Kamis, 13 Juni 2013

Ketika aku menemanimu menonton pertandingan sepakbola


Anggap saja ini sebuah cerpen. Aku menulisnya untukmu. Khusus untuk mengenang betapa kamu.....ah, kamu memang selalu lucu dan menggemaskan. Imajinasi tak berbatas. Lalu kamu menaruh sebuah di otakku. Kamu titipkan, lalu aku tuliskan. Kamu sungguh spesial.
BACALAH, walaupun aku tahu kamu tidak suka membaca cerita yang panjang. Karena aku menulisnya untukmu. BACALAH HINGGA TITIK YANG TERAKHIR. :)

*****

Sore itu aku menghabiskan waktu bersamamu sembari menemanimu menonton pertandingan sepakbola. Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti di mana letak keseruan ketika ada dua puluh orang beradu mengejar satu buah bola, dan dua orang sisanya bertugas menjaga gawang mereka masing-masing. Yang lebih lucu, ketika salah satu dari mereka berhasil mendapatkan bola itu, langsung saja mereka menendangnya seakan-akan mereka tidak menghargai usaha mereka sebelumnya. 

"Itulah serunya sepakbola," katamu ketika aku menanyakan dan menyatakan argumenku. 

Aku sih tidak terlalu peduli dengan pertandingan sepakbola yang kamu sajikan hari ini, Indonesia Super League. Yang penting kamu memintaku menemanimu dan aku bersedia untuk itu, meskipun aku tidak terlalu menikmatinya dan malah berkutat dengan laptop kesayanganku, smiley. Banyak tugas yang harus kuselesaikan.

“Menurut kamu yang menang siapa, Persib atau Pelita Bandung Raya?” tanyamu kemudian sambil menyalakan laptopmu.

Aku menilik layar televisi. Persib terlihat gagah dengan jersey birunya. “Kenapa harus menanyakan aku?”

“Karena kamu pembawa keberuntungan buatku. Dan aku percaya, kamu bisa memprediksi hal dengan baik.”

“Huuh… orang awam saja tahu kalau Persib itu jago. Pasti Persib yang menang lah.”

“Yakin?”

“Secara subjektif juga aku bakal milih Persib. Tahu sendiri kan aku udah menyandang predikat bobotoh sejak aku SMA?" Ya, bobotoh abal-abal. Karena sekalipun aku tidak pernah menonton pertandingan mereka di lapangan hijau secara langsung, hanya melalui layar kaca.

"Tapi Persib nge-pur satu setengah, gimana?"

"Hah?"

"Iya, jadi Persib harus menang minimal dua-kosong."

Akhirnya aku mengerti, kamu sedang membicarakan judi bola. dunia yang kamu geluti belakangan ini. Sebenarnya, terkadang tanpa kamu sadari, aku sungguh sangat menyesal dengan peristiwa dua setengah tahun yang lalu. Ketika aku meninggalkanmu dan beralih ke partner baruku. Aku tidak sedang membahas aku salah apa atau kamu salah apa sehingga kita harus menapaki jalan yang berbeda. Hanya saja waktu itu aku tidak menyadari dampak kepedihan yang kamu alami. Kamu memilih jalur neraka untuk mengobati berbagai luka, jalur yang membuatmu benar-benar bisa merasakan dan melihatnya bagaimana gelapnya dunia hitam itu.

Aku selalu miris mendengar cerita tentang itu. Tentang dua kehidupan yang kamu jalani sekaligus. Dunia siang untuk perkuliahanmu, dan dunia malam untuk turnamen judimu. Tidak masalah jika kamu sekali -dua kali mengalami kekalahan. Toh, yang menanggung rugi kan bandarmu. Tapi, cerita tentang kemenanganmu justru membuatku lebih meringis lagi. Kamu berfoya-foya, membelikan sebotol-dua botol minuman alkohol ternama, lalu kamu rayakan dan habiskan itu sendirian di kamar kost yang pengap, yang dindingnya berselimutkan jelaga asap rokok. Meringis, karena kamu lebih banyak menangnya daripada kalahnya. Tidak terbayang betapa perihnya ginjalmu ketika teguk demi teguk minuman itu kamu habiskan.

Di sisi lain, semengerikan apapun dunia yang kamu pilih, aku salut karena kamu tetap memegang prinsip hidup yang sedari awal telah kamu teguhkan. Kamu tidak candu. Kamu tidak pernah terlibat hubungan dengan perempuan jalang. Kamu tidak merusak masa depanmu dengan hal-hal yang kamu tahu itu tidak baik. Kamu hanya menyukai kompetisi. Menjadi lebih kuat-kuat-kuat, dan semakin kuat. Menjadi lebih hebat dari musuh-musuhmu. Bagaimana aku tidak salut padamu, ketika di malam hari rutinitasmu hanya seputar kartu, judi, tanding, minuman, dan asap rokok, namun pada siang hari kamu tetap berprestasi di perkuliahanmu? Bahkan kamu dengan bangganya mengundangku menjadi pendamping wisudamu dan melihat prosesi kelulusanmu berselempangkan cumlaude. KAMU HEBAT! Sungguh, kamu hebat.

Dan lebih hebatnya lagi, kamu benar-benar telah meninggalkan dunia gelap yang telah mengikatmu selama hampir setahun itu.

Kalau soal judi bola sebenarnya itu sudah menjadi kegemaranmu sejak dulu, katamu bahkan sebelum mengenalku. Aku merasa tidak punya kapasitas apapun untuk menghentikan kebiasaanmu -yang bahkan telah kamu anggap sebagai pekerjaan- itu. Kamu suka memprediksi banyak hal. Kamu suka memprediksi kemenangan. Dan kamu melakukannya tidak pernah sembarangan.

Pernah suatu kali aku merasa sedih, ketika kamu memutuskan untuk menyendiri. Aku ingin ditemani olehmu. Tapi kamu bilang kamu tidak bisa, karena ada hal yang harus kamu lakukan. Waktu itu aku sama sekali tidak mengerti. Hingga keesokan harinya akhirnya kamu bercerita kamu baru saja menang. Ya, menang judi bola. Kamu menyendiri malam sebelumnya karena harus menganalisa pertandingan itu. Pemainnya ada berapa, ada masalah atau tidak dengan pemainnya, riwayat kemenangan pertandingan sebelumnya, sedang bermain di kandang sendiri atau di kandang lawan, dan lain sebagainya. Kamu sangat pintar. Walaupun hanya sekedar judi bola, tapi kamu melakukannya seperti sedang menganalisa orang yang mengidap depresi atau tidak. Jurusan psikologi yang kamu geluti memang benar-benar membantumu memenangkan judi bola itu.

Dan sekarang, kenapa kamu menanyakanku siapa yang menang? Bukankah kamu juga mempunyai kemampuan memprediksi hal dengan baik? 

"Kamu yakin nggak, Persib menang dua kosong?" tanyamu lagi membuyarkan lamunanku. Aku tidak begitu mengerti sepakbola. Aku tidak pernah serius menyukainya. Jadi, bagaimana aku bisa yakin?

"Persib pasti menang, tapi aku tidak tahu skornya berapa," jawabku seadanya.

Kamu lantas membuka situs judi bola kesayanganmu, memasang satu partai untuk kemenangan Persib.

"Kalau kalah, gimana?" aku memandang raut wajahmu sebentar. Takut prediksiku membuatmu kehilangan dua puluh lima ribu rupiah.

"Kalau aku ingat-ingat ya, kalau lagi bareng kamu aku nggak pernah kalah. Selalu menang."

"Kalau menang, memangnya dapat berapa"

Kamu tertawa. "Cuma tiga belas ribu. Karena masangnya partai menang-kalah, bukan berdasarkan skor. Tapi lumayanlah, cukup untuk traktir kamu makan penyetan terong malam ini."

Aku terdiam. Berpikir sejenak. Lalu tersenyum. Ternyata selama ini aku ditraktir pakai uang hasil judi. 

Kamu lantas menyaksikan pertandingan dengan seksama. Kamu tiba-tiba berkeringat dingin ketika melihat Pelita PBR berhasil mencetak gol untuk pertama kali di menit ke-31. Mungkin dalam hati kamu sedang berusaha menenangkan diri dengan berbisik All iz Well, All iz Well, seperti yang diajarkan Rancho di film Bollywood, 3 Idiots. "Kamu yakin kan, Persib bakal menang?"

"Yakin dong." Ah... kamu harusnya percaya kalau Persib tidak pernah kalah dari Pelita PBR.

Di menit ke-33, kamu menunjukkan layar laptopmu di hadapanku. Situs judi bola tergambar jelas di situ.

"Kamu lihat ini," kamu terlihat antusias sekali. "Cuma bayar 25.000, kalau menang aku bisa dapat 100.000. Hebat nggak tuh?"

"Kok bisa?" aku benar-benar tidak mengerti soal judi sama sekali.

"Jadi, kalau Persib bisa membalikkan keadaan menjadi 2-1 hingga babak pertama selesai, aku menang."

Aku berusaha menganalisa penjelasan yang baru saja aku terima. Dengan sisa waktu sepuluh menit, mungkin sedikit susah bagi Persib untuk mengejar ketinggalan, apalagi mengalahkan skor lawan. Dengan kata lain, Persib harus mencetak dua gol dalam waktu sepuluh menit.

"Nih, naik lagi nih jadi 400.000. Hebat nggak tuh... Cuma judi bola yang bisa begini, bayar 25.000 dapat 400.000."

Pantas saja kamu sangat menyukai dunia judi, terkadang mereka terlihat sangat menjanjikan. Tapi, justru dengan itu banyak orang yang terjerumus karenanya. Mereka pikir mencari duit itu gampang, hanya ongkang-ongkang kaki, plek, dapat duit. Mereka hanya mengandalkan keberuntungan judi, tidak mau bekerja salah. Paradigma yang salah. Tapi katamu yang kamu lakukan itu berbeda, jadi aku percaya dan terima saja. Aku juga tahu kamu yang sebenarnya.

"NAIK lagi nih, 700.000! Edan!"

"Kalau gitu, kenapa nggak dipasang saja?"

"Kemungkinan Persib menang di babak ini kecil. Tinggal tujuh menit lagi, dan mereka harus nyetak minimal dua gol."

"Aku pasang, ya?"

"JANGAN! Itu sama aja buang-buang duit 25.000!"

"Tapi kan masih ada kemungkinan Persib menang. Persib kan jago!"

"Lihat deh, Persib anteng-anteng aja dari tadi. Mereka nggak terlihat mau menyerang. Percuma aja kalo masang."

Aku menurut. Aku juga berpikir hal yang sama. Dengan sisa waktu yang sangat sedikit, kemungkinan itu sangat kecil. Ada, tapi kecil. Aku masih memperhatikan layar laptopmu, ada komedi apa lagi yang ditawarkan oleh situs judi yang satu ini. Kulihat ada panah kedap-kedip di situ. "Ini artinya apa?"

Kamu mengklik panah yang kumaksud. Dan sekilas kulihat ada ekspresi terkejut di wajahmu. "Edddaaaaannnnn!!! Naik jadi dua juta!! Benar-benar sangar!!"

"Mana sih?"

"Nih, liat, tapi jangan di-klik ya.. Ini udah menit ke empat puluh, mustahil Persib menang!" lalu kamu mengalihkan perhatianmu ke televisi. 

"Ini kok tulisannya empat juta ya?"

"Kamu salah liat, bukan yang itu..."

"Masa? Jadi yang mana dong?"

Kamu menatap layar laptop sebentar, dan, "EDDDAAAANNNNNNNNN!!! LIHAT, NIH, LIHAT!!! EMPAT JUTA!! SANGAR AH!! GINI NIH YANG NAMANYA JUDI!!"

4.750.000 memang bukan angka yang main-main, apalagi jika ditukar dengan angka 25.000. Tapi, tetap saja menurutmu ini adalah trik dari situs judi bola. Sisa waktu lima menit sebenarnya cukup mustahil untuk membalikkan keadaan. Pasti bakalan banyak orang yang tergiur dengan nominal yang ditawarkan, dan memasang sebanyak mungkin partai. Kalau tidak cerdas, judi bola hanyalah sarana untuk membuang duit dengan percuma. Aku sangat percaya bahwa dalam dunia judi, para pemain dituntut untuk mempunyai intelijensi dan kecerdasan yang tinggi. Tidak hanya kenekatan yang mengandalkan keberuntungan semata. Hanya mereka yang amatir yang bersikap seperti itu.

Aku mengusap rambut brekelemu sebelum pada akhirnya aku harus fokus lagi pada apa yang dihadapanku, tugas-tugasku. Toh, di babak selanjutnya aku yakin Persib bisa mengejar ketinggalan mereka.

Aku sedang berusaha mencari titik fokusku dan berpikir apa yang harus kuketik sebelum akhirnya kamu -dengan sengaja- melempar sisirmu ke arah laptopku. Sejak kapan kamu jadi doyan sisiran? Sejak aku mengejekmu brekele?

Spontan aku melihat ke arah televisi. Pemain berjersey biru itu sedang berusaha memeluk temannya untuk merayakan keberhasilan mereka ketika di saat yang bersamaan komentator bola berteriak gol dengan nada yang panjang.

"TUH, LIHAT KAN!! LIHAT, KAN!! PERSIB NYETAK GOL!! SATU - SATU!! PERSIB NYETAK GOL!!" teriakmu sambil menunjuk-nunjuk ke arah televisi.

Sergio van Dijk berhasil menyamakan keadaan di menit ke-43. Aku sedikit kagum, Persib memang sangat bisa diandalkan. Kagum juga, karena Persib bisa membuatmu sedikit gila dengan mengacak-acak rambut brekelemu. Membuat bentuknya menjadi semakin terlihat lebih brekele.

"Edan, ah! Padahal udah menit segini loh!" kamu berusaha kembali ke posisimu semula.

"Gimana, mau dipasang nggak?"

"Tinggal dua menit lagi. Mustahil lah. Paling sampai babak ini selesai, keadaan imbang. Lagian, mau masang sekarang udah nggak bisa. Situsnya lagi direfresh."

"Ya, sudah. Biasa aja lah kalo gitu, jangan gila." Aku kembali fokus ke laptopku. Berusaha tidak peduli dengan kamu yang terlihat kurang waras di sebelahku.

Pertandingan terus berlanjut. Hening. Kamu sangat serius memperhatikan pertandingan itu sehingga tidak sempat mengucapkan sepatah katapun. Sedangkan aku juga tidak ingin memecah-belah konsentrasiku dengan pertandingan dan judi bola itu. Aku percaya, pertandingan ini akan diakhiri dengan kemenangan Persib. Jadi, kenapa harus kuatir?

Pertandingan babak pertama mendapatkan perpanjangan waktu dua menit. Dan seketika waktu berjalan dengan sangat lambat saat dua kubu itu beradu dan bersaing untuk mendapatkan satu bola. Hingga akhirnya, di menit ke-47, Supardi berhasil menjawab semuanya. GOL! Babak pertama selesai dengan kemenangan Persib, 2-1.

Aku tertawa. Lucu sekali, bukan? Persib memang hebat. Mereka berhasil membalikkan keadaan di detik-detik terakhir.

Yang jauh lebih lucu lagi itu kamu. Aku cuma bisa tertawa sampai air mataku keluar. Menangis saking bahagianya melihat kamu menderita. Haha. Kamu jungkir bali, kayang, ngesot nggak jelas.

"HARUSNYA TADI KAMU MASANG AJA!! HARUSNYA TADI KAMU MASANG AJA!!" kamu jungkir balik, setengah teriak setengah menangis. Entahlah itu ekspresi apa.

Aku hanya bisa tertawa.

"HARUSNYA TADI KAMU MASANG AJA!! AHHH... KALO KAMU TADI MASANG, KAN BESOK KITA BISA PERGI KE BALI!!!" Lagi, setengah menangis setengah berteriak, dan sambil kayang kamu misuh-misuh.

"Kalo aku tadi masang, pasti aku bakal dimarahin. Nggak lucu kan, kita nggak temenan gara-gara 25.000?"

"EMPATT JUUTAAA KUU HILLAAANGGG!!! AAAAHHHH... EMPATT JUUTAAA!!! EMPATT JUUTAAA!!!" kamu berusaha ngesot dari dapur ke rumah tetangga. Pak Wal pasti mengira kamu sedang sedang gila.

Aku sangat menikmati pemandangan yang di hadapanku. Kamu grusah-grusuh, lempar sana-lempar sini, berteriak sama Tuhan, meminta waktu dikembalikan lima menit saja.

Ya, begitulah. Yang aku pelajari hari itu, judi bola bisa membuat orang menjadi tidak waras.

Jogjakarta, Juni 2013

7 komentar:

Unknown mengatakan...

haiii iin.. kamu tau kan ini siapa??
hehe.. kereeennn,, aku senang tulisanmu..
kmu seperti tau banget apa yang dialami oleh tuh orang di masa lalunya..
aku berharap kmu akan menulis lagi banyak tulisan seperti itu,, tidak mesti harus mengenai orang itu,, tapi setiap kejadian yang kmu gambarkan lewat tulisanmu yang membuat orang yang baca masuk dalam alam pikiranmu..
sukses ya sayang.. :) raih mimpimu..

windapedia~ mengatakan...

Hei!
Tumben ngasi komentar :D
sebenernya kalo diperhatikan dengan baik, tulisanku ini lebih fokus ke, hmmmm, kebodohan orang yang berkutat dengan judi bola itu, bukan ke masa lalu individunya. Itu cuma penggambaran setting aja, biar jelas.

Berarti tulisanku kurang mendeskripsikan tentang kebodohan orang itu kali ya? hmm, ini bisa jadi pelajaran ke depannya.

makasih, sudah membaca :)

Unknown mengatakan...

iyaa kurang mendeskripsikan kebodohannya,, tuhh orang idiot lohh..
nee barusan aja buat km nangis lagii.. :)
maap yaa.. tapii akan semakin banyak cerita kok yang kmu dapatkan..
ingat,, "menulis",, itu impian yang tidak akan pernah mati.. terus smgat sayang..

windapedia~ mengatakan...

sori, tadi aku nangis karna aku bingung. ternyata aku bisa judi juga :D aku sungguh merasa berdosa. jadi ingat kata pepatah, "pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik"

Anonim mengatakan...

entah kenapa baca tulisan ini aku jadi inget satu teman yang hobinya judi bola. Ya seakan-akan kehidupannya hanya berasal dari situ. Mungkin 11-12 denganku waktu dia sudah duduk di depan leptop, semua gak dihiraukan lagi kalo dia udh sibuk dengan yang namanya judi bola itu. Bedanya denganku, lebih senang untuk blogging walopun hanya sekedar 'kotak-katik' kode dan ganti-ganti tampilan serta sedikit eksperimen.

Entah dimana nikmatnya judi bola ini. Kadang yang aku tau dr 10 kali pertandingan temenku ini cuma menang 1 kali dan sisanya kalah, begitu menang kalo dihitung2 ya uang menangnya itu ya uang dia yang kalah sebelumnya.

Lebih enak maen bolanya langsung daripada berjudinya...

Btw, nice artikel :)

windapedia~ mengatakan...

Sebenarnya menang kalah itu kan hal yang wajar. Tapi kalo perbandingan menangnya 1:10 ya berarti dia emang ngga bakat hehe. Biasanya yg kayak gitu tuh lebih fokus ke janji manis nya judi; dapet duit banyak dalam sesaat, padahal ngga punya teknik sama sekali. Sepertinya loh ya :D

Iya sih, lebih asik ngeblog daripada mantengin situs judi. Toh aku juga ngga ngerti apa apa tentang itu. Hehe

By the way, Makasih banyak udah baca :)

windapedia~ mengatakan...

Sebenarnya menang kalah itu kan hal yang wajar. Tapi kalo perbandingan menangnya 1:10 ya berarti dia emang ngga bakat hehe. Biasanya yg kayak gitu tuh lebih fokus ke janji manis nya judi; dapet duit banyak dalam sesaat, padahal ngga punya teknik sama sekali. Sepertinya loh ya :D

Iya sih, lebih asik ngeblog daripada mantengin situs judi. Toh aku juga ngga ngerti apa apa tentang itu. Hehe

By the way, Makasih banyak udah baca :)