Saat menulis postingan ini, aku sedang berada di salah satu warnet, sedang pusing menghirup aroma asap rokok yang mau tau mau harus kunikmati bersama pendingin ruangan yang menusuk tubuhku. Aku harap dengan menulis ini aku dapat menghilangkan semua itu karena ketika aku mengingat segala hal tentangmu aku akan mendapatkan tubuhku menjadi baik-baik saja.
Sugesti?
Mungkin.
Kamu anestesiku.
Hei!
Bagaimana keadaanmu sekarang?
Aku masih ingat,
kemarin pagi ketika aku sedang menikmati keautisanku di SIC, kamu memberi kabar yang tidak baik. Katamu benda yang sangat sangat kamu butuhkan untuk membantumu menyelesaikan semua tugas-tugasmu, apapun itu, rusak lagi. Aaaah. Kenapa aku begitu berbelit-belit ngomongnya.
Oke kita flashback ke cerita sebelumnya, ketika kamarmu penuh dengan genangan air dari hujan yang merembes yang mengakibatkan laptopmu mati dan kamu harus kehilangan semua data-datamu, ketika wisuda tinggal di depan mata. Itu sungguh hal yang tak pernah terbayang sebelumnya, ya, aku pun sangat-sangat-sangat tidak ingin mengalami itu di kemudian hari.
Tapi berkat dukungan dari orang-orang kesayanganmu, akhirnya lewat juga, kan? :)
Kamu kuat, aku tau.
Kamu ngga semudah itu untuk mengeluh, aku tau.
Kamu nangis juga untuk mengungkapkan rasa sedihmu, aku tau itu.
Tapi,
Tuhan sedang senang bercanda denganmu, mungkin (menurutmu) di waktu yang tidak tepat.
Bagaimana mungkin, kamu yang baru saja berhasil melewati nerakamu harus terjatuh lagi di dalamnya?
Aku juga tau, bukan seberapa berat cobaan yang harus kamu lewati lagi. Tapi ini masalah energi. Kamu udah kehilangan semuanya di pencobaan-pencobaan sebelumnya. Ini bukan yag kedua. Bukan pula yang ketiga. Ini pencobaan yang ke.....entahlah. Saking banyaknya kamu jadi sampai lupa ini pencobaan yang keberapa.
Tapi kalau Tuhan sedang ingin becanda lantas kamu bisa apa?
Kamu hanya bisa mengikuti alurnya. Kamu harus menerimanya dengan lapang dada.
Tapi, kamu sedikit marah.
Marah bukan kepada Tuhanmu, aku tau. Kamu hanya marah dengan keadaanmu, dan ketidakmampuanmu menolak nasib.
Kamu kesal.
Kamu lelah.
Kamu ingin menghentikan semuanya.
Kamu memutuskan untuk menyerah.
Menyerah?
Berhenti?
Masa bodo?
Huh, padahal tinggal selangkah lagi.
Dan aku hanya bisa diam.
Kamu semakin kesal. Harusnya sebagai pasangan aku bisa menyemangatimu lewat ucapan dan kata-kata lisan. Tapi aku tidak bisa.
Satu-satu hal yang bisa kulakukan adalah bertindak.
Seketika percakapan kita terputus, aku langsung kehilangan akal sehatku.
Bodohmu menular.
Aku bergegas menyiapkan laptopku dan berusaha mengantarnya sendiri ke kotamu.
Bodoh, iya.
Jarak kita sangat jauh, kita berdua tau itu.
Aku besok ada kuliah, aku tahu itu.
Aku kamis harus presentasi dan sangat banyak yang harus kutinggalkan demi ke kotamu, aku seakan-akan tidak peduli.
Yang berputar-putar di otakku adalah bagaimana kamu bisa semangat dan berjuang lagi dengan adanya hadirku di sampingmu walaupun sesaaat dan adanya laptop yang bisa kamu pinjam sementara.
Hihi.
Hari telah gelap ketika aku tiba di kotamu.
Aku sebenarnya takut dengan kesendirianku, tapi aku tak mau peduli.
Aku sebenarnya takut dengan penolakanmu, tapi ini sudah telanjur terjadi.
Lalu ketika aku menghubungimu dan menceritakan keadaanku, kamu sangat terkejut.
Aku pikir kamu marah, nadamu terdengar sedikit aneh soalnya.
Tapi, di luar dugaan, kamu sungguh tidak menyangka aku rela berbuat hal bodoh seperti ini karena aku tidak mau kamu kehilangan semangat untuk berjuang.
Kamu terharu.
Katamu sih begitu.
Hihi.
Aku senang,
aku bisa berguna buat pasanganku.
Aku ngga bisa cerita banyak seperti biasa.
Kamu tau sendiri kan kelanjutan kisahnya?
Tolong jangan pernah menyerah untuk berjuang lagi,
garis finishmu tinggal selangkah lagi,
tolong berilah yang terbaik
aku mohon,
pasanganmu,
Winda Asnita.
Btw, abis baca postingan ini jangan nangis yaaa :p

Tidak ada komentar:
Posting Komentar