Selasa, 26 Februari 2013

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Ini semua tentang Ray.

"Kau sudah menyebutkan berkali-kali pertanyaan besar pertama dalam hidupmu, Ray.... Kenapa kau harus menghabiskan masa kanak-kanak di tempat itu? Mengapa panti asuhan yang menyebalkan itu? Kenapa tidak di tempat lain.... Kenapa kau harus melalui masa kanak-kanak yang seharusnya menyenangkan justru di tempat yang paling kau benci sepanjang hidupmu."

"Ray, tidak ada kehidupan di dunia yang sia-sia...."

"Kau bertanya sejatinya karena sepotong koran tua itu, bukan? Berita dalam kertas koran yang sudah menguning. Kau bertanya karena kenangan masa lalu yang tidak pernah terjelaskan.... Itulah sejatinya yang membuatmu bertanya, apakah hidup ini adil?"

"Masalahnya kau tidak seharusnya jahat, Ray. Kau tidak seharusnya menjalani masa masa gelapmu dengan alasan karena hidup ini tidak adil. Kau tidak seharusnya menyalahkan orang-orang yang membuat kehidupanmu buruk, lantas mencari pembenaran-pembenaran."

"Ray, kehidupan ini selalu adil. Keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup tidak adil? Ah, urusan ini terlanjur sulit bagimu, karena kau selalu keras-kepala."

"Waktu itu kau sering bertanya mengapa Tuhan memudahkan jalan bagi orang-orang jahat? Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang baik? Itulah bentuk keadilan langit yant tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. Beribu wajahnya. Berjuta bentuknya. Hanya satu cara berkenalan dengan bentuk-bentuk itu. Selalulah berprasangka baik. Aku tahu kata-kata ini tetap saja sulit dimengerti. Aku sederhanakan bagimu, Ray, maksudnya adalah selalulah berharap sedikit. Ya, berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan."

"Ray, inilah jawaban atas pertanyaan keduamu. Apakah hidup ini adil? Jawabannya: YA."

"Ah, urusan ini memang menyedihkan. Amat menyakitkan. Kau layak bertanya, bagaimana mungkin langit begitu tega mengambil semuanya. Serentak dalam satu tepukan. Hanya menyisakan kau yang jatuh tersungkur, sendiri. Hanya mengembalikan kenangan-kenangan pahit masa lalu itu. Menusuk-nusuk hati."

"Inilah pertanyaan ketigamu, bukan? Kenapa langit tega sekali mengambil istrimu? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?"

"Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan.... Dalam kasusmu, penjelasan ini akan teramat rumit kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisi kau sendiri, yang ditinggalkan. Kau harus memahaminya dari sisi istrimu, yang pergi...."

"Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu. Bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang kau alami. Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang baik, dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat. Kau tidak akan pernah menemukan jawabannya, karena kau dari sisi yang ditinggalkan."

"Ray, kita sudah tiba di pertanyaan keempatmu. Kau sudah menyebutkannya dalam kenangan itu berkali-kali. Lima pertanyaan. Lima jawaban. Ini yang keempat.... Bagaimana kau merangkaikan pertanyaan keempat itu dalam sebuah kalimat? Ahya, tentu saja... ternyata setelah sejauh ini semuanya tetap terasa kosong, hampa. Ternyata semua yang kau miliki tidak pernah memberikan kebahagiaan seperti yang pernah kau dapatkan bersama istrimu, padahal kau memiliki segalanya, memiliki banyak."

"Ray, mungkin kau mendebat karena kau melakukan itu semua untuk menjawab semua perasaan kosong setelah istrimu pergi. Tapi apapun latar-belakangnya, orang-orang yang keterlaluan mencintai dunia tetap tidak akan pernah menemukan jawaban dari dunia. Dari harta-benda dunia.

"Dan di sinilah semua berakhir. Kita akhirnya tiba di pertanyaan terakhirmu, Ray. Pertanyaan kelima. Pertanyaan yang setiap malam muncul di kepalamu enam tahun terakhir ini. Kenapa ku harus mengalami sakit berkepanjangan? Kenapa takdir sakit itu mengungkungmu? Seperti empat pertanyaan sebelumnya, aku juga akan menjawabnya, tentu saja."

"Ketahuilah, Ray."
"Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur."

"Kau selalu merasa andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan. Kemudian kau akan membenak, pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit.... Kau tidak tahu apa itu, karena ilmumu terbatas, pengetahuanmu terbatas. Kau hanya yakin, bila tidak di kehidupan ini, suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibandingkan menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah."

"Kau benar, Ray. Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat, yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaanNya. Tahukah kau? Itulah janji menatap wajahNya. Menatap wajah Tuhan. Tanpa tabir, tanpa pembatas.... Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam tenggelam tiada artinya. Sungguh seluruh pesona dunia akan layu. Percayalah selalu atas janji itu, Ray, maka hidup kita setiap hari akan terasa indah...."




Terimakasih banyak buat om Darwis Tere Liye.
Rembulan Tenggelam di Wajahmu, benar-benar memberiku pelajaran berharga tentang hidup.

Nanti, aku akan menuliskan cerita tentang 'Ray'-ku.
Pasti.
Winda Asnita :)

1 komentar:

Tempat duduk mengatakan...

Meski bukan tentangku, kutunggu kisah Ray-mu