Rabu, 21 Maret 2012

Pindah, dan selamat tinggal


Rabu, 14 Maret 
Jogjakarta


11.43 WIB
Aku sama sekali ngga ngeliat kamu di kelas. Aku pengen banget sms kamu buat nanya kenapa, tapi aku cuman bisa mengurung niatku. Aku tahu, kamu pasti bakal risih kalo aku nanya, sok pengen tau. Seperti kata kamu, kamu pengen bebas. Pengen kuliah ato ngga, itu urusan kamu.
Dan aku cuman bisa nulisin kamu surat.

13.46 WIB
Aku bingung, jarak kita ngga lebih dari lima meter, tapi satu katapun ngga terucap dari mulut kita. Bahkan, di saat bola mata kita ngga sengaja ketemu, kamu langsung buru-buru mengalihkan pandangan. Ironis ya..

14.22 WIB
Aku ragu untuk memberikan surat yang telanjur kutulis. Tapi aku bener-bener pengen kamu tau, apa yang aku rasain sekarang. Walaupun hanya sekedar tulisan yang berbicara.

14.39 WIB
Kamu ngga mau nerima suratku. Lantas kamu senyum (sinis) dan pergi, tanpa peduli gimana perasaanku. Kamu jahat. Aku pengen teriak manggil nama kamu. Tapi aku masih tau malu.
Huh.
Aku cuman bisa nangis di pojokan parkiran.



Kamis, 15 Maret 
Jogjakarta


07.35 WIB
Kusambut hari baru dengan perasaan yang sedikit mulai tenang, setidaknya ngga seperti tadi malam. Boleh dibilang agak baikan, walaupun bercampur rasa bimbang.
Bagaimana aku akan menjalani hari ini? Haruskah aku berterus-terang tentang semuanya? Tentang sesuatu yang terjadi tadi malam?
Ah, aku mesti segera packing.

10.25 WIB
“Tiket Senja Utama sore ini buat satu orang.”
Peron sangat sepi.

11.12 WIB
“Tiket penerbangan Jakarta-Medan buat satu orang.”
“Buat kapan?”
“Besok pagi. Jam delapan.”

Kira-kira jam setengah duabelas lewat waktu setempat
Aku berusaha mendatangimu. Kupikir ini kesempatan terakhirku untuk bicara langsung denganmu. Tapi lagi-lagi aku ragu. Bero memaksa. Ngga usah pikirin hasil akhirnya, yang penting aku udah coba buat ngomong.
Ya, aku lagi dalam perjalanan ke rumahmu.
Kita berpapasan di jalan. Untunglah aku ngga telat sedetikpun. Karena sepertinya kamu juga mau pergi.
Kita akhirnya makan siang bareng. Aku terlalu menikmati setiap detiknya, karena aku tahu ini bakal jadi yang terakhir kali kita makan siang dalam satu meja. Tapi sepertinya nafsu makanku lagi ngga bersahabat. Aku cuman makan sedikit. Aku badmood. Bagaimana mungkin kamu bisa cuekin aku seperti ini. Aku merasa seperti orang bodoh. Ngga punya teman bicara.

“Ga berani.” 11.53am 15-03-2012 message delivered Bero
“Ayo chan. Manfaatin waktu yg ada.” 11.54am 15-03-2012 sender: Bero
“Aku bingung. Dicuekin kan.” 11.55am 15-03-2012 message delivered Bero
“Ayolah chaaan.... Kapan lagi?” 11.56am 15-03-2012 sender: Bero
“Gaenak ya suasananya.” 11.56am 15-03-2012 message delivered Bero
“Minta waktu b2 ntr pas di kontrakan..” 11.59am 15-03-2012 sender: Bero
“Kalo gamau?” 11.59am 15-03-2012 message delivered Bero
“Dicoba dulu. Jgn pesimis.” 11.53am 15-03-2012 sender: Bero

Hampir jam satu
Sekarang tinggal aku dan kamu. Aku belum punya keberanian untuk bicara. Bibirku kelu ketika mendengar perkataanmu tentang komitmenmu. Menurutku itu ngga cukup adil. Gimana mungkin kita harus dikotak-kotakkan dengan doktrin bahwa dua orang yang tempat ibadahnya berbeda ngga boleh bersatu?
Aku benar-benar terenyuh. Aku akhirnya tau, ini ngga mudah buat kamu. Ngga mudah buat kamu untuk ngga mengacuhkan aku, untuk jahatin aku, untuk ngebuat aku jadi benci sama kamu. Memutar-balikkan perasaan, bisa dibilang seperti itu.
“Apa kamu pikir gampang, ngeliat kamu sedih terus? Apa kamu pikir gampang buat jahatin kamu? Ngga gampang Wind! Tapi mau ngga mau aku harus ngelakuin ini. Emang kamu mau kita gini terus? Emang kamu mau, sedikit-sedikit menderita tapi kamu ngerasainnya setiap saat? Lebih baik ngerasain sakitnya sekaligus, sekali menderita walaupun rasanya sakit banget, tapi cukup sekali. Abis itu selesai.”
Tangisanku semakin meledak dan aku cuman bisa meluk kamu erat-erat.

Mendekati jam dua
“Aku cuman pengen kamu nemenin aku sekali ini aja. Seharian. Aku janji ini yang terakhir.”
“Janji?”
“Ya.”
“Kamu mau pergi ya? Kapan?”
“Iya. Besok. Hehe..”
“Beneran?”
“Boong kok..”
“Dasar tukang boong..”
“Engga kok.”
“Terus mana buktinya?”
Lantas aku ambilin beberapa tiket dari dalam tasku.
“Berangkat jam berapa?”
“Ntar malem jam setengah tujuh.”
“Yaudah entar aku anterin..”

Kamu tau, reaksi yang aku harapkan lebih dari sekedar ‘nganterin’. Kamu sama sekali ngga sedih. Sama sekali ngga ada ekspresi kehilangan di wajah kamu. Aku berharap kamu bilang jangan pergi. Jangan sekarang, atau apa. Dan nyatanya, engga terjadi apa-apa sama kamu. Aku semakin sedih. Mungkin aku udah ngga penting lagi.

15.03 WIB
“Kamu ngga jadi main futsal? Aku temenin deh.”
“Ngga tau tuh, ngga dismsin sama anak-anak. Ngga jadi kali.”
“Yaudah kamu mandi gih. Udah jam tiga. Aku belum packing.”
“Aku bobo dulu deh. Bentar aja..”
“Yaudah, berapa lama?”
“Lima menit.”

Aku memandangi layar laptop kamu yang sedang menampilkan adegan pernikahan Edward Cullen dan Bella Swan dalam film Breaking Dawn. Aku tersenyum lirih. Mungkin dalam film, dua pribadi yang berbeda, manusia dan vampire, dapat dipersatukan cintanya melalui ikatan pernikahan. Namun, dalam dunia nyata, walaupun sama-sama manusia tapi hanya berbeda kepercayaan, tetap saja sangat sulit untuk dipersatukan.

Aku beralih ke wajahmu, yang sekarang sedang tertidur di pangkuanku. Aku mengelus-elus rambut kamu. Aku sedih. Ini terakhir kalinya aku bisa bareng kamu, seperti ini. Pasti berat untuk menjalani hariku tanpa kamu lagi. Dan bibirku cuman bisa bersenandung, menemani tidurmu.

Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa
Saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu

Aku terlalu cengeng. Aku meneteskan airmata di sela-sela laguku. Sejenak kamu menyuruhku diam. Ku rasakan juga tanganku basah. Kamu menangis? Kenapa?
Aku terenyuh. Akhirnya aku tau perasaan kamu. Aku tau berat buat kamu untuk berpisah. Berat buat kamu untuk terlalu menyembunyikan perasaan sayang kamu. Perasaan yang perlahan-lahan mulai kamu simpan di salah satu sudut tersembunyi di dalam hati kamu.
Aku pengen mengusap air mata kamu. Aku pengen memeluk kamu. Tapi ngga bisa. Aku tau pelukanku ngga akan bisa memberikan kamu kekuatan. Karena aku juga ngga kuat. Kita sama-sama rapuh. Lalu pada akhirnya kita diam. Mengusap air mata masing-masing. Memulihkan perasaan masing-masing.

16.00 WIB
Kamu pengen dibeliin tas sebagai hadiah terakhir dari aku. Jadilah sekarang kita di Mirota Kampus, sedang memilih-milih tas yang sekiranya cocok buat kamu. Ternyata kamu orangnya ribet juga :D tapi aku menikmatinya J Tasnya dijaga baik-baik ya..

18.30 WIB
Kita tepat waktu tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kereta udah standby mau berangkat. Aku ngerasa terlalu cepat untuk pergi. Bisa ngga sih waktu dihentikan sebentar saja? Aku pengen meluk kamu. Aku ngga mau pergi! Tapi aku harus.
Kamu cuman bilang hati-hati. Ah, kenapa ngga berterus terang saja soal perasaan.
Mungkin ini yang namanya perpisahan. Ketika tiba di ambang garisnya, kita cuman bisa menyesalkan adanya pertemuan.
Akhirnya aku pergi. Berusaha menahan keinginan untuk tidak menoleh ke belakang. Aku harus kuat. Sampai jumpa, matahari..

18.46 WIB
Kereta belum juga berangkat. Ternyata ada masalah di instalasi listriknya. Ah, kenapa tadi aku terlalu buru-buru. Begitu banyak yang ingin kusampaikan tadi, tapi waktu emang ngga mau kompromi.
Aku pasti akan merindukanmu.



Jumat, 16 Maret


Cirebon
01.10 WIB
Kita udah terpisah kurang lebih 300km. Aku benar-benar ngga nyaman di sini. Aku pengen deket kamu.

Bekasi
03.49 WIB
Aku berharap aku sedang bermimpi. Ya, ini seharusnya jadi mimpi yang sangat buruk. Di mana aku harus pergi dan mungkin ngga akan kembali. Mungkin.

Jakarta
04.14 WIB
“Aku ngga tau mau ngasi kabar ama siapa yauda aku sms kamu aja. Gpp ya.. I’m in Jakarta now.” 04.14am 16-03-2012 message delivered Matahari
“Hati-hati ya :* I’ll miss you.” 04.18am 16-03-2012 sender: Matahari

Cengkareng
07.48 WIB
Menelusuri lorong demi lorong. Aku jadi tiba-tiba berharap kamu mengejarku ke sini, seperti Cinta mengejar Rangga di ending film Ada Apa Dengan Cinta. Tanpa adegan kissing tentu saja J

07.58 WIB
Sebentar lagi pesawat akan terbang meninggalkan pulau Jawa dengan ketinggian jelajah 36000 kaki. Seandainya kamu ada di sini. Seandainya kamu melarangku pergi. Ah, seandainya..
Sampai jumpa, Matahari..

Medan
10.17 WIB
Suasananya sangat berbeda. Gerah. Panas. Sepanas hatiku yang penuh dengan amarah rindu. Rindu? Ya, aku merindukanmu ketika aku tau kita udah terpisah jarak kurang lebih 1600km jauhnya. Aku berharap kamu melakukan hal yang sama, walaupun sepertinya itu kelihatan sedikit mustahil.

Hampir jam sebelas siang
Sejenak aku merasa asing. Di mana-mana orang kelihatan sangat aneh. Ya, mereka berbicara dengan bahasa batak, bahasa yang sudah lama tidak akrab di telingaku.
Di jalanan aku mendengar bapak tukang becak berteriak keras karena disalip sama pengendara angkot. Di jalanan aku melihat seorang anak kecil yang membuka kaca mobil lalu dengan santainya membuang bungkus makanannya ke jalan sembarangan. Di jalanan aku merasakan macet yang sangat luar biasa disertai klakson yang saling beradu menggemai jalan raya. Di kota apa aku sedang terdampar?

21.16
Masih beberapa jam lagi untuk menuju rumahku. Lagi-lagi aku teringat sama kamu, matahari penerangku. Apa kabarmu?

Sabtu, 17 Maret

PematangSiantar
00.15 WIB
“Mungkin kisah kita t’lah usai, tak demikian cintaku.. Berakhir memang t’lah berakhir, namun ku tetap bersyukur.. Cintaku akan selalu tetap utuh padamu. Walau berpisah, namun hatiku bersamamu...”
Senandung Kisah Kita tlah Usai-nya Ello membangunkanku dari tidurku. Mobil berhenti untuk makan tengah malam. Aku termenung, kamu lagi mimpi apa malam ini, dear? Kalau aku sedang bermimpi, andai kamu ada di sisiku sekarang. Impian yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

Padangsidimpuan
07.11 WIB
Travel yang kutumpangi sudah memasuki perbatasan Kota Padangsidimpuan yang disambut dingin oleh kabut tebal yang menyelimuti. Sejuk. Aku deg-deg an. Sebentar lagi aku akan ‘pulang’.

08.42 WIB
Aku menghempaskan tubuhku di kasur kamarku. Sejenak aku menutup mata. Bagaimanapun juga kamar ini pernah jadi saksi bisu dari kisah kita.


Rabu, 21 Maret 
Padangsidimpuan 
Menjelang malam

Empatbelas bulan yang lalu, di tanggal yang sama, di tempat yang sama, pernah terjadi sesuatu di antara kita. Kala itu aku hanya ingin menjadi temanmu. Ya, hanya sekedar menjadi teman. Karena aku tau, ke depannya bakal sulit untuk kita mengukir cerita. Tapi, kenapa harus dipikirkan sejauh itu? Kenapa ngga dijalani saja dulu? Perbedaan itu seharusnya bukan alasan untuk menjadi penghalang persahabatan.

Tapi pada akhirnya kita harus mengakhiri cerita. Bukan karena kita ngga sanggup untuk melanjutkan kisahnya, tapi terkadang kita juga dihadapkan pada pilihan yang sungguh sama sekali tidak mengenakkan, namun tetap harus dipilih dan dijalani.

Mungkin ketika memulai bagian prolog, kita sama sekali tidak menduga akan ada hati yang tersakiti dengan cerita kita. Kita hanya mengira bahwa ini hanya sekedar cerita tentang kita berdua. Tapi kita salah. Terkadang orang-orang yang kita kasihi juga dapat berperan antagonis walaupun sebenarnya mereka kebagian peran yang tidak kita harapkan untuk seperti itu. Ya, inilah hidup. Epilog sendu harus menjadi penutup yang 'manis' untuk kisah ini.

Lalu, bagaimana dengan hati?

Hatimu.. Hatiku.. Perasaan kita?

Ya, mungkin udah saatnya untuk menutup buku.

PINDAH. Ke lembaran yang baru.

PINDAH. Ke cerita yang baru.

PINDAH. Ke kehidupan yang baru.

Cuplikan "pindah" dari Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika

Pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah PINDAH.

2 komentar:

Jejak Puisi mengatakan...

wewww... sedih amat sob... :(

windapedia~ mengatakan...

haha. aku cuman lagi belajar nulis cerita fiksi aja ;)