Aku bercerita.
Aku menceritakan apa yang aku alami hari ini. Kesedihanku, kekecewaanku, dan tentu saja beserta penyebabnya. Aku tidak tahu bagaimana cara mengutarakan yang baik agar dia tidak marah. Jadi kuutarakan saja sebagaimana aku bisa. Karena cepat atau lambat memang dia harus tahu tentang ini. "Bentuk tanggung jawabku terhadapnya", aku mengistilahkannya seperti itu.
Dan memang dia tidak marah.
Bahkan terkesan biasa aja.
Atau sebenarnya dia sangat kecewa? Dan menyembunyikannya? Bersikap seakan-akan itu bukan masalah?
Dalamnya hati siapa yang tahu.
Ya, -sepengetahuanku- dia tidak marah, tidak menyalahkan, juga tidak terlalu menasehati.
Dia hanya mendengarkan, lalu berkata: "Ya sudah."
Lalu dia menyemangati. Katanya masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, menjadikan semuanya pembelajaran.
Aku senang.
Aku senang bukan karena kesalahan yang telah kulakukan.
Aku senang karena dia sangat mengerti kapasitasku, kemampuanku, kemauanku.
Lega.
Tapi tentu saja aku tidak ingin terus-terusan seperti ini.
Tentu saja aku tidak ingin semuanya, hidupku dan ambisiku, hanya jalan di tempat.
Suatu saat nanti aku akan membuktikan bahwa aku juga bisa dibanggakan.
Tapi, tidak di jalan ini.
Beruntungnya, dia tahu aku punya duniaku yang lain, kesukaanku yang lain.
Hard to say, but I really love you Mom.
even sometimes we have different thought, even though our emotion is not too close,
but I believe you do understand with my passion and do care with my future.
Thanks, Mommy,
your only sweetest doughter:
Winda Asnita :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar