Selasa, 25 September 2012

Dialog dengan Tuhan

Tuhan diam.
Aku bercerita lagi.
Mengadu dan mengeluarkan semua keluhan yang tak seharusnya aku uraikan.
Ia Tuhan.
Harusnya aku juga diam. Bukankah Tuhan dapat membaca pikiran setiap manusia?

Tuhan berbisik,
"Nak, aku begitu mengasihimu."
Lalu kukatakan pada-Nya apa yang kurasakan.
Terkadang aku juga butuh bukti nyata daripada hanya sekedar pengakuan.
Aku mungkin terlalu menutup mata.

Lalu Tuhan berkata,
"Nak, harusnya kamu bisa lebih peka. Aku mengasihimu."
Lalu aku katakan pada-Nya bahwa aku juga memiliki kasih.
Aku mengasihi Dia.
Tapi kasihku tidak dapat mengimbangi tentu saja.
Lalu aku menunduk.
Aku rendah.

Sesaat kemudian Ia berkata lagi,
"Nak, belajarlah memelihara kasih. Kasih yang daripada-Ku tidak akan pernah habis. Tapi kamu juga harus memelihara kasihmu pada-Ku agar ia tidak menghilang. Peliharalah, biarkan Ia bertumbuh."
Aku terdiam.
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Lalu dengan terbata, aku menjawab,
Bagaimana...
Bagaimana jika aku mengasihi seseorang yang tidak seharusnya kukasihi.
Bagaimana...
Dan bagaimana jika aku mengasihi seseorang yang tidak engkau perkenankan.
Kasih yang aku tahu tidak akan pernah sejalan.
Kasih yang kelak tidak akan menemukan garis finish.

Lalu aku mendengar Dia berkata.
Tegas.
"Nak, kamu harus lebih banyak belajar."
Aku membisu.
Tapi pikiranku cukup berisik.
Dia pasti bisa dengar.
Di pikiranku aku berkata,
Aku belajar mengasihi.
Aku belajar mengasihi sesamaku yang juga ciptaan-Mu.
Yang dengan kesadaran-Mu engkau hadirkan itu.
Sesuatu yang berbeda, kasih yang berbeda.
Kupikir aku harus mengasihi tanpa harus mempermasalahkan sesuatu yang lain itu.
Semuanya (harusnya) sama.

Dia tersenyum.
Kenapa dia tersenyum?
Aku tidak dapat menyelami pikirannya.
Aku tidak layak untuk itu. Aku tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Dia masih tersenyum.
Kemudian berkata lembut,
"Nak, suatu saat nanti kamu akan mengerti."

Aku termenung.
Kenapa aku harus disuruh menunggu?

Lalu aku tersadar.
Tuhan berbicara.
Semoga aku tidak sedang gila.

Bukan catatan seorang atheis.
Jogjakarta. 2012.

1 komentar:

kurnaen mengatakan...

bagus tulisannya, Tuhan itu kan pendengar yang baik kan. :D

event blogger: tantangan Kreatif 30 karakter, berhadiah uang tunai Mingguan dan hape Android.