Jalanan di sepanjang jalan Kaliurang hingga GSP macet banget sejak dua hari lalu. Shelter TransJogja juga selalu penuh dan sesak. Aku bisa bayangin betapa banyaknya calon mahasiswa yang mengorientasikan diri untuk menuju Yogyakarta, khususnya UGM, dengan membawa asa, cita, dan cinta yang mereka miliki. Dan yang pastinya untuk diperjuangkan dan dipertaruhkan demi masa depan mereka, atau mungkin demi sesuatu yang menjadi motivasi tersendiri bagi mereka masing-masing. Ya, mungkin saja mereka ikutan seleksi masuk PTN itu karena suatu hal yang tidak pernah kita sangka. Terkadang, menilik sesuatu hal dari sisi lain itu seru juga lho :)
Misalnya, aku!
Aku pernah terobsesi memilih Bandung sebagai kota tempatku kelak menyandang status mahasiswa.
"Universitas apa saja. Yang penting Bandung!" jawabku setiap kali ditanya aku akan melanjut ke mana. Tentu saja sebagian dari mereka yang kenal baik denganku, paham maksudku menjawab demikian. :) Ya walaupun pada akhirnya aku mengikuti seleksi masuk PTN hanya karena 'dipaksa' (mungkin istilahnya seperti itu) oleh pamanku. Tentu saja tujuannya baik. Dia ngga terlalu yakin aku bisa masuk sekolah kedinasan yang sangat 'kuimpikan' (maksudnya yang orangtuaku inginkan). Ketika pendaftaran aku mencantumkan salah satu prodi di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Bandung sebagai pilihan keduaku. Waktu itu aku terlalu pesimis lolos di pilihan pertama sehingga aku memposisikannya di pilihan kedua. Dan Tuhan berkehendak lain. Aku semakin dijauhkan dari kota Bandung. :) tradaaaaaaa dan aku tak pernah menyesal untuk itu. UGM juga ngga kalah bagus kok :')
Salah satu temanku, sebut saja namanya Kumbang (bukan nama yang sebenarnya), juga pernah mengalami hal yang sama, namun juga sedikit berbeda :D Ceritanya sama, karena dia mengikuti seleksi masuk PTN X tersebut hanya gara-gara gebetannya juga mengikuti seleksi masuk PTN itu. Waktu itu namanya UM. Tapi, ironisnya, ketika pengumuman kelulusan dia (temenku) dinyatakan diterima sedangkan orang yang menjadi motivasi dia untuk ikut itu justru tidak lulus. Nah, kalo udah gitu bisa apa coba. Apa dia memilih 'melepas' kesempatan dan mengikuti si pujaan hati? TIDAK. Dia secara jantan mengiklaskan dan menerima kenyataan bahwa pada akhirnya mereka tidak berada dalam satu kota dan satu naungan perguruan tinggi yang sama.
Temenku yang lain, sebut saja namanya Mawar (juga bukan nama yang sebenarnya), memiliki cerita yang berbeda. Si Mawar memilih perguruan tinggi Y karena dia dihasut oleh teman-temannya. Sedikit mengerikan memang, karena pada akhirnya aku tahu si Mawar tidak nyaman lagi kuliah di PT Y jurusan Z tersebut. Kabarnya sih dia nyoba lagi tahun ini. Ya, semoga aja kali ini dia bisa memilih sesuai dengan hati nuraninya.
Sekarang udah jelas kan, motivasi setiap orang mengikuti seleksi masuk PTN itu boleh beda-beda. Tapi, harapannya, kita tetep harus memberi yang terbaik untuk studi dan masa depan kita. Iya ngga? :)
Nah, beranjak dari sisi lain, aku mau sedikit cerita tentang kerinduanku mengikuti salah satu masa seleksi masuk PTN. Aku kangen belajar bareng atau lebih tepatnya ada yang ngajarin materi ujian. Aku kangen ditemenin ngeliat lokasi ujian waktu H-1. Celingak-celinguk ngeliat denah dan menyesuaikan nomor ruangan dan nomor urut. (Di SMAN 11 kalau ngga salah ya?) Aku kangen didoain dan dianterin berangkat ujian. Setidaknya sebelum ujian berlangsung ada yang nemenin cerita-cerita biar ngga keliatan bego sendirian di antara orang-orang yang ngga dikenal. Ketawa bareng, seakan-akan ngga punya beban bentar lagi ada ujian. Hahaa.. Terus waktu istirahat ada yang bela-belain nganterin sarapan. Waktu itu sih sarapannya nasi kuning. Aku masih ingat banget :D kita berdua duduk di dekat parkiran, terus kamu nemenin aku sarapan :D Terus gitu ujian selesai udah ada yang nungguin di parkiran. Haha. Ceritaku sedikit ambigu deh. Aku kangen masa-masanya atau kangen personalnya :D
Mungkin aku cuman lagi kangen kamu kali ya..
Walaupun pada akhirnya aku ngga lolos, seengganya kamu udah mau nemenin aku. Makasi banyak lhoo.
Hmm,
makasih Tuhan.
Kau meletakkanku di tempat yang tepat.
Mungkin aku telat menyadari
Tapi aku ngga akan pernah menyesalinya
buatku UGM yang terbaik
:)
Giving my thanks,
Winda Asnita :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar