Jumat, 05 Juli 2013

Certa KKN: Pengabdian berselimutkan Kuliah Kerja Nyata

Kami mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada
Mengemban tugas dalam Tri Dharma mengabdi untuk negara
Kami mahasiswa KKN selalu siap mengabdi
Pada masyarakat dan pembangunan desa untuk nusa dan bangsa

Jiwa Pancasila adalah bentengku, sikap yang ilmiah menuntutku
Rasa tanggung jawab adalah ciriku, selalu menuntun langkahku
Kami mahasiswa KKN selalu siap mengabdi
Pada masyarakat dan pembangunan desa untuk nusa dan bangsa

Mars KKN PPM UGM terdengar lantang memenuhi aula Kantor Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, sewaktu upacara penyambutan mahasiswa KKN JTG 32. Upacara tersebut dihadiri oleh Bapak Camat, Bapak Kepala Desa, Perangkat Desa, serta Dosen Pembimbing yang akan menjadi saksi pengabdian kami selama dua bulan di daerah tersebut Ada setangkup rasa haru di situ, ketika kami harus memulai hidup mandiri dan bersosialisasi dengan masyarakat demi sebuah pengabdian untuk negara (katanya). Siang itu kami resmi memulai program Kuliah Kerja Nyata.

Rasa lelah karena berbagai aktivitas yang telah kami jalani dari pagi hingga siang tidak terasa lagi ketika kami akhirnya bertemu dan berbagi cerita dengan bapak perangkat desa. Letih dan penat sewaktu persiapan pemberangkatan sejak jam enam pagi ditambah perjalanan yang memakan waktu tiga jam lebih hilang seketika begitu kami menghirup udara pedesaan yang segar dan (agak) bebas dari polusi. Dikatakan 'agak' karena memang desa memiliki jenis polusinya sendiri, seperti polusi kotoran ternak sapi dan ayam, polusi kemenyan dan tembakau, serta polusi (ehm) asap rokok. Tapi itu jauh lebih baik daripada paru-paru harus kemasukan polusi sisa pembakaran kendaraan bermotor setiap harinya.

Sejak awal dosen pembimbing telah menegaskan, bahwa sejatinya KKN adalah sebuah pengabdian untuk masyarakat desa. Namun, bukan berarti kami harus menyumbang banyak materi untuk memajukan desa tersebut. Tidak. Yang harus kami perhatikan betul adalah bagaimana kami dapat bekerja sama dengan masyarakat dan mengajak mereka untuk berswadaya dalam membangun desa. Toh, mahasiswa juga pada dasarnya masih meminta-minta pada orangtua, jadi kenapa harus iuran untuk membangun jembatan?

Semuanya berawal dari sini. Cerita untuk beberapa postingan ke depan akan berkutat seputar tentang KKN ini. Kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya. Selamat membaca kisah selanjutnya.

02 Juli 2013
(baru ada koneksi internet)

Tidak ada komentar: