Jumat, 13 Februari 2015

Perjalanan menuju wisuda, akhirnya!

Hanya beberapa hari lagi menjelang wisuda . . .

Aku sangat bersyukur, sangat-sangat-sangat bersyukur kepada Penyelamatku, karena akhirnya aku sampai di sini, berjuang untuk keadaan ini, menyelesaikan misiku dengan baik. KebaikanMu, penyertaanMu, Kau sungguh melingkupiku dengan itu. Terimakasih, Tuhan Yesus :)

Dan, sebentar lagi aku akan diwisuda. Rasanya? Haha. Tentu saja bahagia, mengingat ini sebuah perjuangan yang tidak mudah.

Rasanya tidak sabar menjemput Mami di bandara, menyambut kedatangannya yang pertama kali di kota Jogja :') Walaupun Mami cuma sendirian, tapi itu ngga masalah. Beberapa bulan yang lalu Bapak sempat bilang kalau beliau rindu dengan Candi Borobudur. Tapi, ya sudahlah, dengan atau tanpa kehadiran Bapak, aku sudah sangat mengucap syukur. 

Prosesi wisuda ini sepenuhnya kupersembahkan untuk Bapak. Bapak yang sudah sangat susah payah berjuang menyekolahkan ku hingga mendapatkan gelar sarjana sains. Dulu, sempat kesal juga dengan Bapak. Sehabis lulus SMA Bapak memaksaku untuk mengikuti bimbingan belajar di Jakarta, demi masuk STAN. Aku harus meninggalkan rumah, merantau di tempat yang asing, jauh dari mereka. Aku masih ingat betapa sesenggukannya aku menangis, padahal kan bisa saja aku kuliah di USU, di kota Medan, agar dekat dengan mereka. Tapi Bapak melihat jauh ke depan. Dan sekarang, lihatlah, Pak, anak perempuanmu telah menyelesaikannya dengan baik :')

Tapi, kalau dipikir-pikir, banyak juga sih yang menyedihkan dengan prosesi wisuda ini, selain tanpa kehadiran Bapak tentu saja. Ivan dan Dean juga tidak bisa datang. Ivan harus sekolah, tidak bisa bolos seminggu. Sedangkan Dean, tentu saja harus jagain Ivan. Mereka berdua adik kesayangan yang terkadang menyebalkan. Dan yang paling mengherankan, entah kenapa mereka berdua bisa tersihir harus kuliah di UGM, mengikuti jejak kakaknya. Padahal universitas tidak hanya UGM kan.

Hal lain yang membuat sedih adalah karena keluarga besar yang di Jakarta juga tidak bisa hadir. Tau kenapa? Karena UGM dari tahun ke tahun selalu memilih hari Selasa sebagi hari pelaksanaan wisuda. Hari kerja! :( Padahal rasanya ingin sekali mereka melihatku akhirnya bisa sampai ke titik ini. Ini juga hadiah buat mereka, yang telah berkorban banyak dan berjuang demi masa depanku. 

Jadi ingat, dulu sehabis daftar SNMPTN, tidak terlalu niat untuk ikut ujiannya hanya karena jadwal test tulisnya hanya selang 2 hari setelah test STAN. Seluruh tenaga dan pikiran sudah terkuras habis untuk USM STAN, impian dan cita-cita Bapak. Iya, aku berjuang sebisaku supaya aku bisa diterima sebagai mahasiswa STAN untuk membahagiakan Bapak :') Bapak bilang perempuan juga butuh masa depan yang layak dan terjamin. Dan aku berjanji aku harus memenuhi itu, dan pelan-pelan melupakan keinginanku untuk menempuh pendidikan di Padjajaran, Bandung. Kadang merasa bodoh, demi apa dulu sewaktu kelas tiga SMA aku begitu menginginkan hidup dan tinggal di Bandung. Hanya karena alasan yang sangat konyol. Di test SNMPTN pun aku memilih UNPAD sebagai universitas tujuanku, setelah UGM tentu saja. Tapi, itu hanya formalitas. Hatiku sudah tidak lagi di situ. Itulah kenapa aku hampir mundur dari test SNMPTN itu. Selain karena pikiran dan tenaga yang sudah terkuras habis, aku juga tidak ada persiapan sama sekali untuk SNMPTN. 

Tapi, mereka memberikanku semangat. Keluargaku yang di Jakarta menyarankanku tetap mengikuti test itu. Tidak masalah kalau tidak belajar, tidak masalah kalau tidak ada persiapan. Yang penting dicoba. Lagipula kan sayang sudah bayar uang pendaftaran tapi tidak ikut. Anggap saja ini hanya undian. Menang disyukuri, kalah tidak apa-apa. Akhirnya aku ikut test itu, dan ternyata masih bisa menjawab beberapa soal walaupun tidak banyak. Hingga beberapa minggu kemudian ketika pengumuman, aku dinyatakan lolos test SNMPTN dan diterima di UGM. Reaksi pertamaku? Tentu saja kaget. Kok bisa? Padahal aku tidak mati-matian belajar, aku juga tidak terlalu pintar. Reaksi keduaku? Tentu saja ngelunjak. Kok tidak UNPAD saja. Haha. Salah sendiri memilih UNPAD di posisi kedua. 

Waktu itu aku memutuskan untuk tidak mengambil univ itu. Aku terlalu optimis lolos di USM STAN, padahal belum pengumuman dan aku harus segera daftar ulang di UGM. Aku tidak punya siapa-siapa di Jogja. Tapi mereka, keluargaku yang di Jakarta, lagi-lagi mendukungku dan memberiku semangat. Tidak masalah daftar ulang dulu saja, kalaupun nanti aku lolos kuliah di Bintaro aku boleh memilih meninggalkan Jogja. Setidaknya ada satu pegangan. Oke, akupun manut. Dan beberapa hari setelahnya pengumuman keluar dan aku tidak berjodoh dengan Bintaro. Haha. Apa jadinya kalau waktu itu aku terlalu egois, keras kepala, dan menang sendiri, melepas UGM begitu saja dengan bodohnya? Mungkin aku tidak akan menceritakan ini. :) Aku sangat berterima kasih untuk Uda Lidia, Uda Kris, Nanguda ku juga. Keluarga besar yang di Jakarta, terimakasih banyak telah mendukungku selama ini dan sejauh ini :')

Itu bukan karena kuat dan hebatku. Itu semata-mata karena anugrah. Tuhan punya rencana yang luar biasa untukku. Aku baru menyadari itu belakangan ini, ketika studiku hampir selesai :)

Aku tidak peduli betapa nanti tidak meriahnya hari-H wisudaku karena ketidakhadiran orang-orang yang kukasihi. Aku tidak mempermasalahkan itu. Yang paling penting adalah bagaimana aku bisa memaknai hasil perjuanganku dengan baik, dan bersiap untuk berjuang lagi di langkah kehidupan selanjutnya.

Cukup sedih sebenarnya begitu tahu kalau Yoga tidak bisa hadir di wisudaku. :') Aaaaaaaaaaa aku tidak bisa berkata-kata untuk ini.. Dia terlalu jauh. Kamu baik-baik ya di sana :') Terimakasih banyak untuk hal-hal yang tidak bisa aku sebutkan di sini. Aku sangat mengasihimu.

Untuk baju kebaya yang sudah selesai dijahit tapi tidak bisa dimiliki, ah, sedih juga sih kalau ingat hal ini. Jadi ceritanya, aku sudah menjahitkan kebaya. Tapi si designer lagi keluar kota dalam waktu yang lama dan akan kembali ke Jogja pada hari aku diwisuda. hahahaha ini geli sebenarnya. Dalam waktu sisa empat hari, di mana aku bisa mendapatkan designer baru yang mampu membuatkan ku kebaya dalam waktu yang sempit? Aku cuma bisa tertawa hahaha.

Aku juga belum berniat untuk mencari penginapan untuk Mami dan Abangku yang mau datang ke Jogja. Belum berusaha buat merental kendaraan yang dipakai di hari H. Sepatu wisuda juga belum dibeli. Make up dan hair do juga belum kepikiran :') Foto studio apalagi. Hehehe. Maafkan kebodohanku. Aku sengaja tidak terlalu antusias memikirkan perayaannya. Aku hanya ingin dengan kesederhanaanku aku bisa memaknai semuanya dengan baik. Bukan hanya euforia sesaat :')


With love,
Winda

Tidak ada komentar: