Dear, berat badan,
hai!
Kamu datang juga
Setelah lama aku kehilanganmu, akhirnya kamu datang kembali. Dengan suasana yang berbeda tentu saja. Dari mana saja kamu? Marah ya? Ngambek ya? Ah, harusnya hal sesepele itu tidak usah diambil pusing.
Kita memang sempat menjadi musuh untuk beberapa saat. Yang dengan sengaja aku berkeinginan untuk mengenyahkanmu dari kehidupanku. Kamu cukup mengganggu, membuatku sedikit risih.
Mereka meledekku!
Mereka selalu mengata-ngatai!
Aku terlalu bulat. Pipiku memakan tempat. Daguku sudah tidak terlihat.
Kasihan baju-baju kecilku, teronggok sepi di lemari. Tidak pernah tersentuh lagi.
Segala usahaku tidak berhasil memusnahkanmu. Hingga pada akhirnya kau pergi sendiri tanpa permisi. Dalam jeda waktu yang sangat singkat akhirnya aku kehilanganmu tanpa ada jawaban dari setiap pertanyaaan mengapa dan kenapa bisa. Ah, hidup memang susah untuk diterka. Tapi aku sungguh tidak menyesali dan juga tidak terlalu berucap syukur. Perasaanku biasa saja waktu itu. Tapi mungkin berbeda dengan baju-baju kecilku yang sempat terabaikan di sudut lemari-lemariku. Mengapa kamu tidak mencoba untuk bertanya pada mereka?
Lalu...
Ah, terkadang rasanya begitu sulit untuk berkata jujur. Tapi, ya, aku merindukanmu. Karena separuh aku adalah kamu, daging dan tubuhku. Pada akhirnya aku sedikit menyesali kepergianmu yang entah apa alasannya akupun tidak tahu.
Mereka mulai membandingkan!
Mereka mempertanyakan!
Rasanya jadi serba salah. Kata mereka aku terlihat lebih baik ketika kamu masih ada dalamku. Ya, begitulah manusia, aku memaklumi. Lalu aku kembali mengundangmu hadir (lagi) di hidupku, dalam ragaku lebih tepatnya. Kamu tidak tahu, sih, bagaimana gigihnya perjuanganku untuk mendapatkanmu lagi. Coba saja tanya pada dinding kamarku kalau kamu tidak percaya.
Dan...
Tradaaaa!!!
Kamu datang lagi, sayang!
Kamu ada lagi dalam tubuhku. Aku senang! Dengan kata-kata yang tidak terdefenisikan. Aku berlebihan? Itu sih terserah kamu menilainya bagaimana, tapi sungguh aku hanya mengapresiasi usaha-usaha yang telah kulakukan untuk mendapatkanmu lagi. Ternyata sama sekali tidak sia-sia.
Hmm...
Tetaplah seperti ini, sayang. Jangan bertambah lagi.
Tetaplah seperti ini. Jangan membengkak lagi.
Sebentar lagi aku akan bertemu dengan kekasihku. Tidak lucu kan ketika kamu terus berkembang hingga lengannya tak kuasa memeluk tubuhku secara penuh. Walaupun aku tidak menginginkan seperti itu, tapi kamu mengerti kan maksudku?
Jangan bertambah lagi ya.
Cukup seperti ini saja.
Aku senang kok.
Ciyus.
Aku tahu,
aku seharusnya belajar untuk mengucap syukur atas apapun yang ada dalam diriku dan tubuhku.
Bagaimanapun bentuknya, tetap saja aku bakal terlihat cantik sebagaimana biasa.
Keluargaku, kekasihku, sahabatku, dan siapapun yang menyukaiku berkata seperti itu. Jadi kenapa harus takut. Mereka seharusnya bisa menerimaku apa adanya.
Hmm...
Tetaplah seperti ini, sayang. Jangan bertambah lagi.
Tetaplah seperti ini. Jangan membengkak lagi.
Sebentar lagi aku akan bertemu dengan kekasihku. Tidak lucu kan ketika kamu terus berkembang hingga lengannya tak kuasa memeluk tubuhku secara penuh. Walaupun aku tidak menginginkan seperti itu, tapi kamu mengerti kan maksudku?
Jangan bertambah lagi ya.
Cukup seperti ini saja.
Aku senang kok.
Ciyus.
Aku tahu,
aku seharusnya belajar untuk mengucap syukur atas apapun yang ada dalam diriku dan tubuhku.
Bagaimanapun bentuknya, tetap saja aku bakal terlihat cantik sebagaimana biasa.
Keluargaku, kekasihku, sahabatku, dan siapapun yang menyukaiku berkata seperti itu. Jadi kenapa harus takut. Mereka seharusnya bisa menerimaku apa adanya.
Ya, terimakasih banyak Semesta,
Winda Asnita,
perempuan dengan berat badan 49kg


Tidak ada komentar:
Posting Komentar