Sabtu, 25 Agustus 2012

Apa kabar kamu?

Hei, apa kabar?
Sudah lama ternyata sejak pertemuan kita yang terakhir. Apa kamu masih tetap sama seperti sebelumnya? Maksudku, apa perasaanmu masih tetap sama seperti yang kamu ucapkan terakhir kali?

Aku rindu kamu.
Iya, dipisahkan kejamnya jarak ribuan kilometer membuatku tidak punya alasan untuk tidak menyimpan rindu. Aku merasa aku sedang disiksa dengan yang namanya hubungan jarak jauh sementara. Ketika aku terbiasa menjalani hari dengan senyumanmu yang memberi semangat, sekarang aku mendapati bahwa aku merasa kehilangan. Ketika aku terbiasa mendengarmu tertawa karena tingkahku yang menggemaskan, sekarang hanya ada emotikon titik dua tambah alfabet D di pesan singkat di ponselku. Semuanya berubah, Sayang, dan aku tidak terbiasa. Belum mungkin. Tapi aku selalu ingat pesan kamu, semua ini hanya sementara kan?

Aku selalu mengawali hariku dengan membawa nama kamu di dalam doaku. Kelak Dia selalu menjagai dan mengawasi kamu. Aku menjadikan foto-foto kita sebagai anestesi ketika aku tersakiti penyakit rindu itu. Bahkan malam hari ketika hendak tidur, aku selalu mendengarkan rekaman pembicaraan kita di hari terakhir kita bertemu, yang tanpa sepengetahuan kamu aku rekam diam-diam. Terkadang aku merasa lucu sendiri ketika mendengar rengekan kamu yang sangat manja di rekaman itu. Mungkin berat buat kamu ketika kita harus berpisah sementara.

Oh iya, belakangan ini aku punya hobi baru, lho. Kamu tahu apa? Menunggu bapak pos! Iya, setiap pagi aku menungguinya di teras rumah. Sejak kita memutuskan untuk saling memberi kabar lewat surat, aku selalu menunggu bapak pos tiap pagi. Aku tidak sabaran membaca tulisan kamu. Aku tidak sabaran ingin tahu apa yang kamu rasakan. Kamu bisa bayangkan bagaimana aku jingkrak kegirangan ketika pada akhirnya suratmu sampai di tanganku. Karena pada akhirnya aku bisa melihat dengan jelas tulisan tangan kamu yang penuh dengan nada-nada rindu di setiap guratannya. Tapi aku juga pernah kecewa ketika bapak pos yang aku tunggu-tunggu datang bukan untuk membawakan surat rindu itu, melainkan sepaket fat-lose yang aku pesan lewat online-shop.

Hei, kamu.
Aku begitu merindukan kamu. Merindukan kita.
Aku benci melalui hari-hariku dengan mengais-ngais kenangan antara aku dan kamu.
Aku benci ketika pesanku tidak tersampaikan dengan baik oleh sang operator telepon seluler. Pending, katanya. Ah, aku benci pernah jauh dari kamu, walaupun hanya sementara.

Apa kabar kamu?
Huh. Aku rindu.
Sampai bertemu kembali ya..

Cerita 21 Agustus
bidadari kamu,
WindaAsnita :)

kamu dan aku

Tidak ada komentar: