Sahabat kucoba angkat apa yang kau rasa kini
duniamu pun berkerut, tak satupun yang berarti
Aku terkadang merasa bahwa untuk beberapa hal aku tidak dapat diandalkan. Hidupku penuh dengan kegagalan. Apa yang kulakukan tidak pernah berujung sempurna. Aku lemah. Aku patah semangat. Aku jatuh di lubang yang sangat gelap dan terjal. Setiap saat meronta-ronta berusaha untuk memanjat dan kembali ke posisi semula.
Aku lulusan salah satu universitas ternama di negeri ini. Aku sangat-sangat sadar bahwa perjuangan orangtua untuk pendidikan anak-anaknya adalah hal nomor satu yang tidak boleh kuabaikan begitu saja. Harusnya aku cukup tahu diri. Jadi ingat beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan kereta dari Jakarta ke Jogja, ada orang asing menasihatiku. Sebenarnya dinasihati oleh orang awam itu rasanya sedikit canggung, tapi beliau benar. Hal yang disampaikannya adalah benar.
"Nak, kamu pintar. Cuma orang pintar yang kuliah di jurusan fisika. Apalagi di universitas itu. Tapi masa cuma dibiarkan begitu saja?"
"Kamu makanlah yang banyak. Jangan malas makan sayuran. Sayuran itu sumber banyak vitamin. Cobalah ikuti terapi. Kalau kamu mau dan rajin, itu sakitmu bisa sembuh. Kan sayang sekali kalau baru lulus kuliah belum bisa kerja karena sakit. Orangtua susah-susah nyekolahin," lanjut si Bapak.
Serius, pernyataan si Bapak itu cuma dapat tanggapan seribu bahasa. Aku udah bilang dari awal kalau aku lagi puasa ngomong. Kalau banyak bicara itu bawaannya sesak napas dan batuk-batuk ngga jelas. Eh, Bapaknya malah asik menggoda, panggil-panggil "Eh, Butet! Butet!" gitu. Fiuh.
Iya, aku sakit. Lagi sakit, dan belum tahu kapan sembuhnya. Tiap hari rasanya menderita. Malam-malam tidak bisa tidur nyenyak. Jangan berpikiran negatif yaa. Ini bukan sakit parah kok. Jangan samakan dengan sakit AIDS, kanker, tumor, atau penyakit parah gitu. Ini sakit yang menyebalkan, yang sudah berbulan-bulan belum juga hilang. Jangan kaget ketika kita berpapasan di jalan, kamu akan melihat rupaku tidak ada bedanya dengan tengkorak berjalan. Tapi, kumohon, nanti kalau kita bertemu, tolong jangan ledekin aku yaa. Orang sakit kadang sensitif hatinya.
Katanya, hati yang gembira adalah obat. Beberapa hari yang lalu Iren sempat menawarkan untuk berkunjung ke Grhasia lagi. Iya, Grhasia itu nama rumah sakit jiwa. Aku menolak. Bagaimana pun juga rasanya lebih baik fokus dulu ke fisik yang lagi sakit, psikis belakangan. Tapi, ya itu, hati yang gembira adalah obat. Selama masih merasa depresi dan tertekan, pengobatan fisik yang sudah berbulan-bulan memang rasanya sedikit sia-sia.
Tataplah kawan lain menjilati hidup ini
siapkan bingkai diri, siapkan masa depan
Kenapa harus cerita tentang ini? Sebenarnya postingan ini lebih ke caraku untuk memotivasi diri sendiri. Dan juga buat temen-temen senasib yang waktu baca postingan ini jadi merasa 'waah kok samaaa'.
Belakangan kesibukanku adalah mencari kerja. Yes, status pengangguran ngga enak banget melekat gitu aja. Apalagi gitu denger ada yang nyeletuk, "wuidih lulusan universitas anu mesti nyari kerja juga? kirain udah dapet kerja sebelom lulus." Kan langsung mendidih ubun-ubun :( Padahal mami bilang fokus untuk sembuh dulu lah, kerja dipikirin belakangan.
Ngga bisa. Aku punya impian. Aku punya cita-cita. Aku harus berjuang untuk masa depanku sendiri. Aku ingin sama seperti yang lain, sama-sama melangkah untuk mendapatkan tujuan mereka. Bahkan mereka telah berlari, kencang sekali. Masa hidupku hanya sekedar jalan di tempat? :')
Hari ini terlalu indah untuk diburamkan
dan kau terus hitamkan jejak langkahmu
Semoga saja ini hanya sebuah fase dalam hidupmu
dan kuharap itu bukan sisa - sisa umur
Aku ngga mau masa mudaku berlalu begitu saja. Ada hal berharga yang sudah dikorbankan ini, dan aku tidak mau pengorbanan ini berujung sia-sia. Cuma mungkin satu hal yang harus kusadari, perjalanan setiap orang itu tidak pernah sama. Dan mungkin jalanku harus seperti ini. Tidak mulus. Berbatu. Berkerikil tajam. Tapi, ya, satu-satunya cara menyelesaikannya adalah dengan lapang dada melaluinya hingga garis finish. Harus tetap kuat. Tidak boleh menyerah. Berjuang untuk menjadi pemenang di akhirnya.
Mungkin ini petuah bijak
Yang kau rasakan sebagai klise
Lelahkan kedua pasang telingamu
Sejauh ini aku banyak belajar hal. Dari pengalaman sendiri maupun dari cerita orang lain. Terkadang memang rasanya klise. Jengah juga mendengarnya berulang kali. Tapi, percayalah kawan, seburuk apapun kondisimu, semenderita apapun keadaanmu, jangan pernah menyerah menjalani hidup. Aku belakangan merasa kondisiku adalah yang paling mengenaskan di antara seluruh penduduk bumi. Tapi, setelah aku berbagi cerita dengan orang lain, nyatanya engga juga. Bahkan yang aku rasakan ngga ada apa-apanya dibanding mereka di salah satu sudut bumi di sana.
Mungkin dari luar kondisi fisik dan psikisku baik-baik saja. Tapi sebenarnya ngga juga. Dua-duanya berantakan. Aku depresi hebat, disebabkan beberapa hal. Putus aja tentu saja. Ingin mengakhiri semuanya juga pernah terlintas. Ngga cuma sekali, ngga cuma dua kali. Makanya Iren kemaren sempat panik dan takut ngebiarin aku sendirian. Depresi akut-lah yang membuatku mengambil keputusan untuk melangkahkan kaki ke rumah sakit jiwa. Kata Iren, kok sepertinya aku kasihan sekali. Sudah jatuh, tertimpa tangga, kejeduk tembok, pokoknya yang bertubi-tubi banget. Rasanya memang hidupku sedang memasuki fase 'percobaan Ayub'. Haha agak lebai memang.
Vero pernah cerita, tentang salah satu temannya. Dia bilang, "Kayaknya kamu masih mending deh Chan. Kamu masih baik-baik. Temenku, setelah bapaknya meninggal, sifatnya jadi berubah. Dia jadi sering kabur dari rumahnya sampe keluarganya kuatir."
Satu hal, sedepresi apapun rasanya, ternyata aku masih ada kuat-kuatnya juga. Haha.
Tuh kan, hidup kita ngga selamanya seburuk yang kita pikirkan. Cobalah untuk tetap tegar dan kuat. Jangan menyerah. Berjuanglah untuk orang-orang yang mengasihi kita. Jangan bilang ngga ada. Aku sampai sekarang bisa berjuang karena ingat Mami. Bukan teman, pacar, ibu kost, atau siapapun itu. Mami adalah alasan kenapa aku ngga boleh menyerah, sekalipun duri-duri tajam terus menusuk kaki ketika bejalan.
Bertahanlah. Garis finish pasti kelihatan.
Terangkan hari Tegakkan langkahmu
Sinari cita, Tancapkan asa
Lepaskan diri dari belenggu ini
Terimakasih telah membaca petuah bijak ini,
Winda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar