Minggu, 14 Oktober 2012

"Takdir"

Backsong: Seluruh Nafas Ini (Last Child ft. Giselle)
"Win, takdir itu cuman menentukan tiga hal: kapan kita lahir; dengan siapa kita akan bertemu; dan kapan kita akan mati. Selebihnya ditentukan oleh nasib," kata seseorang yang sedang memperjuangkan ambisi hidupnya.
Aku tergeming.
Otakku berusaha keras untuk mencerna rangkaian kata demi kata yang baru saja dilontarkannya.
Kenapa belakangan hidupku tidak pernah lepas dari kata yang satu ini: 'takdir'. Minggu lalu baru aja membahas tentang takdir dengan Irene, yang sependengarannya dari sebuah Dhama bahwa 'takdir itu yang akan mengikuti kita ke manapun langkah kita pergi'.
Katanya lagi:
"Kau ngga usah khawatir, Win, ke depannya mau gimana. Kau ngga usah takut, karena takdir itu yang akan mendekatimu dengan sendirinya. Takdir itu tidak akan menjauh walau jalan manapun yang kau tempuh. Sekarang tergantung kau sendiri, mau mengejar mimpimu atau engga."
"Tapi masalahnya, Ren, sampai sekarang aku belum tau mimpiku sebenarnya itu apa. Kosong." Aku menanggapi.
"Nah, memang kalau itu butuh proses, Win. Ngga mudah." Jawabnya.

Dan sekarang aku harus mendengar kata 'takdir' lagi dari orang yang berbeda.
Menurutku pernyataan mereka cukup berkesinambungan juga. "Dengan siapa kita akan bertemu" dan "takdir akan mendekatimu dengan sendirinya". Cukup sulit untuk dicerna memang, tapi jelas kedua pernyataan itu memiliki satu benang merah.

Sejenak aku merasa hasil akhir dari kuliahku adalah nasib yang harus kuperjuangkan. Hasilnya masih bisa diubah menjadi lebih baik tentu saja. Mungkin ini alasan kenapa dia berkata seperti itu. Tapi, menurutku kuliahku baik-baik saja.
Lalu, bagaimana takdirku?

"Cara kita bertemu lagi itu 'takdir' Win."
Menurutku sih ini hanya kebetulan. Seandainya aku tidak membaca ada namaku tertulis di situ, atau mungkin seandainya aku tidak membagi cerita tentang Surat Einstein untuk Tuhan-nya itu mungkin aku tidak akan menulis apa yang telah kutulis dan mungkin kamu juga tidak akan mengatakan apa yang telah kamu katakan.
"Aku tiba-tiba saja teringat, makanya menulis seperti itu." katamu lagi.
Rasanya seperti tidak mungkin. Adakah memang takdir itu seperti komedi yang membuat kegelian di beberapa scene kehidupan?

Tapi toh akhirnya kita bertemu lagi kan setelah sekian lama kita tidak bertemu.
Terima kasih telah mengajarkan banyak hal.

nb:
lagu backsongnya sepertinya juga berbicara tentang takdir. Kebetulan sekali ya, ketika hendak menulis cerita seperti ini, playlist Windows Media Player-nya malah memutar lagu dengan tema yang sama.
'jika memang.....' ... 'kau akan....' ; susunan kata menunjukkan hubungan sebab akibat kan?
Pertemuan kita direncanakan takdir kan?
Ataukah memang takdir dan kebetulan itu beda tipis?

Terimakasih, takdir
Malam temaram di Jogjakarta

nb lagi:
masih menyoal takdir, ini ada tambahan dari Irene

ternyata bicara tentang takdir tidak bisa ditulis dalam semalam suntuk :)

Tidak ada komentar: