa seru acara tv.

Bapak meninggal. Tiba-tiba. Medis mengatakan akibat serangan jantung. Susah untuk percaya karena malam sebelumnya saya masih berkomunikasi dengan bapak dan bapak baik-baik saja. Ya, walaupun setiap kali ditanyakan kabar, bapak pasti menjawab, "Bapak udah ngga sehat lagi lah, nang."Harusnya bapak bisa menunggu sedikit lagi, sebentar lagi. Tunggu selesai sidang, UTS, UAS, wisuda, dan nikah.

Saya shock. Mandi berderai air mata. Naik motor nyari tiket pulang pun berderai airmata. Saya terakhir kali bertemu dengan bapak tahun 2012, cukup lama. Menyadari saya akan bertemu lagi dengan kondisi yang berbeda, rasanyaaaaaaaaaa....

Bapak,
satu tahun sudah berlalu.
Dan gua bahkan belum sempat pulang nyekar ke makam bapak.
Sebelumnya bapak pernah beberapa kali nyuruh pulang tapi beberapa kali juga gua bilang ga bisa hiks.
Kangen sama Bapak, untuk banyak hal.
Bapak yang selalu belain kalo gua betengkar sama mami iwa.
Rasanya durhaka banget jadi anak :(
Sekarang pun masih belum bisa membanggakan orang tua.
Pengen nulis banyak tapi ga kuat.
 
Agak canggung ngobrol sama bapak pake kata ganti aku/saya. Di rumah ga biasa pake kata itu huhu.

Jadinya, sidang diundur lagi. Jadi november. Tapi lupa tanggal berapa. Di acara pemakaman bapak, saya jadi lebih banyak tau tentang masa lalu bapak. Hal yang selama ini tidak pernah bapak ceritakan ke anak-anaknya, akhirnya kami tahu lewat orang lain. Bapak pribadi yang tangguh, yang selalu berjuang untuk keluarga. 

Aaaaa, bapak
andai waktu bisa diulang
pengen jadi anak yang lebih baik
yang ga pernah bilang kata 'engga' atau 'engga mau'

Aaaaa kacau nulisnya :(

Tidak ada komentar: