Halo, kamu yang pernah jadi bagian dari masalaluku. Kamu yang ternyata diam-diam dengan setia menunggu postingan terbaru blogku, yang mungkin dengan harap-harap cemas menunggu apakah aku akan membagikan ‘kisahku dengan pasanganku setelah kamu’ di dunia mayaku. Ya, kamu. Postingan kali ini aku persembahkan terkhusus untuk kamu. Nikmatilah setiap guratannya :)
Aku harap kamu tidak kecewa karena postingan ini bukan tentang cerita nostalgia antara aku dan kamu di suatu masa dulu. Bukan juga tentang tanggapanku terhadap tawaranmu beberapa hari yang lalu. Ini hanya sekedar ungkapan yang tidak bisa kuutarakan dengan langsung. Aku pengecut? Tidak. Hanya saja aku udah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berkomunikasi denganmu lagi. Klise sih. Tapi itu cukup berdampak baik buatku. Buatmu juga tentu saja.
Aku sebenarnya marah ketika tau orangtuamu tidak menyetujui aku sebagai kekasihmu. Aku yang bermata lebar menjadi alasan bagi mereka untuk tidak merestuiku sebagai pasangan kamu yang bermata sipit. Iya, suku kita berbeda. Klise banget. Tapi, namanya juga orangtua, tindakan protektif seperti itu pasti embel-embelnya ingin ngasi yang terbaik buat anaknya. Apalagi kamu, yang notabene putra pertama mereka. Aku bisa apa. Kamu yang bilang seperti itu.
Aku sebenarnya marah ketika pertemanan kita mulai sedikit merenggang, kamu menghadirkan seorang teman barumu di antara kita. Tentu saja sebelumnya kamu mengkambinghitamkan jarak dan juga sifatku yang tidak bisa mengimbangimu. Ya, aku sangat marah. Tapi katamu dia jauh lebih baik, lebih dekat denganmu, dan cukup mengimbangimu, lantas aku bisa apa.
Aku sebenarnya marah ketika pada akhirnya kamu mulai memutuskan tali pertemanan kita. Sudah cukup kita dipisahkan oleh ganasnya jarak ribuan (sekarang ratusan) kilometer, tapi kamu masih saja memblokirku sebagai temanmu di situs jejaring sosial. Segitu besarkah keinginanmu untuk memusuhiku? Aku marah, dan lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa.
Aku sebenarnya marah ketika aku mulai berdamai dengan keadaan, tiba-tiba kamu datang memberi harapan yang pastinya hanya sebatas ucapan. Ketika kamu mendapatiku telah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, kamu berusaha untuk menyambung tali pertemanan kita lagi. Lalu kamu menyuruhku untuk bersabar menunggu, sembari berkata semua akan indah pada waktunya. Bagaimana aku tidak marah jika pada akhirnya aku mendapati hidupku hanya jalan di tempat, menunggumu dengan begitu bodohnya?
Aku sebenarnya marah ketika setelah sekian lama menghilang, lagi-lagi kamu mendadak hadir dan mengacaukan semuanya. Ketika aku benar-benar berhasil melupakan, kamu datang menawarkan kebahagiaan lagi. Sungguh aku tidak tertarik. Kamu lihat, aku udah menemukan kebahagiaanku sendiri. Harusnya kamu bisa menghargai itu, bukannya justru mebuatkan lubang tempatku terjatuh. Di mana sebelumnya kamu juga telah membutakan mataku hingga aku tidak bisa melihat jalanku sendiri. Aku benci!
Dan yang lebih membuatku marah, tiba-tiba saja kamu menghinaku dengan sebutan yang sungguh keterlaluan. Kamu menghinaku di depan kekasihku! Kamu menuduhku yang bukan-bukan. Aku tidak pernah menyangka ucapan seperti itu keluar dari kamu. Aku berusaha untuk meminta penjelasan tapi, huh, aku tidak mendapat apa-apa. Ternyata kamu ngga lebih dari seorang lelaki pengecut. Kamu selalu memberiku banyak alasan untuk marah.
Hingga pada akhirnya, setelah berbulan-bulan lamanya, kamu datang lagi. Aku bisa menebak apa yang terjadi. Kamu pasti bertengkar lagi dengan kekasihmu, dan kamu menjadikanku sebagai pelarianmu. Lagi. Untuk kesekian kali. Ironis ya..
Pada akhirnya kamu berkata bahwa kekasihmu atau ‘temanmu yang jauh lebih baik dariku’ seperti kata kamu dulu, ternyata bukan orang yang seperti kamu harapkan. Katamu dia terlalu menggenggammu. Katamu dia terlalu menguasaimu. Katamu dia bertindak sesuka-hatinya tanpa pernah menghargai perasaanmu sedikitpun. Katamu orangtuamu pun sebenarnya tidak suka dengan sifat arogansinya di acara wisudamu beberapa waktu yang lalu. Bahkan katamu ternyata dialah yang telah menyabotase hapemu dan mengirimkan sms yang dulu pernah menyakitkan hatiku. Dia yang menghinaku? Mengata-ngatai aku? Kenapa sekarang kamu justru mengkambinghitamkan pasanganmu? Kenapa kamu baru menjelaskan sekarang. Kenapa? Oke. Aku tidak peduli pernyataan kamu benar atau tidak. Tapi aku tidak habis pikir bagaimana kamu tega mengumbar semuanya hanya untuk mendapatkan simpatiku lagi? (dan aku juga tidak habis pikir bagaimana emosinya aku ketika menulis tulisan ini. Tapi tentu saja tulisan ini tidak bermaksud untuk menyindir dia. Ini hanya tentangmu)
Pada akhirnya aku juga harus berkata bahwa aku lelah menjadi pemeran pembantu dalam skenario drama murahanmu. Aku lelah hidupku berkisar hanya tentangmu dan tentangmu. Tidak bisakah aku menyutradarai kisahku sendiri? Tidak bisakah aku lepas dari segala hal yang berhubungan tentangmu? Tidak letihkah kamu berlari dan menghampiriku ketika kamu jenuh dengan duniamu? Kenapa harus menghindar? Bukankah hidup itu pilihan. Ya, bagaimana hidupmu selanjutnya tergantung dari jalan yang kamu pilih sekarang. Kamu sudah dewasa. Harusnya kamu bisa memilih mana yang terbaik untuk hidupmu. Tapi ingat, semua pilihan itu punya konsekuensinya masing-masing. Jika kamu memilih untuk terus bersama dia, ya, itu pilihanmu. Berarti kamu harus bisa menerima dia apa adanya dengan segala sifat dan sikap yang mau tidak mau harus kamu terima. Bisa saja kamu mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Atau kamu bisa saja meninggalkannya. Semua itu pilihan, hunny. Ayolah, berhenti mengeluh tentang dia terhadapku. Berhentilah menjadikanku sebagai pelarianmu. Hadapi kenyataan hidupmu. Kamu tidak harus selalu punya apa yang kamu inginkan.
Lalu aku?
Ya, ini pilihanku. Pintu sedari dulu sudah tertutup, hunny. Di sini bukan lagi tempatmu berpulang. Di sini tak lagi jadi rumahmu. Aku tidak menyesali semuanya. Justru aku berterimakasih karena pada akhirnya aku mendapati diriku jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Semua ini berkatmu. Yang secara kamu sadari atau tidak, kamu telah mengajariku bagaimana caranya untuk lebih kuat dan juga lebih bijaksana. Sakit memang awalnya. Tapi, aku tidak membiarkan penderitaan itu jadi akhir dari segalanya.
Jadi, tenang saja. Aku sudah belajar sedikit tentang kehidupan. Aku tidak akan mencari orang yang tidak jauh lebih baik dari kamu. Kamu tidak perlu khawatir. Siapapun kelak yang menjadi pasanganku, kamu harus bisa menghargainya dan berbesar hati mengakui bahwa dia jauh lebih pantas darimu. Belajarlah untuk itu.
Yang pernah dan telah berhenti mencintaimu,
Winda Asnita Siahaan
Mantan kekasih yang hilang datang
Ungkapkan besarnya penyesalan
Bagaimana dia menghancurkan aku
Percayalah kau tak aku sesali
Awan hitam menghantui langkahmu
Bagaimana mungkin jika itu pilihanmu
Di sini tak lagi jadi rumahmu
Relakanlah semua berakhirlah sudah
Dan biarkan bintang menuntunmu pulang
Kau tak slalu bisa punya yang kau inginkan
(Mantan Kekasih – Sheila on seven)
Ungkapkan besarnya penyesalan
Bagaimana dia menghancurkan aku
Percayalah kau tak aku sesali
Awan hitam menghantui langkahmu
Bagaimana mungkin jika itu pilihanmu
Di sini tak lagi jadi rumahmu
Relakanlah semua berakhirlah sudah
Dan biarkan bintang menuntunmu pulang
Kau tak slalu bisa punya yang kau inginkan
(Mantan Kekasih – Sheila on seven)
nb: "Hei, bisa ngga sih kamu berhenti memanggilku 'sweety'? :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar