Entah mau dimulai dari mana.
Semua gara-gara Pak Jokowi.
Secara ngga langsung ini semua kesalahan Bapak Gubernur DKI Jakarta itu.
Jadi ceritanya kemarin malam aku dapet sms. Bukannya bilang kangen atau nanya kabar, dia malah sms cuma buat ngasi tau ada acara bagus di TVOne. Tentang 100 hari kepemimpinan Pak Jokowi katanya. Dan entah kenapa aku langsung tergopoh aku meraih remote tv padahal sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan isu politik dan klik, seketika layar menyala. Ada beberapa bapak-bapak berdasi sedang berdialog dan berdebat di sana. Sekilas aku memperhatikan dan menyimak perdebatan mereka. Dan seketika aku merasa lucu, hmm, ya lucu. Aku cukup tergelitik dengan opini-opini mereka. Salah satunya ketika mereka memperbincangkan tentang pengobatan gratis bagi warga Jakarta yang kurang mampu. Salah satu dari mereka berpendapat bahwa hal itu sebenarnya justru memotivasi masyarakat untuk sakit dan mendapatkan pengobatan gratis, ketimbang untuk sembuh. Ya, setiap orang memang boleh menilai sesuatu dari sisi yang berbeda. Tapi rasanya rugi banget deh kalo cuman menilik dari sisi negatif saja. Come on, Sir. Lihat sisi baiknya aja si.
Kesal, aku langsung mengalihkan perhatian ke laptop.
Dan ngga tau kenapa tiba-tiba otakku terpikiran oleh topik yang dibahas sama mereka tadi.
100 hari.
Oh, Pak Jokowi udah seratusan hari ya?
Terus kita gimana?
Penasaran, akhirnya aku iseng ngeliatin kalender dan mulai menghitung.
Hasilnya? Tradaaaa!!
Kita genap seratusan hari.
Kebetulan sekali.
Aku senyam senyum sendiri.
Acara di TVOne udah selesai. Lalu kamu meneleponku dan mengajakku berdiskusi tentang hal itu. Ya, begitulah kamu, sangat senang berdiskusi walaupun terkadang berujung menasehati. Hha. Aku mengutarakan beberapa pendapat dan argumenku tentang mereka tadi. Kita bertukar pikiran. Lalu kamu berkata ya memang seperti itulah manusia. Momen seratusan hari biasanya dipakai untuk mengkritik dan berbicara tentang keburukan/kekurangan yang ada. Aku menyimak pendapat kamu, mendengar sembari menunggu saat yang tepat hingga ada akhirnya aku bisa berkata. "lalu bagaimana dengan kita?"
Ya, kita juga harus dievaluasi.
Kita. Hubungan kita. Seratusan hari kita.
Sejak pertama kalinya bertemu kita. Haha. Aku lebai.
Kamu kaget.
Pasti kamu juga sama kan, ngerasa padahal baru saja kemarin kita ketemu? :))
Menanggapi pertanyaanku, kamu mulai dari kelebihan terlebih dahulu. Panjang lebar kamu bercuap-cuap memuji pasanganmu. Lalu kamu menuturkan beberapa kekuranganmu, yang katamu tidak terlalu menjadi masalah buatmu. Kamu percaya bahwa aku juga akan belajar dari proses yang udah kita jalani bareng.
Hingga pada akhirnya kamu berkata tiba saatnya giliranku.
Lalu tiba-tiba dunia serasa berhenti berputar.
"Hah!"
Lalu bibirku kelu untuk beberapa detik lamanya.
Otakku bergelut menelisik kata dan kalimat untuk merangkai tentang kamu, kelebihan dan kekuranganmu, beberapa menit lamanya.
Aku bisu.
Kamu menunggu.
"Aku ngga tau."
Lalu kamu kesalnya setengah mati.
Masa sejauh ini aku tidak punya gambaran sama sekali.
Telepon pun mati.
Tentu saja aku sangat menyalahkan Bapak Jokowi dalam hak ini. Ini kesalahan beliau sepenuhnya kenapa kamu mendadak jadi kesal dan kecewa.
Jangan bete lama-lama ya,
Winda Asnita :3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar