Selasa, 13 Agustus 2013

Cerita tentang KKN

Ray,
maaf,
aku terlalu lama tidak memberimu kabar, terlalu lama tidak berbagi cerita di sini tentang keseharianku, -hal yang sangat kamu nanti-nantikan-. Kenapa aku tidak menulisimu cerita lagi? Kenapa aku tidak membagikan kisahku lagi? Ah, Ray, aku sedikit tergugu mendengar keluhanmu. Bukankah kau tahu aku sangat menderita dengan koneksi internet di desa ini?

Namanya juga desa, Ray. Kau harusnya maklum.

Lalu, bagaimana keseharianmu, Ray?

(Haruskah aku menanyakannya di sini?)

Ray, yang namanya Kuliah Kerja Nyata itu ternyata seperti telur. Ada bagian yang putih -yang kusukai-, dan ada bagian yang kuning -yang tidak begitu kusuka-. Tapi kamu tidak perlu kuatir, Ray. Suka tidak suka aku tidak punya pilihan lain, -aku tetap menjalaninya dengan baik. Baik itu terpaksa ataupun senang hati.

Di sini aku banyak belajar, Ray, khususnya tentang karakter manusia. Mungkin itu bukan bagian dari disiplin ilmu yang kugeluti, tapi aku menyenanginya. Duduk, diam, lalu mengamati pribadi demi pribadi, seperti yang biasa kita lakukan! Persetan denganmu, Ray. Aku juga terkadang benci kenapa semuanya harus berkaitan denganmu.

(Aku bingung harus membagikan kisah yang mana, Ray?)

Teman-temanku baik. Bapak-ibu yang menampung juga baik Semoga aku juga dianggap baik sama mereka.

Kamu tahu sendiri, terkadang tidak banyak yang menyenangiku. Aku yang aneh, aku yang penyendiri, aku yang memiliki dunia sendiri. Kamu tahu itu, kan?

Ray,
aku terkadang rindu kamarku. Rindu markasku, -tempatku bebas melakukan aktivitas yang kusenangi. Tidur dan beranjak bangun jam berapa seenak jidatku. Tapi di sini, tidak semudah itu. Terkadang aku harus rela menopang kantong mataku agar tidak terkatup ketika menghadiri pertemuan dengan warga hingga tengah malam. Rela kotor-kotoran dengan tanah, membantu masyarakat menanam bibit cemara, belum lagi kulit yang semakin kering dan menghitam gara-gara seharian beraktivitas di bawah terik matahari. 

Hei,
aku tidak mengeluh! Bukankah katamu ingin mendengar ceritaku? :)

Aku tinggal dua kilometer dari pantai, Ray. Kadang, setiap sore, atau pagi, kami bermain ke pantai. Menyeberangi rawa (yang terkadang tingginya hampir selutut kalau air sedang pasang), melintasi semak berduri, dan berjalan di gumuk pasir yang menggemaskan. Terkadang karena ada urusan program, terkadang karena hanya ingin bermain saja. Aku selalu benci melihat pantai itu, Ray! Mungkin bukan pantai itu, tapi imajinasi bodohku yang mengandaikan dan mengharapkan kita sedang bermain di pantai bersama. Ah, kenapa harus kita?

Aku juga senang, ketika KKN bareng kamu. Ketika kita melintasi jalanan yang tidak rata, lalu bercerita tentang desa yang gelap, penerangan yang minim, lalu bintang yang bertebaran di langit sana. Katamu desa ini dingin, Ray. Tapi harusnya kau tahu, jauh lebih dingin kalau aku harus sendirian menjalani semuanya tanpa dorongan semangat darimu.

Aku senang sewaktu kau jagain aku yang tertidur ketika ocehan kepala desa tidak juga usai hingga larut malam saat kita menghadiri pertemuan di balai desa. Waktu itu ingin sekali rasanya merebahkan kepalaku di bahumu, tapi, huh, tidak mungkin. Norma kesopanan katamu. Baiklah.

Ingin segera pulang rasanya. Menjalani hari-hari yang normal.
Atau berlibur sejenak, menikmati hari yang luar biasa denganmu.

Sedikit lagi, Ray. Sedikit lagi akan kuselesaikan bagianku.

Winda.

Tidak ada komentar: