Minggu, 17 November 2013

Hujan, Buku, dan Eropa :)

Ngga ada yang spesial belakangan ini. Tapi entah kenapa rasanya rindu curhat ngga jelas di blog, menggalau, berbagi keluh kesah, atau apapun itu kalian menamakannya. Cerita-cerita yang ngga penting yang ditulis sekarang bisa jadi hal yang menyenangkan banget kalo dibaca nanti setelah sepuluh tahun kemudian. Bisa jadi. 
Lalu apa cerita yang akan kubagi?

Dear diary,

(eh, maksudnya, Dear blog tersayang,,,)

Belakangan tiap sore di Jogja pasti hujan. Aku suka hujan, tapi aku tidak suka kebasahan. Hujan membuat gerakku menjadi terbatas. Beberapa kegiatan yang sudah terencana dengan baik mau tidak mau harus buyar karena hujan menghalanginya dengan tidak sengaja. Lantas aku harus menyalahkan siapa?

Hari ini ngga bisa datang di acara #Ngayogjazz2013. Agak sedih, karena dari awal memang udah direncanakan untuk datang. Tapi, gara-gara hujan, ya, mau bagaimana. Dipaksain datang juga pasti ngga bakal nyaman karena basah. Terpaksa nunggu tahun depan, deh. Lulus ngga lulus yang pasti aku masih di kota Jogja, kok. Sungguh rasanya ngga ingin meninggalkan kota ini secepat mungkin :')

Oya, hari ini rasanya senang sekali. Tadi sore [menjelang malam] akhirnya kesampaian juga main di #SekatenanBuku2013. Sebenarnya itu rencana hari kemarin. Cuma karena, ya itu tadi, hujan deras yang ngga berenti-berenti jadi tertunda dan bisanya hari ini. Huhahihu. Tadi di #SekatenanBuku2013 juga terlihat agak sepi. Sepertinya hujan berhasil menghalau langkah setiap kaki-kaki yang ingin memberi jejak di tempat itu. Masa bodo. Yang penting hari ini mampir dan membawa pulang beberapa buku. 


Buku yang pertama mungkin sudah tidak asing lagi di mata pemirsah. Yuhu, Pride and Prejudice karya Jane Austen, cetakan Arcturus Publishing Limited, UK. Tadi itu ada beberapa versi terjemahan. Tapi disebabkan gaya bahasa yang berat dan budget yang seadanya, pilihannya jatuh ke buku ini. (padahal buku versi lain sampulnya terlihat lebih elegan huhu).

Nah, yang kedua itu judulnya Message in a Bottle karya penulis yang bukunya sering masuk dalam daftar New York Times Bestselling, Nicholas Sparks. Bentuknya hardcover, diterbitkan oleh Warner Books, USA. Aku belum pernah nonton filmnya, makanya langsung tertarik untuk beli.

Terus yang ketiga, The Stone Diaries. Penulisnya Carol Shields, diterbitkan oleh Vintage Books, Canada. Tertarik untuk beli gara-gara di sampul tertulis kalau novel ini meraih Penghargaan Pulitzer.

sedang pilah-pilih buku di @andorbookstore. Suka sama desain tokobukunya.

Hohoho, semoga aku punya waktu yang cukup untuk dihabiskan bersama teman-teman baru (baca: buku-buku baru). Mungkin butuh waktu yang agak lama untuk menaklukkan mereka. Butuh kesabaran juga karena pasti bakal menemukan banyak sekali istilah-istilah yang agak susah bagi otakku untuk mengartikan. Tapi aroma mereka yang sangat khas pasti akan selalu berusaha membuatku betah berlama-lama hingga menyentuh lembar terakhir. (tiba-tiba buku-buku fisika di rak buku teriak-teriak minta diperhatikan) -.-

Selain buku novel, tadi juga sempat beli buku fisika sama buku belajar bahasa Jerman. Hohoo. Belakangan emang keranjingan belajar bahasa Jerman (lagi). Otodidak sih, dan intensitas belajarnya disesuaikan dengan mood juga. Yeah. Buat persiapan aja kalau suatu hari nanti dapat suami yang ngajakin hanimun ke tanah Eropa. Atau mungkin mimpi untuk ngelanjut studi ke Jerman bisa jadi kenyataan. (#semoga #amin)

Bicara soal lanjut studi ke luar negeri, semua orang pasti punya mimpi untuk itu. Kalaupun ngga semua, ya kebanyakan. Dan aku adalah salah satu dari kebanyakan orang itu. Mimpi bisa lanjut studi ke luar negeri, syukur-syukur ke Eropa. Syukur-syukur dapet beasiswa. Syukur-syukur beasiswanya full biaya studi dan biaya hidup. Syukur-syukur, ah, aku tau hidup tidak semudah itu. Tapi, masa untuk bermimpi saja tidak boleh? :D

Jadi ingat sama Kak Riswan. Di umurnya yang masih seperempat abad tapi udah bisa lanjut studi sampe S3, udah pake beasiswa, full, di Belanda pula :3 Pengen, Kak! Tapi kalau boleh jujur, yang bikin pengen itu bukan karena kalau di luar negeri ilmu pengetahuannya lebih canggih atau lebih pinter. Bukan. Tapi lebih pada kesempatan untuk menikmati budaya di Eropa dan prestis yang didapet dengan beasiswa. Kalau ilmu, sih, masuk urutan kesekian. Haha. Bukan berarti ngga penting loh, ya.

Omong-omong beberapa hari yang lalu aku sempat menghadiri acara Pameran Pendidikan Tinggi Inggris yang diadakan oleh British Council di The Phoenix Hotel, Jogjakarta. Tapi waktu itu lagi ngga bisa berlama-lama di sana karena menjelang sore biasanya hujan cukup deras. Jadi aku harus bisa mengejar waktu, mendahului hujan dan tiba di rumah sebelum segalanya menjadi basah. Yeah, lagi-lagi soal hujan. Dan dengan waktu yang sesingkat itu aku ngga punya cukup waktu untuk menyimak dan menanyai satu persatu. Tapi, yang penting, aku bisa dapet doorprice kaos EducationUK secara cuma-cuma. Hohoho.

Katalog Pascasarjana University of Glasgow, UK, dibawa pulang, dijadiin motivasi.

Seandainya bisa memilih [seandainya loh yaaa, walaupun aku tau ngga bakal ada pilihan seperti ini :3 ], aku lebih memilih kuliah di Belanda atau Jerman daripada Inggris. Alasannya cuma satu: letak astronomis. Ya, Jerman dan Belanda secara astronomis terletak di benua Eropa. Sedangkan Inggris adalah pulau besar yang ada di dekat benua Eropa. Kan kalo di Belanda, mau mengunjungi daerah/negara lain itu gampang. Tinggal ngesot naik transportasi via darat langsung sampai. Kalo Inggris? Terbang dulu, atau ngga berenang dulu hoho. [Alesan. Padahal sebenarnya sama saja].

Semoga kesampean deh. 
Menjelajah Indonesia dulu, baru keliling dunia.

keep reading and always dreaming,
Winda❤

Beginilah ceritaku. Apa ceritamu?

nb. Gara-gara hujan, smartphone aku rusak. Kebasahan. Jadi, untuk sementara cuma bia dihubungi lewat fb, email, atau twitter.

nb.lagi. Sungguh aku rindu pasanganku.

Tidak ada komentar: