Miris melihat laptop yang diselimuti debu teronggok di sudut kamar. Kapan terkahir kali disentuh?
Miris juga melihat postingan terakhir blog. Jadi ngerasa gagal sebagai blogger karena update tulisan sekali sebulan. Haha.
Maafkan kemalasan saya. Saya sepertinya harus lebih belajar lagi kepada semut.
Baiklah pemirsah, selamat membaca tulisan Windapedia lagi yang penuh dengan cerita galau yang (semoga bisa) memberi inspirasi.
Ceritanya malam ini saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi gara-gara seharian sudah bobo cantik karena penyakit murahan yang tidak kunjung sembuh. Demam, sakit kepala, batuk, radang tenggorokan, (dan sekarang ditambah meler-meler) benar-benar kompak menggerogoti tubuh saya semenjak lima hari yang lalu. Syukurnya ya, itu sakitnya mulai terasa setelah ujian selesai. Sedihnya, mereka si penyakit-penyakit jahanam itu tidak bisa pergi begitu saja karena saya tidak minum obat. Lebih tepatnya: tidak bisa menelan obat.
Iya, syedih.
Tambah syedih karena si partner sudah hijrah ke kota yang cukup jauh demi menata masa depan kami berdua (haha apaan sih). Hari Minggu kemarin mulai deh ibadah sendirian lagi. Nggak seru! Nggak ada teman toss-nya. Belum lagi pulangnya kehujanan dan nggak pakai mantel.
Selow, bro! Saya tidak mengeluh! Cuma sekedar curhat. Haha.
Kembali ke topik awal. Terbangun di tengah malam dan seketika merasa rindu.
Yang pertama: rindu sama Mami. Terakhir kali ketemu Mami waktu wisudaan abang di Bandung, akhir Agustus kemarin. (Terakhir kali ketemu Bapak: sudah sangat lama, kira-kira pertengahan tahun lalu) :'( Ya namanya juga anak gadis, tiba sakit begini ingatnya langsung ke orangtua. Saya belum memberi kabar kalau saya sedang sakit. Mami saya sangat bawel. Telinga bisa langsung panas di telpon kalau sudah disuruh minum obat. But Mami is a good mom. Beberapa hari yang lalu Mami mengirim uang tambahan dan sama sekali tidak memberi tahu saya. Semacam surprise. Haha. Senang. Ya iyalah, terkadang menyenangkan kalau sudah menyangkut tentang uang. Uang memang bukan segalanya. Tapi kan segalanya sekarang ini butuh uang. -___- Becanda kok Mami. Mami good dalam semua hal kok. Termasuk memberi izin untuk kursus bahasa. Sama saja :D
| a girl and a boy with their mom |
Semoga sang Mami sabar menunggu saya mengenakan baju yang sama dengan abang saya. Semoga sang Mami sabar menunggu kelulusan saya. "Sebentar lagi, Mami!"
Dan, ya, tidak hanya Mami (dan keluarga) saja, ada yang lain juga yang sangat saya rindukan. Sama seperti Mami, si Partner (dan keluarga) yang juga sama-sama menantikan kelulusan saya. Sabar, ya. Sabar. Sabar. Sabar. Jadi mahasiswa masih terlalu asyik.
Merindukan partner di tengah malam buta membuat saya jadi terkesan galau. Oh, tidak! Padahal tidak bermaksud seperti itu. Haha. Hanya saja ingin mengekspresikan sedikit rasa rindu yang bertabu-tabu. (padahal sebenarnya biasa saja).
Jadi ingat beberapa hari yang lalu sewaktu saya mengantarkan partner di bandara. Saya terkesan biasa saja. Tidak sedih, tidak takut. Tapi dia, matanya sudah berkaca-kaca. Sedikit merasa bersalah akhirnya.
"Kamu nggak sedih aku tinggal?"
"Nggak. Kenapa harus sedih?"
"Aku lama, lho, perginya. Tahun depan baru bisa ketemu lagi. Nggak sedih?"
"Nggak kok. Kan tahun depan bisa ketemu lagi."
Tapi percayalah permirsah, di saat yang sama rasanya saya ingin segera lari ke ticket booth dan memesan satu tiket dengan penerbangan dan jam yang sama. Tapi tidak bisa. Ujian kalkulus menanti di siang harinya.
![]() |
| graduation soon, Winda! |
Mendadak kepala pusing tidak karuan. Hiks. Syedihh.
Demikianlah permirsah, maafkan jika saya sudah mulai sangat jarang menulis di sini. Doakan saya cepat lulus dan sembuh ya, pemirsah!
Winda.


3 komentar:
hai partnerku.. :')
baik2 ya disana..
sini dehh aku beliin tiket one way ke ponti.. gmn?? yukk.. hehe..
aku ngga mau one way, mau yang return. biar ada jaminan kalo aku masih bisa pulang ke Jogja. Don't culik me, partner :3 Miss you.
aku ngga mau one way, mau yang return. biar ada jaminan kalo aku masih bisa pulang ke Jogja. Don't culik me, partner :3 Miss you.
Posting Komentar