Jumat, 04 Oktober 2013

God still exists and hakuna matata :)

[ bukan bacaan orang atheis :) ]

Halo!
Maaf jika terlalu lama tidak memberi kabar, ehm.

Ada yang bilang, ide itu bisa datang kapan saja dan di mana saja. Dan benar, ide untuk menulis postingan kali ini datangnya waktu aku sedang asyik mandi sambil nyanyi-nyanyi. Tapi tidak sambil siul-siul. Ehm. Bukan berarti lama tidak menulis di sini karena sedang kehabisan ide, BUKAN. Faktor kemalasan itu ada. Rasa malu karena tulisannya dibaca banyak orang itu juga ada. Dan kemalasan serta rasa malu tersebut memang sukses menenggelamkan jutaan ide yang kudapat setiap harinya.

Tapi, kali ini tidak. Karena menurutku, aku harus memberitakan tulisan ini semampuku, untuk menyuarakan kalau Tuhan itu ada, teman-teman! :) Setidaknya dari pandanganku sebagai orang yang biasa-biasa saja. Dan percayalah tulisan ini tidak menyinggung salah satu huruf A dari SARA. Ini hanya soal kepercayaan.

Terkadang (sering) merasa aneh setiap kali mendengar dan menyanyikan lagu 'Tuhan Pasti Sanggup' yang dinyanyikan oleh duet Mike Idol dan salah satu penyanyi perempuan yang aku lupa namanya.
Tuhan pasti sanggup
tanganNya takkan terlambat 'tuk mengangkatmu
Tuhan masih sanggup
percayalah Dia tak tinggalkanmu...
Aku tipe orang yang kritis. Dan sering kali kalau menyanyikan lagu itu aku tiba-tiba berpikir: "kenapa harus menggunakan kata masih? Apakah memang Tuhan mempunya keterbatasan? Ataukah akan ada saat Dia takkan sanggup lagi?" Hingga akhirnya setelah melewati beberapa kejadian dan persoalan, aku jadi mengerti maksudnya. Tentu saja dengan defenisi dan pengertian yang aku buat sendiri.

Aku masih ingat beberapa hari yang lalu, sehari setelah aku merasakan sukacita bertambahnya usiaku, ada hal yang tidak mengenakkan yang menimpa partnerku. Ceritanya waktu itu aku mau ke kampus, lagi nunggu bis 3A di shelter TransJogja karena ada kuliah kalkulus (iya, bener, ngulang matkul kalkulus). Tiba-tiba partner menelepon mengabarkan sesuatu sambil menangis kejer. (maaf ya partner, aku mengumbar aibmu. Tapi bukankah kamu juga yang mendorongku untuk menulis ini? :p ) Katanya dompetnya hilang. Tapi dari cara dia menangis, itu sepertinya lebih dari sekedar kehilangan dompet. Tanpa pikir panjang, aku lantas putar haluan naik bis jalur 3B. Kuliah kalkulus nanti-nanti juga bisa, ehm.

Aku berusaha menenangkannya. Aku bilang kalau aku bersedia menemani mengurus surat kehilangan di kantor kepolisian. Toh, kartu-kartu di dompet juga nggak ada yang begitu penting, karena si partner memang selalu memisahkan STNK, KTP, dan SIM dari dompet. Bukannya menjadi tenang, si partner malah menjadi-jadi. Ternyata ini masalah surat berharga yang kalau jatuh di tangan yang salah bisa berbahaya. Jadi katanya kalau cek itu ditukar di bank bisa langsung cair uangnya. Lumayan bisa beli dua motor tunai. Ehm.

Aku bilang: "Tenang dulu, kalau lagi seperti ini susah berpikir jernih, susah mencari jalan keluar." 
Diabaikan.

Aku bilang lagi: "Hakuna matata*, sayang! Jangan kuatir. Berharap saja kalau ada yang menemukan langsung mengembalikan, 'kan ada alamat di dalamnya."
Si partner malah mencak-mencak. "Apaan tuh hakuna matata? Ngga ada lagu hakuna matata-an!"

Aku mendadak sedih, pemirsah. Karena hakuna matata udah semacam kata sihir yang selalu kami pakai untuk menenangkan satu sama lain. Tapi dianya malah gitu.

Ya, singkat cerita, sebagaimana dengan manusia-manusia lemah yang lain, si partner akhirnya sampai ke titik di mana dia "mempertanyakan" keberadaan dan kekuasaan Tuhan. 
"Tuhan, kalau Kau ada tolong bantu aku!"
"Tuhan, sekali iniiii aja!"
"Woi, Tuhan, itu bukan jumlah yang main-main tau!"
"Kok aku ngga ditolong sih?"

Padahal kan, ngga mungkin di situ kita minta tolong dompetnya ditemukan, lantas dalam hitungan detik dompetnya tiba-tiba nongol? Ngga mungkin. Namanya juga Tuhan Yang Maha Esa, pasti Dia punya caraNya sendiri.

Dan pada akhirnya memang 'cara' itu datang. Setelah nangis kejer beberapa jam, si partner tiba-tiba dapat ide kenapa ngga diblokir saja, toh dia masi menyimpan kode produknya. Si partner memang beruntung. Duitnya ngga raib. Padahal dompetnya sudah hilang 18 jam, seharusnya yang 'mengambil' punya waktu yang cukup untuk melakukan aksinya. Tapi, ya gituuuuuuu, si Partner yang udah telanjur marah-marah sama Tuhannya itu cuma bisa tersipu malu sewaktu cerita ketika makan malam.


Tapi, besoknya, hal yang sama terulang kembali :(
Jadi ceritanya hari itu adalah pengumuman seleksi administrasi tes CPNS Pemda DIY. Si partner yang masih fresh-fresh-fresh graduated itu nekat mendaftar di formasi tenaga kesehatan walaupun tahu ijazah profesinya belum keluar. Ya, namanya tidak keluar sebagai peserta yang lolos dan berhak mengikuti tes selanjutnya. Aku tau dia sedih. Sedih sekali. Sebelumnya doi memang pernah 'diterima' di salah satu perusahaan HRD di Semarang. Tapi akhirnya dia harus menolak karena dia tahu itu bukan passionnya. Dan, sekarang dia malah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Doi sedih. Ia hampir depresi. Terkadang aneh juga memang, dia psikolog tapi mentalnya juga masih labil. (haha peace yaa partner) Anggap saja kamu memang belum pantas untuk kerja sebagai tenaga kesehatan di Rumah Sakit Jiwa Ghrasia, impianmu. Mungkin Tuhan Yang Maha Esa punya sesuatu yang lebih baik untukmu. :)

Nyatanya Tuhan memang punya. 
Buktinya kamu mendadak dapat kabar kalau ijazahmu sudah keluar. Buktinya aku mendadak ingat kalau seleksi CPNS di kota asalmu pendaftarannya masih dibuka. Dan setelah momen mendadak itu kita ngga punya waktu lagi untuk merenungi nasib dan kekalahan. Waktu menjadi sangat berharga sejak detik itu.

Kita langsung mengurus tiket penerbangan ke Pontianak. 

Lalu secepat kilat ke terminal, memesan dua tiket bis tujuan Semarang. 

Merutuk dalam hati, "Ayo bisnya berangkat, ayo bisnya berangkat!" 

Di perjalanan malah terjebak macet di Ungaran, tetapi harus tiba di kampusmu maksimal pukul tiga.

Kamu berteriak lagi, memohon Tuhan segera membantu keadaanmu. Dan kamu mengutuk keadaan jalan seenak jidatmu. Padahal kan memang selalu ada kondisi yang tidak bisa kita kendalikan. 

Lalu tiba di kampusmu pukul setengah empat. Kamu kesal ketika di lift berpapasan dengan pegawai yang tidak bisa membantumu. Kamu kesal. Aku cuma bisa diam. Dalam hati cuma bisa berdoa semoga kita ke sini ngga sia-sia.

Memang ngga sia-sia. Karena masih ada pegawai yang berbaik hati yang bersedia menolongmu memberikan ijazahmu. Kamu mengucap syukur. Kamu menarik kata-katamu tentang Tuhan yang terlambat memebri pertolongan. 

Lalu kita bisa bernafas lega, karena ijazah udah di tangan. Kita makan di kantin merayakan kemenangan sembari menyusun rencana untuk keberangkatanmu besok.

Lalu kita kembali ke terminal mengejar keberangkatan bis terakhir dengan menggunakan jasa taksi yang beternak kecoa :( 

Lalu akhirnya kita bisa mengejar bis keberangkatan terakhir dan merasakan betapa ngerinya duduk di kursi paling belakang :(

Lalu pelan-pelan kamu akhirnya bisa ceria lagi setelah rush-hour yang kita lalui. Walaupun sejurus kemudian kita dapat kabar bahwa jalan utamanya ditutup karena ada kecelakaan di Ungaran. Terjebak macet beberapa jam. 

Lalu, kamu kembali lagi seperti biasa, berkata: "Tuhan, sekali iniiiiiiii saja!"

Aku cuma bisa tersenyum. 

Kamu bertanya bagaimana mungkin aku bisa tersenyum dan santai-santai saja dalam kondisi seperti ini? Kost-ku yang tutup jam sepuluh, penitipan motor yang tutup jam sembilan, waktu yang semakin singkat untuk mempersiapkan penerbangan besok?

Hakuna matata, partner! Tidak perlu sekuatir itu. Aku yakin kita akan mengalami momen happy ending setelah ini, tidak ada yang perlu dikuatirkan.

Pada akhirnya memang si partner melaluinya dengan baik. Dia sampai di kotanya dengan selamat. Dia dapat mengumpulkan berkasnya dengan baik. Dan dua hari yang lalu telah dinyatakan lulus seleksi administrasi juga. Setelah kejadian itu, masih berani bilang: Tuhan ke mana saja? Tuhan ngga ada? Tuhan ngga baik?

Aku belajar banyak dari pengalaman yang dialami si Partner. Terkadang keadaan yang menjepit membuat kita mempertanyakan kehadiran dan kebaikan sang Pencipta. Itu manusiawi. Mungkin (menurutku) di sinilah pengertian kata "masih" pada lagu di atas. Saat kita berada pada titik di mana kita menganggap Tuhan menjauh, pergi, tidak ada, tidak baik, dan lain sebagainya itu, ternyata Tuhan masih saja sanggup untuk melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan. 

Coba pandang burung-burung di langit yang tiada menabur dan menuai, dan tidak juga mengumpulkan bekal di dalam lumbung untuk hari esok. Tetapi mereka tidak pernah kekurangan suatu apa karena mereka memang diberi makan oleh penciptanya. Dan juga coba perhatikan bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal tetapi tetap terlihat indah karena memang didandani oleh penciptanya. Jadi kalau burung dan bunga saja diperlakukan seperti itu oleh sang pencipta, bagaimana dengan kita manusia yang lebih mulia derajatnya? :)

[ maaf, ngga ada niat ceramah :D ]

Jadi apapun itu, HAKUNA MATATA pemirsah! Percayalah, tidak hanya sekali, tidak hanya dua kali, tidak hanya tiga kali, tapi berkali-kali Tuhan pasti campur tangan dalam hidup kita. Ehm. Masih ngga percaya Tuhan itu ada? Nih, pembuktian secara matematisnya: (haha)


Sekali lagi, hakuna matata ya,
@windapedia

nb:
hakuna matata berasal dari Bahasa Shawili (Tanzania, Afrika) yang berarti jangan kuatir. Orang Australia biasa menyebutnya dengan no worry, orang Amerika biasa menyebutnya no problem, orang Arab biasa menyebutnya la tahzan. Kalau kalian penggemar serial walt disney "Lion King" dan film asia yang berjudul 200 Pounds Beauty, kalian tidak akan asing dengan kata HAKUNA MATATA :)


4 komentar:

Anonim mengatakan...

Sebenernya tiap orang punya kesempatan untuk belajar mengenai spiritualitas dengan caranya masing masing.

ada yang menjadi santri, ada yang belajar di jalan.

belajar di jalan maksudnya setelah kebentur sana sini akhirnya dia berjalan mencari tuhannya.

Unknown mengatakan...

woww tulisan yang menginspirasi.. love it.. :)
btw ntar tolong jelasin ya rumus di atas,, malum bukan anak sains.. hehe..
tuh partnermu pasti belajar banyak dan jadi orang yang lebih calm sekarang.. ;)

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
windapedia~ mengatakan...

mas nino : anggap saja ini salah satu cerita dari masing-masing tersebut. esensinya cuma lebih ke berbagi pengalaman aja.

mikael : aku juga ngga ngerti tentang rumus-rumus itu kok. cuma asal comot aja dah :p