Selasa, 04 Agustus 2015

Bicara tentang menikah

Ada satu, teman sesama blogger, sangat aktif menulis di blog. Sejauh ini beliau sudah menulis lebih dari 50 postingan sepanjang tahun 2015. Wow, produktif beud yak! Blog beliau berisi tulisan-tulisan ringan, cerita tentang kesehariannya. Harus diakui memang, menulis secara konsisten itu salah satu hal mutlak yang seharusnya dimiliki para blogger.

Ah, saya seharusnya bisa lebih konsisten lagi mengisi blog ini dengan postingan cerita seru dan bermanfaat. Haha, bukan cuma sekedar curhatan galau a la a la anak abg labil. Maklumi saja, ya.

Belakangan, ketika sedang melakukan aktivitas blogwalking, tidak jarang saya tersesat di blog ibu-ibu muda yang sedang pamer-pamernya. Iya, pamer akan rumah tangga baru, aktivitas baru, status istri, calon ibu dengan calon bayi di perut mereka, dan hal lainnya seperti itu. Reaksi saya? Tentu saja iri dan pengeeeennn. Haha.

Saya perempuan berusia 22 tahun. Dulu, waktu masih duduk di bangku SMA, saya bercita-cita menikah di usia 22. Saya pikir itu adalah usia yang strategis untuk menikah haha. Lulus kuliah di usia 21, kerja satu tahun, lantas menikah. Tapi kenyataannya, usia saya sebentar lagi menginjak 23 sama sekali belum ada tanda-tanda akan segera menikah.

Sewaktu saya kuliah di semester lima, pacar saya bilang kalau orangtuanya mendesak dia untuk segera menikah. Kami terpaut usia 5 tahun jauhnya, dan dia adalah mahasiswa yang sedang berjuang di akhir pendidikan program masternya. Jadi saya sadar betul betapa memang dia sudah selayaknya untuk menikah. Saya awalnya berpikir bahwa dia hanya sekedar becanda. Tapi begitu doi bilang orangtuanya ingin datang ke rumah di Padangsidimpuan untuk melamar saya, saya menolak. Ternyata serius haha. Saya sebenarnya tidak begitu keberatan, tapi mama sungguh sangat tidak setuju huhu. Saya masih sangat 'unyuk-unyuk' untuk menikah, dan lagi saya masih berstatus mahasiswa. Jadi, kami (saya, pacar, ortu) sepakat untuk membicarakan hal ini ketika saya telah lulus.

Satu hal yang saya akhirnya tau, tidak ada perempuan batak yang menikah sebelum sukses. Jauh-jauh disekolahin kalau cuma langsung kawin untuk apa. Saya langsung menstigma di otak saya bahwa menikah dengan status mahasiswa adalah tabu dan sebaiknya jangan dilakukan.

Detik-detik menjelang saya lulus, saya terguncang hebat dengan kepergian Bapak. Saya menjadi anak yatim, dan semuanya tidak pernah sama lagi. Bapak pergi sebelum sempat ada pembicaraan tentang pernikahan putrinya. Sebenarnya Bapak punya dua anak perempuan. Satu anak dari istrinya terdahulu, satunya lagi saya. Kakak tiri saya (sebut saja begitu, walaupun di rumah kami tidak pernah menggunakan istilah anak tiri kakak tiri dsb) sudah menikah. Saya tidak tahu dan tidak peduli kapan dan dengan siapa dia menikah. Demikian juga Bapak. Saya juga bingung bagaimana seorang anak perempuan bisa menikah tanpa Bapaknya. Apa mungkin kakak tiri saya itu bilang ke pendeta kalau bapaknya sudah meninggal dan digantikan oleh wali lain atau siapa gitu? Saya tidak mengerti haha. Ya, intinya dia sudah menikah. Dan Bapak saya tahu dari orang lain. Ketika sudah punya anakpun tahunya dari orang lain. 

Sejak saat itu saya ingin ketika saya menikah nanti adalah pernikahan yang diberkati dan direstui orang tua. Saya ingin pernikahan saya nantinya adalah hal yang membanggakan buat Bapak, karena stok anak perempuannya sisa saya satu saja. Tapi itu tidak pernah terjadi. Bapak keburu pergi :( Mungkin kelak kalau saya menikah abang sayalah yang jadi ganti Bapak saya.

Beberapa minggu setelah Bapak pergi, saya sempat mengutarakan ke mama saya perihal tentang menikah. Mama bilang sebaiknya jangan, karena masih dalam masa berkabung. Katanya tidak baik. Apa kata orang nantinya, Bapak baru saja meninggal sudah bikin pesta meriah. Apalagi sebelumnya belum ada rencana dan pembicaraan tentang menikah dengan Bapak. Kalaupun terpaksa harus menikah (karena didesak si pacar), diberkati di gereja saja, tidak perlu ada resepsi. Resepsi dan acara adatnya ditunda setahun dua tahun. Gitu kata mama. Tapi yang saya tangkap betul, mama agak keberatan kalau saya menikah di usia muda. Tapi saya langsung protes, "Mami aja nikah umur 21 bisa kok, gua yang udah umur 22 juga pasti bisalah." Dan mama saya langsung menyerah dan percaya saya akan mengambil keputusan yang tepat karena saya sudah dewasa.

Menjelang yudisium, saya dan pacar akhirnya mengarah ke satu dilema: masa depan. Masalahnya, saya mendadak kerasukan akan impian, takdir, cita-cita, dan masa depan. Dulu, waktu masih kuliah, saya sering kali gembar-gembor akan impian saya lanjut studi di luar negeri. Cuma, karena alasan tidak baik meninggalkan pasangan dan berjauh-jauhan nantinya, jadinya impian itu saya kubur dalam-dalam (padahal mah saya juga otaknya tidak cukup pintar untuk bisa kuliah di luar negeri hahaha). Kami pun sepakat kalau saya kelak bekerja di kota tempat dia bekerja saja, supaya tidak LDR lagi dan tidak menyusahkan. Kenyataannya, saya malah kerasukan. Saya langsung seketika berkoar-koar tentang masa depan dan impian nyeleneh saya. Saya ingin kerja di Jakarta saja, setahun saja. Saya masih punya dua adik dan saya bertanggung-jawab atas pendidikan mereka. Takutnya kalau saya langsung menikah saya tidak bisa fokus lagi ke adik-adik dan mama saya. Pasangan saya memang sedikit takut dan kecewa, tapi dia pengertian.

Jawaban itu juga yang saya berikan ke orang tua pacar waktu janji saya akan 'kepastian menikah dengan anak mereka' ditagih menjelang saya wisuda. Dan saya pun tidak mengerti betapa kebodohan yang sudah saya buat. Saya berargumen kalau saya ingin bekerja dulu, setahun saja, di Jakarta. Kalau di Kalimantan perusahaan yang sesuai bidang saya begitu banyak. Dengan ngototnya saya, malah tidak memberikan kepastian apa-apa. Yang ada nantinya pasangan terlalu lama menunggu saya sedangkan usia terus bertambah.

Akhirnya, saya semakin jauh dari kata 'menikah'. Saya memilih untuk berkarir. Saya ingin 'balas jasa' ke mama dan adik-adik. Kapan lagi saya bisa punya waktu untuk mereka? Saya perempuan. Kelak kalau saya menikah pasti saya akan meninggalkan keluarga dan semakin jauh dari mereka. Saya tidak mau itu. Konsekuensinya? Iya, saya kehilangan pasangan dan harus melupakan impian menikah untuk sementara waktu.

Dan semakin ke sini, rasanya sangat menyesal. Hahahaha. Nangis kejer-kejer loh waktu nulis bagian ini :') :D

Saya sadar saya perempuan bodoh. Saya sungguh dibutakan ambisi yang bahkan pada akhirnya ngga bisa saya dapatkan. Kehilangan pasangan benar-benar bikin hati patah berkeping-keping. Hal-hal di atas adalah penyebab minor kenapa kami berpisah. Alasan mayornya? Mungkin karna kami sama-sama belum dewasa dan belum bisa memahami satu sama lain. Mungkin saya yang lebih banyak kurang memahaminya hahaha. Maafkan partnermu yang rada-rada bipolar ya, Ray :')

source

Dan itulah kenapa saya jadi sirikan kalau tiba-tiba nyasar di blog orang yang baru saja menikah haha. Membaca kisah mereka dan keseruan-keseruan mereka rasanya bikin aaaaaaaaaa sumpah jadi pengen nikah. Padahal dulu waktu kuliah kalo pasangan membahas topik ini, saya buru-buru langsung mengalihkan topik. Sekarang saya malah terkena sindrom' pengen nikah muda'. Haduuuhh.

Waktu tahun baru kemaren, sharing sama pasangan target tahun ini apa. Saya jawab 'menikah'. Walaupun tidak menikah, setidaknya tunangan dulu, atau minimal nyari-nyari info kalau mau cetak undangan yang murah di mana haha. Terus cerita-cerita lagi, nanti kita nyari rumah di perumahan yang ada satpamnya, yang pokoknya aman. Soalnya doi kemaren abis kemalingan di kontrakannya huhu. Lucunya, saya sudah request nanti kalau sudah menikah kita mesti punya kamar masing-masing dan juga kamar bersama. Nanti kalau sudah menikah, mobilnya jangan yang Avanza atau Xenia. Soalnya terlalu besar dan terlalu pasaran haha. Lucu sekali kalau ingat betapa naifnya saya. Betapa yang sudah direncanakan pun bisa jadi berantakan.

But the most important thing to share bahwa saya sungguh belajar dari apa yang telah saya dapatkan. Tidak kesampaian menikah, lulus kuliah malah mengidap penyakit yang merepotkan dan sampai sekarang pun belum bekerja, semuanya tidak mengenakkan. Jalan keluarnya ya cuma satu, saya harus menjalaninya sampai garis finish. Bahkan kalau bisa berlari supaya cepat sampai. Hahaha.

Oh iya, postingan yang terakhir saya baca ketika blogwalking adalah cerita tentang seorang calon ibu muda yang baru saja keguguran di usia kandungan yang masih beberapa minggu :( Turut berduka ya mba. Tetep kuat ya... Mungkin saya tidak tau bagaimana rasa kehilangannya, tapi saya percaya Mba bisa melewati masa-masa sulit itu. Semoga bisa segera pulih dan bisa mengandung lagi ya Mbaa.. :')

To you, my Ray, wherever you are, I miss you.
Can you read this?
♥W

Tidak ada komentar: