Senin, 12 Desember 2011

Yogyakarta, 11 Desember 2011


Kepada siapapun aku bercerita, dengarkanlah

Aku hanya butuh seseorang untuk mendengar ceritaku

Aku terbangun pagi ini karena sengatan tajam sinar matahari. Aku bangun jam tujuh lewat. Padahal biasanya setengah lima aku udah bangun. Aku mendapati tubuhku dengan wajah masih penuh riasan make-up, gaun putih yang kupake buat festival tadi malam, mata yang sedikit membengkak, perut keroncongan, dan kamar yang penuh dengan baju-baju yang berserakan.

Apa yang terjadi tadi malam? Kenapa rasanya ada sesuatu yang tidak mengenakkan?

-----

Siapa yang mau jadi benalu di kehidupan orang lain? Siapa yang ngga mau menjadi perantara berkat untuk orang lain? Terkadang memang ngga ada pilihan yang sesuai dengan keinginan kita. Tapi, mau ngga mau kita harus tetap melangkah dengan pilihan yang mungkin menurut kita tidak tepat, tapi tidak ada opsi selain terus berjalan. Berlangkah mundur sama dengan pecundang.


Beberapa hari ini aku sedih. Kenapa hidupku rasanya berbeda? Belakangan ini aku melangkah sendirian, ngga ada lagi yang namanya teman seperjalanan. Semua orang rasanya menjauh. Kupikir, aku masih beruntung. Di saat semua orang menjauh, di saat satupun ngga ada yang ngertiin aku, tapi masih tersisa satu teman yang mau berjalan di sampingku.

Oke. Aditya. Itu namamu. Terimakasih udah mau menjadi temanku.

Tapi Tuhan, bagaimanapun juga aku lebih nyaman jadi diriku sendiri ketimbang aku harus merubah sifatku hanya supaya aku diterima oleh orang-orang di sekitarku. Aku lebih senang menjalani hidupku dengan apa adanya aku. Bukan dengan aku sebagai imitasi orang lain. 

Untuk beberapa saat lamanya aku ngga peduli. Orang-orang membenciku aku ngga peduli. Orang-orang berkata apa aku ngga peduli. Inilah aku. 

Tapi tapi tapi..

----

Satu-satunya temanku yang tersisa juga udah pergi ninggalin aku. Adit udah ngga sama kyk dulu lagi. Dia benar-benar udah ngga peduli sekarang. Bahkan di saat aku benar-benar butuh, dia ngga ada. Seperti tadi malam :(

Tidak ada komentar: