Sama seperti ketika berkata-kata dengan lidah, demikian juga halnya dengan tulisan. Jangan menulis apapun dengan keadaan darah mendidih. Menulislah dengan kepala dingin. Karena tulisan apapun yang ditulis dalam keadaan yang tidak nyaman, tidak akan enak dibaca. Bisa jadi tulisan tersebut justru akan penuh dengan luka. Sumpah serapah. Putus asa.
Beberapa minggu lalu, dalam keadaan yang tidak mengenakkan, aku hampir saja menulis "aku tidak akan pernah menulis apapun lagi di sini". Waktu itu lagi kesal tingkat dewa ketika membaca tulisan-tulisan yang membahagiakan yang keadaannya tidak sama saat aku membaca ulang tulisan tersebut. Aku berupaya menguasai diri. Aku mengurungkan niat. Ya, aku tidak menulis, bahkan sekitar empat bulan lebih.
Hingga suatu saat, ketika lagi nongkrong bertiga bareng anak kesayangan Pak Congkok, Iip nyeletuk begini, "Kamu masih sering nulis di blog?". Pertanyaan yang kujawab dengan gesture diam. Dalam hati langsung mikir-mikir-mikir-mikir, memang sudah lama sekali tidak menyentuh halaman ini. "Teruslah menulis. Bagus itu menulis tentang cerita sehari-hari. Perjalanan kehidupan." Aku mengiyakan dalam hati.
Bagiku menulis adalah bercerita. Menulis adalah caraku untuk mengungkapkan perasaanku. Aku tidak mudah untuk berkomunikasi secara lisan, tidak mudah untuk berbagi dengan orang lain, apalagi dengan kata-kata. Menulis adalah mediaku. Sampai duduk di bangku kuliahpun aku masih rajin menulis buku harian. Klise, bukan?
Empat bulan menghilang. Empat bulan yang berat. Empat bulan yang penuh pembelajaran.
Masalah tentang skripsi. Masalah tentang kost. Masalah tentang pasangan. Masalah tentang tidak bisa pulang ke Padangsidimpuan. Masalah kekhawatiran Bapak yang tidak kunjung sembuh.
Semuanya lewaaaaattttt. Aku selalu bilang "All iz well, All iz well". Aku selalu percaya bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku." Masalah memang tidak lantas selesai begitu saja. Tapi aku belajar bagaimana untuk tetap kuat menatap hari, tetap semangat menjalani hidup. Masalah tidak boleh membuatku menjadi lemah sedikitpun.
Dua puluh tahun dari sekarang, jika koneksi internet masih ada, ketika aku membaca tulisanku kembali mungkin itu bisa menjadi hal yang menyenangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar