Rabu, 27 Februari 2013

Ijinkan aku menemanimu

Ingin sekali menulis tentang kamu.

Kapan terakhir kali kita bertemu?
Rasanya telah berminggu-minggu lamanya sejak pertemuan terakhir, walaupun kenyataan berbicara 'dua hari yang lalu'.

Aku masih ingat saat kita terakhir kali bertemu.
Ah, tidak! Kenapa aku menulis seakan-akan kita tidak akan bertemu lagi?

Ya, dua hari yang lalu. Harusnya itu hari di mana kamu kembali ke kotamu, melanjutkan rutinitasmu sebagaimana biasanya kamu mengisi hari-hari Senin-Kamis-mu. Kita memang terbiasa dengan hal yang mereka namakan hubungan jarak jauh. Jauhnya jarak kita seperti membelah pulau Jawa menjadi dua bagian: kamu di utara, sedang aku di selatan. Jauh sekali, walaupun lagi-lagi kenyataan mencibir 'tidak begitu jauh, kok'. Tapi tetap saja seratus kilometer itu sangat sangat sangat jauh untuk ditempuh, dengan berjalan kaki. 

Kamu harusnya balik hari itu. Harusnya.
Tapi entah kenapa ketika aku mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan keadaanmu saat dalam perjalanan pulang, kamu berkata bahwa kamu mengurungkan niatmu dan akan 'putar haluan' ke Jogja lagi.
"Feeling aneh," begitu katamu.
Aku hanya merasa 'lucu'.

Lalu, ingat, waktu kita makan malam berdua, kita sempat bermain tebak-tebakan. Aku hanya menganggap suatu kebetulan ketika kamu berusaha menggambarkan keberadaan lorong menuju dapur, tentang satu warna yang benar dan warna yang salah.
"Terkadang kami memang dilengkapi kelebihan seperti ini. Hari ini feelingku sangat tajam. Atau jangan-jangan sekarang sedang bulan purnama, ya?" ucapmu sembari memeriksa langit.
Dan lagi, aku hanya tersenyum melihat tingkah 'serigala jejadian' di hadapanku.

Hingga pada keesokan harinya kamu benar-benar harus pulang untuk mengerjakan bagianmu.

Hingga pada akhirnya aku mendoakan semoga Semesta menjagaimu dalam perjalananmu.

Hingga pada akhirnya aku sibuk memandangi dan menunggu notifikasi dari telepon genggamku, apakah kamu telah sampai di kotamu.

Hingga pada akhirnya aku mencoba mengisi waktu 'menunggu'-ku dengan berbelanja di swalayan dekat rumahku.

Hingga pada akhirnya sesaat aku lupa kamu.

Hingga pada akhirnya ketika aku baru saja pulang, kamu meneleponku dengan nada yang, ah, sangat susah digambarkan. Nada yang tidak mengenakkan. Nada yang membuat jantungku cukup berdebar, tidak biasanya seperti ini.

Hingga pada akhirnya aku berusaha menebak apakah kamu pingsan di jalan. Dan ternyata bukan. Kamu hanya 'kesal' melihat rupa kamarmu setelah ditinggal seratus jam lamanya.

Hingga pada akhirnya aku berusaha menebak lagi apakah kamarmu dipenuhi sarang laba-laba atau tertutupi oleh tebalnya debu. Tapi, lagi-lagi, tebakanku salah. Aku memang tidak punya 'kemampuan' seperti yang kamu punya.

Karena pada akhirnya kamu menceritakan semuanya dengan berurai air mata.

Ah, sungguh aku hanya bisa terpaku mendengar ceritamu. Mendengar cerita tentang nasib yang sangat tidak berpihak padamu. Nasib yang mungkin bisa membuat kita mengadu dan menjerit 'kenapa harus aku' atau 'kenapa harus begini' atau 'seharusnya kemarin seperti ini'. Bagaimana mungkin, kamu yang seharusnya sedikit lagi menikmati hasil jerih-payahmu, kamu yang sebentar lagi bisa memakai jubah hitam kebesaranmu, mesti menghadapi kenyataan yang dengan teganya langit tumpahkan padamu. Bagaimana mungkin perjuangan dan pengorbananmu ternyata harus dituntut lebih keras lagi, lebih lama lagi. Aku jadi mengerti maksud 'feeling aneh'mu beberapa saat yang lalu. Ternyata sangat buruk seperti ini. 

Semesta memaksamu memasuki neraka lagi. Kali ini tanpa permisi. Hingga kamu belum sempat mempersiapkan segala sesuatunya. Kejutan yang Semesta berikan kali ini benar-benar 'mengejutkan'. Aku tidak kuasa mendengar deritamu. Aku hanya bisa diam. Merutuk dalam hati, harusnya bibirku mampu membisikkan kata-kata yang menguatkanmu, membuatmu tenang sejenak, atau apapun itu. Tapi entah kenapa saat itu bibirku sangat kelu, seakan-akan dijahit sangat rapat dan susah untuk mengeluarkan suara. Aku beku.

Ternyata selama ini aku salah.
Selama ini aku berpikir bahwa kehilangan orang yang kita kasihi adalah gelora badai yang paling menakutkan. Tapi hari itu pikiranku terbuka. Ada hal yang lebih mengerikan dari sekedar putus cinta. Ada hal yang lebih mengerikan daripada kehilangan 'manusia' dari sisi kita. Kehilangan 'sesuatu yang dengan susah payah kita perjuangkan' dalam hitungan detik bisa juga menjadi momok yang, ah, seharusnya tidak pernah kita alami. Tapi nasib berkata kamu -mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap- harus mengalami itu.

Dan babak selanjutnya, kekonyolan pun dimulai.
Mungkin kamu yang masih di bawah pengaruh 'keterkejutan'mu atau mungkin aku yang juga 'bingung' harus berbicara seperti apa, menyebabkan kita jadi serba salah.

Idiotmu keluar.
Dan aku cuma bisa diam.

Aku tidak habis pikir betapa bodohnya kamu yang berencana pergi dariku, -meninggalkanku-, berkata bahwa kamu harus 'membenahi' semua 'masalahmu' hingga pada akhirnya nanti jika telah selesai kamu akan datang kembali dan kita akan bersenang-senang bersama lagi. Lalu dengan bersusah payah hingga mulut berbusa aku meyakinkanmu bahwa aku pasanganmu dan kita akan menjalani semuanya bersama. Tidak hanya saat sedih. Tidak hanya saat senang. Tapi dalam semua keadaan, seperti apapun itu. Tapi kamu 'menolak halus'. Kamu berdalih bahwa itu adalah bagianmu dan kamu tidak ingin melibatkanku dalam kesusahanmu. Pasangan yang baik menurut defenisimu ya hanya sebatas menikmati kesenangan bersama semata. Penderitaanmu adalah penderitaanmu, tapi penderitaanku seharusnya penderitaanmu juga.

Kamu bodoh.
Prinsipmu sungguh konyol.
Lalu apa gunaku sebagai pasanganmu?

"Kamu cukup menemaniku di saat bahagia saja. Itu gunamu sebagai pasanganmu."
Lalu aku ingin pergi saja entah ke mana.
Itu sungguh tidak adil.

Mungkin aku tidak bisa memberikan alasan yang tepat kenapa aku harus menemanimu dalam nerakamu. Mungkin aku juga terlalu gampang menyerah dengan semua alasan yang dengan matang kamu bantahkan. Lebih dari sekedar perasaan, banyak alasan kenapa aku ingin sekali menemanimu. Aku juga ingin belajar menjadi lebih kuat lewat kamu, lewat pelajaran hidup yang kamu dapatkan. Dan aku juga ingin meyakinkanmu kalau sepahit apapun itu, kamu tidak sendirian.

Aku tidak menjanjikan dengan adanya aku semua akan baik-baik saja. Aku tidak menjanjikan dengan kehadiranku semua kesakitanmu serta merta menghilang. Tapi aku percaya, berdua kita akan menjadi lebih kuat.
Tolong, libatkan aku.
Jangan lepaskan gandenganmu.

Kamu bisa saja semakin benci dengan hujan,
tapi jangan pernah benci samaku ya,
aku mohon,
tetaplah kuat,

Winda Asnita :)

Tidak ada komentar: